Jumat, 10 Juni 2011

Siapakah Wanita Yang Pertama Masuk Surga?


Pernahkah terbersit dalam pikiran anda untuk bertanya “Siapa sih wanita yang pertama masuk surga di akhirat kelak?”. Sebuah pertanyaan iseng yang kalo dipikir-pikir sih ternyata membuat kita penasaran juga ya. Jika anda penasaran (seperti juga aku ketika itu), maka anda sama penasarannya dengan Siti Fatimah, putri Rasulullah Saw. Ia berniat menanyakan hal ini kepada ayahandanya.
Lalu, apakah anda menduga bahwa wanita yang pertama masuk surga itu adalah Siti Fatimah? Atau ibunda beliau Siti Khadijah, atau Siti Aisyah ataukah salah satu dari keluarga Rasulullah Saw lainnya? Mmm. Jika iya, jawaban anda ternyata salah. Inilah hebatnya Islam, tidak mengenal istilah ‘nepotisme’ (hehehe). Dalam sebuah ceramah agama, akhirnya aku tahu, ternyata wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Anda kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.

Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Mmm, pencarian pun dimulai, sodare-sodare…
Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah tersebut. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa. Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali.
Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
untitled-3-copyMenurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”
“Masya Allah… Subhanallah…”

Siapakah Wanita Yang Pertama Masuk Surga?

Pernahkah terbersit dalam pikiran anda untuk bertanya “Siapa sih wanita yang pertama masuk surga di akhirat kelak?”. Sebuah pertanyaan iseng yang kalo dipikir-pikir sih ternyata membuat kita penasaran juga ya. Jika anda penasaran (seperti juga aku ketika itu), maka anda sama penasarannya dengan Siti Fatimah, putri Rasulullah Saw. Ia berniat menanyakan hal ini kepada ayahandanya.
Lalu, apakah anda menduga bahwa wanita yang pertama masuk surga itu adalah Siti Fatimah? Atau ibunda beliau Siti Khadijah, atau Siti Aisyah ataukah salah satu dari keluarga Rasulullah Saw lainnya? Mmm. Jika iya, jawaban anda ternyata salah. Inilah hebatnya Islam, tidak mengenal istilah ‘nepotisme’ (hehehe). Dalam sebuah ceramah agama, akhirnya aku tahu, ternyata wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Anda kaget? Sama seperti Siti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga.

Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Siti Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Beliau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Mmm, pencarian pun dimulai, sodare-sodare…
Setelah bertanya-tanya, akhirnya Siti Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah tersebut. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Siti Fatimah berkunjung bersama dengan anaknya yang masih kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog.
“Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah”
“Oh, iya. Ada keperluan apa?”
“Saya hanya berkunjung saja”
“Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?”
“Saya bersama dengan anak saya, Hasan?”
“Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki”
“Tetapi Hasan masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya”
“Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi.
Keesokan harinya, Siti Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin.
“Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan”
“Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!”
“Dia perempuan?”
“Bukan, dia lelaki”
“Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.”
“Tetapi dia juga masih anak-anak”
“Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!”
“Baiklah” Kembali Siti Fatimah kecewa. Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali.
Akhirnya hari esok pun tiba. Siti Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Siti Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut.
untitled-3-copyMenurut Siti Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Siti Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya.
“Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!”
“Ada keperluan apa?”
“Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya”
“Oh, begitu”
Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk.
“Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran.
“Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu”
Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!”
“Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya”
“Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?”
“Saya hanya memerlukan keridloannya. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan sang suami ridlo kepada istrinya”
“Ya… ternyata inilah rahasia itu”
“Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran.
“Rasulullah Saw mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.”
“Masya Allah… Subhanallah…”

Kamis, 09 Juni 2011

Cara berbicara yang baik

Menjadi lawan atau teman bicara bukan sekedar bisa berbicara dan mendengarkan lawan bicara saja. Jika Anda salah menanggapi, bisa jadi lawan bicara Anda bukannya suka tapi malah sebal. Apalagi jika tanggapan Anda terkesan sok tahu dan menggurui. Begitu juga jika Anda cuma mendengarkan dan mengangguk-angguk tanpa sepatah kata pun. Sikap seperti ini mengesankan Anda sama sekali bukanlah teman bicara yang mengasyikkan.Ada aturan dan kiat tersendiri agar orang lain merasa nyaman bercakap-cakap dengan Anda.
1.Kenali gaya lawan bicara
Mana mungkin Anda bisa menjadi teman bicara yang menyenangkan bila Anda tidak mengenal siapa yang Anda ajak bicara? Seandainya belum mengenal, tentu tidak ada salahnya bila Anda minta kenalan lebih dulu. Ingat, jangan sampai melupakan nama teman bicara Anda. Sebab, dengan disebut namanya, seseorang akan merasa lebih dihargai. Sebaliknya jika Anda lupa namanya, ia merasa bahwa Anda tidak antusias dengannya. Dia pun akan menganggap Anda tidak menghargainya.
2.Sesuaikan diri dengan lawan bicara
Dalam hidup ini, tentu Anda telah berbicara dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya, usia, tingkat ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Konsekuensinya, tiap pembicaraan memiliki ciri dan kepekaan tersendiri. Tentu saja Anda harus bisa membedakan saat berbicara dengan bos atau dengan office boy. Perhatikan pilihan kata yang mungkin tidak dimengerti lawan bicara. Jangan menggunakan istilah teknis atau yang terlalu ilmiah jika Anda berbicara dengan mereka yang memang tidak memahami ‘bahasa susah’. Ingat, semakin banyak kata-kata Anda yang tidak dimengerti, lawan bicara semakin tidak nyaman bicara dengan Anda.
3.Beri kesempatan lawan bicara
Selama ini banyak yang tanpa sadar mendominasi pembicaraan hingga melupakan keberadaan lawan bicara. Hingga Anda terkesan memonopoli pembicaraan. Akibatnya, teman bicara cuma dijadikan sebagai pendengar pasif. Kecenderungan ini bisa terjadi bila terlalu banyak yang hendak Anda ungkapkan. Akibatnya arah pembicaraan pun jadi tak jelas. Maka beri jeda sejenak setiap kali Anda bicara lalu berikan kesempatan lawan bicara untuk menanggapi. Interaksi semacam ini akan membuat lawan bicara merasa nyaman dan dihargai.
4.Hindari kebiasaan memotong lawan bicara
Jangan kebiasaan memotong pembicaraan di saat rekan Anda masih bicara. Jika Anda ingin memberi komentar, tahan diri sampai ia menyelesaikan pembicaraan atau paling tidak sampai ia memberi Anda kesempatan berbicara. Seandainya Anda tidak setuju dengan pembicaraannya, jangan langsung mengatakan ketidaksetujuan secara langsung misalnya, “Saya tidak setuju…” atau “Anda salah…” Lebih baik Anda mengatakan, “Menurut saya lebih baik jika….”. Cara seperti akan membuat lawan bicara lebih menghargai Anda.
5.Jadilah pendengar yang baik
Jangan cuma lawan bicara saja yang harus mendengarkan Anda bicara. Saat ia bicara pun Anda harus menjadi pendengarnya yang baik. Simak semua ucapannya dengan seksama. Sehingga Anda bisa memahami semua pembicaraannya dan tidak terjadi missunderstanding. Dengan demikian, lawan bicara pun merasa lebih dihargai oleh Anda.
6.Tunjukkan ekspresi sewajarnya
Jangan menunjukkan ekspresi secara berlebihan. Misalnya jika lawan bicara menceritakan hal sedih, Anda sampai menangis tersedu-sedu. Atau jika ia menceritakan tentang kemarahannya, Anda mendadak marah dengan wajah merah padam. Hal ini akan membuat lawan bicara memandang aneh pada Anda. Tunjukkan ekspresi yang wajar. Yang terpenting adalah Anda dapat memahami lawan bicara dengan menunjukkan ekspresi yang iapun tahu bahwa Anda memahaminya.
7.Jaga kontak mata
Fokuskan tatapan Anda pada lawan bicara. Karena pandangan Anda yang berkeliaran kesana kemari saat diajak bicara menunjukkan bahwa Anda tidak antusias dengan pembicaraannya. Bisa-bisa ia akan menganggap Anda meremehkannya. Tapi bukan berarti Anda harus melototi lawan bicara terus menerus. Mengalihkan kontak mata sesekali tidak masalah, tapi jangan terlalu sering dan jangan terlalu jauh membuang pandangan. Hal ini akan membuat Anda seperti orang yang melamun saat diajak bicara.
Nah dengan demikian Anda telah menguasai teknik berkomunikasi dengan baik. Anda pun telah menjadi lawan bicara yang menyenangkan. Dan menjadi lawan bicara yang menyenangkan akan mempermudah lajunya karir Anda loh. Karena bagaimana karir anda bisa berjalan mulus, jika diajak bicara oleh bos saja Anda sama sekali tidak memberikan rasa nyaman? So, mulai sekarang pelajari kiatnya, agar Anda menjadi teman bicara yang menyenangkan..!

Rabu, 08 Juni 2011

syukur

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah ·Ta’ala· berfirman, وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ “·Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.·” (QS. Ali Imron: 145) وَإ...ِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ “·Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.·” (QS. Ibrahim: 7) ·Ya Allah, anugerahkanlah kami sebagai hamba -Mu yang pandai bersyukur pada-Mu dan selalu merasa cukup dengan segala apa yang engkau beri.

Gimana cara menjadi lawan bicara yang menyenangkan

Ketika berbicara face to face dengan seseorang kita harus terlihat antusias dan harus menunjukkan sebagai partner bicara yang baik dan menyenangkan. Akan tetapi masalah yang sering kita hadapi setiap kali kita bertatapan langsung dengan mata lawan bicara tersebut, seketika itu pula timbul rasa tidak nyaman, grogi dan bahkan salah tingkah.
Menjadi teman berbincang yang menyenangkan bisa dibilang susah-susah gampang. Apalagi dengan orang yang baru dikenal. Itu bukti bahwa tidak semua orang betul-betul menguasainya, walau sebenarnya hampir setiap waktu tak lepas dari aktivitas komunikasi dengan orang lain.
Lalu, bagaimana menjadi teman berbincang yang baik dan menyenangkan? Berikut tips dari The Art Of Conversation yang diberitakan oleh laman Yahoo! Shine:
  1. Hindari detail pembicaraan yang tidak penting
    Terkadang dalam sebuah perbincangan seru, Anda akan merasa terpojok terhadap pertanyaan-pertanyaan yang mendetail mengenai diri Anda atau sebuah kasus. Jika Anda menganggap hal tersebut tidak penting untuk dibicarakan, Anda tidak harus menjelaskannya. Namun, jangan pernah mengalihkan perbincangan karena akan mengubah suasana komunikasi yang telah tercipta.
  2. Jangan menanyakan pertanyaan lain jika pertanyaan sebelumnya belum selesai dijawab
    Jika Anda menanyakan pertanyaan mengenai salah satu sisi kehidupan dari lawan bicara Anda, jangan langsung loncat pada topik pembicaran lain mengenai diri Anda sebelum hal tersebut terjawab. Selain akan membuat Anda terlihat egois, lawan bicara Anda pun akan malas melanjutkan perbincangan dengan Anda.
  3. Jangan memotong seseorang yang sedang berbicara
    Ceritakan hal yang ingin Anda perbincangkan dengan jelas dan tidak bertele-tele, serta jangan pernah memotong lawan bicara. Dengan begitu Anda memberikan kesempatan pada lawan bicara Anda untuk mengutarakan pendapatnya. Perbincangan seru dua arah pun akan mudah terbentuk.
  4. Jangan bertentangan, khususnya jika hal tersebut tidak penting
    Perbincangan tidak akan pernah luput dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut seseorang. Namun, jangan pernah ngotot jika hal tersebut tidaklah penting untuk dibicarakan.
  5. Jangan menguasai perbincangan
    Tanyakan pertanyaan untuk mengetahui kesamaan di antara kalian. Jangan pernah egois dalam sebuah perbincangan. Perbincangan dua arah antara kalian akan membuat perbincangan semakin seru, dan Anda pun akan menemukan banyak kesamaan dengan lawan berbicara Anda.
  6. Jangan selalu menjadi pahlawan dari setiap cerita
    Bangunlah perbincangan yang seimbang. Jangan selalu bercerita tentang Anda, kehidupan Anda, teman Anda, dan apapun mengenai Anda.
  7. Pilihlah topik sesuai keinginan bersama
    Bacalah topik yang menarik untuk diperbincangkan dengan lawan bicara Anda. Jangan berbicara tentang politik jika Anda mengetahui lawan bicara Anda bukanlah orang politik.
  8. Jadilah pendengar yang baik
    Dengan menjadi pendengar yang baik, Anda dapat membangun topik-topik perbincangan yang seru dengan lawan bicara Anda.
  9. Perbincangan harus seharmoni dengan lingkungan
    Perhatikan keadaan sekitar, terkadang kondisi di sekitar kalian bisa menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan.
  10. Jangan terlalu membesar-besarkan cerita
    Ceritakan sebuah cerita sesuai fakta yang ada. Gunakan nada bicara dan ekspresi yang sesuai unuk menggambarkan cerita tersebut.
Salah tingkah akibat grogi saat bicara dengan orang lain tentu menimbulkan rasa serba salah bagi kita, di satu sisi bila wajah dan tatapan mata kita tidak ditujukan ke lawan bicara ini tentu menimbulkan kesan tidak sopan dan tidak memperhatikan, tapi bila kita terus melakukan kontak mata secara langsung rasa grogi dan salah tingkah tetap akan muncul.
Untuk menghindari grogi dan salah tingkah bahkan sampai menundukkan kepala akibat grogi ketika habis saling bertatapan mata. Maka ada kiat yang sangat jitu yang patut dicoba, yaitu ketika berbicara dengan lawan bicara kita, arahkanlah tatapan mata Anda di wilayahtriangle face yang meliputi dahi, gelembung pipi dekat hidung dan wilayah bibir kiri-kanan.

Pengalaman Penerapan
Tentu saja hasil positif dari keberhasilan menggunakan tips ini akan sangat membantu kita dalam melakukan pembicaraan yang berhasil, terutama ketika sedang menerima curhat dari teman, pemberian pengarahan/ penjelasan kepada bawahan/atasan, negosiasi bisnis, dll yang memerlukan tingkat konsentrasi tinggi untuk menghasilkan sesuatu yang penting.
Cobalah terlebih dahulu kepada teman dekat Anda. Minta pendapatnya, apa benar dia merasa Anda sendang melihat matanya?, yang padahal saat itu misalnya kita sedang melihat ke arah keningnya, begitu seterusnya dicoba-coba dengan memindahkan arah tatapan mata kita ke hidung, dan bibir teman Anda tersebut. Tidak percaya? Silahkan mencoba… semoga berhasil…!

Selasa, 07 Juni 2011

Bersyukur itu penting

Orang yang bertaqwa, jaminannya adalah mendapatkan kemudahan, mendapatkan jalan keluar dari segala problematika dan memperoleh rizqi yang tidak terkirakan. Marilah kita selalu berusaha menjadi orang yang husnul khotimah dan berupaya menghindarkan diri dari su’ul khotimah. Hal hal yang mendorong pada su’ul khotimah kita jauhi, dan sebaliknya yang menjadikan khusnul khotimah kita upayakan dengan sekuat tenaga. Dalam hal ini ada sebuah peristiwa sejarah yang patut dijadikan i’tibar atau perlambang bagi kaum muslimin. Lihatlah yang menimpa Bal’am, seorang waliyulloh, ia dapat melihat ‘arsy dengan mudahnya, cukup dengan mendongak ke atas, ia dapat melihatnya. Ia hidup di masa Bani Israil, kaumnya nabi musa. Tak kurang dari empat ratus muridnya selalu mencatat semua nasehat-nasehatnya, namun hidupnya berakhir tragis, ia mati tidak menetapi Islam.Penyebanya ialah bermula dari orang-orang Bani Israil yang memberi iming-iming materi yang melimpah kepada Bal’am agar ia mau mendo’akan jelek kepada Nabi Musa. Karena Bal’am tidak goyah pendirianya, mereka ganti berupaya mengoda hati istrinya dengan imbalan materi yang melimpah pula. Akhirnya hati Bal’am tergoyahkan juga oleh rayuan Istri tercintanya. Disamping itu menurut suatu riwayat Bal’am semasa hidupnya dalam memeluk Agama Islam, sama sekali tidak pernah merasa bersyukur kepada Alloh swt. Di sinilah pentingnya syukur itu.

Berbagi Peran Vs Kesetaraan Gender

"Dalam konteks relasi jender,wjud pemenuhan hak ats perempuan msh merpkan prolem kemanusian yg serius. Realits sosial,kebudyaan,ekonomi n politik msih menempatkn perempuan sbgai entitas yg direndahkn. Persepsi kebudayaan msih melekatkn stereotipe yg merendahkn,mendiskriminasi n memarjinalkan mereka."satu"nya potensi perempuan yg dipersepsi kebudayaan adlh tubuhnya. Pandangan ini pd gilirannya mendasasi perpektif kebdayaan tbuh perempuan seakan sah dieksploitasi,scr intelektual,ekönomi n seksual,melalui beragam cr n bentuknya diruang privat maupun publik."Tulisan diatas diambl dari artikel Kesetaraan Jender, Memaknai Keadilan Dalam perpektif Islam. Tampaknya perlu mdapt pencermatan karena artikel trsbut nangkring di Website Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yg bs diakses smua orang. Apalgi penulis mengkaitkan dg islam. Tentang persebsi budaya trhdap wanita spt digambarkan diatas,sejatinya pd tingkat kenyataan,relatif. Mungkin ada persebsi spti itu pd sebagian masyarakat. Tetapi kultur yg memuliakan kaum perempuan,jelas lebih dominan. Persoalannya,ketika hal itu dihubungkan dg islam yg mendasar banyak aturan syari'atnya pada garis keturunan ayah. Kemudian menganggap bahwa sistem tersebut menjadi biang dari eksploitasi perempuan,ini tuduhan serius. Persoalan berikutnya,apa parameter yg dijadikan indikator pemulian terhadap kaum perempuan dan apapula indikator untuk mengukur pelecehan dan pemarjinalan terhadap mereka?Konsisten Islam dalam Menetapi Landasan Sistem. Lazimnya,sebuah sistem dibuat berdasarkan sesuatu yg berlaku umum bagi mayoritas,bukan didasarkan kepada kejadian khusus yg bersifat perkecualian. Sistem sosial,politk n kemasyarakatan dalam islam memang didasarkan kepada garis keturunan ayah,tdak ada penyandaran nasab kepada Ibu. Pembagian waris menganut prinsip bagian laki2 dua kali bagian wanita.Tetapi Islam menerapkan aturan itu secara konsisten dari hulu hngga hilir. Misalnya,dalam hubungan suami istri,laki2 bertanggung jwb untk menafkahi istri n anak2 yg lahir dari perkawinan tersebut. Istri tidak bertanggung jwb untk mencari nafkah bagi suami,anak2nya,bahkan bagi dirinya sendiri.termasuk konsekwensi yg mengikuti pula,bahwa ketika institusi keluarga tidak lagi dapat dipertahankan keutuhannya,laki2 tetap bertanggung jawab atas nafkaf n pendidikan anak2 yg lahir dari pernikahan itu,bahkan jg berkewajiban memberikan uang mut'ah,pemberian sebgai hiburan. Sehingga nafkah manta istri selama masa iddah tetap ditanggung suaminya. Setelah iddah selesai,dia tidak dibebani tanggung jawab atas anak2nya. Dengan demikian tergambar jelas konsistensi Islam,ketika memilih suatu pilihan,berarti mengambil seluruh konsukuensi logis akibat pilihan itu. Bahkan,jika mantan istri menolak menyusui dan merawat anaknya,syari'at Islam tidak menyalagkn wanita tersebut. Wanita itu bahkan boleh menyusui anaknya tadi dengan mengambil upah dari penyusuan itu. Jadi,salah besar jika syari'at Islam dikatakan'menguntungkan'kaum pria. Tuduhan itu tidak memiliki argumentasi.adakah hukum yg lebih indah dari hukumnya Allah?saatnya kita mencoba mengkaji ayat" Alqur'an dan Hadist" Rosulullah,bukan sekedar membaca dg tilawah yg indah bahkn dilombakan secara international?tiada salah bahkan itu bagus,karena Rosulullah sangat senang dan bangga pada salah satu sahabat yg membaguskan bacaan Alqur'annya.tiada salah kita bershalawat pada Rosulullah,bahkan kita dianjurkan banyak bershalawat tentunya shalawat yg disyari'atkan,karena Allah Subhanawa Ta'ala pun bershalawat pada beliau.akan lebih baik lagi jika kita menghidupkan sunnah2 beliau tentunya sunnah2 yg jelas kesahihannya. Jika kita kaji dg benar sungguh kita akan tau bahwa begitu mulianya kedudukan wanita dalam pandangan Islam.

Dusta adalah Pangkal Semua Kejahatan

*Imam Muslim pernah meriwayatkan sebuah hadist tentang Pentingnya kejujuran dan dusta yang menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda
عَنْ اَبِى بَكْرٍ الصّدّيْقِ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلبِرّ وَ هُمَا فِى اْلجَنَّةِ. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ، فَاِنَّهُ مَعَ اْلفُجُوْرِ وَ هُمَا فِى النَّارِ. ابن حبان فى صحيحه، فى الترغيب و الترهيب
*Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 591]
*Namun sayang banyak orang meremehkan peringatan tersebut. Mereka terlanjur biasa berdusta, sehingga kejujuran semakin langka. Padahal pengalaman menunjukkan bahwa orang yang berdusta akan selalu berusaha menutupi kedustaannya dengan berbagai macam cara. Sehingga sebuah dusta berpotensi melahirkan banyak kedustaan yang baru. Lebih dari itu dusta juga berpotensi melahirkan kecurangan, kekerasan, kejahatan, bahkan pembunuhan yang semuanya itu merupakan bentuk kedurhakaan (ketidak-taatan) kepada Allah.
*Saudaraku, sebagai orang beriman kita mestinya menyadari Allah mengawasi seluruh aktifitas hidup kita. Ketika mendefinisikan ihsan Rasulullah saw mengatakan
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ص بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَاَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: مَا اْلاِيْمَانُ؟ قَالَ: اَْلاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَ مَلاَئِكَتِهِ وَ بِلِقَائِهِ وَ رُسُلِهِ وَ تُؤْمِنَ بِاْلبَعْثِ. قَالَ: مَا اْلاِسْلاَمُ؟ قَالَ: َاْلاِسْلاَمُ اَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَ لاَ تُشْرِكَ بِهِ وَ تُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَ تُؤَدّيَ الزَّكَاةَ اْلمَفْرُوْضَةَ وَ تَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ: وَ مَا اْلاِحْسَانُ؟ قَالَ: اَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ، فَاِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَاِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: مَا اْلمَسْؤُلُ بِاَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ وَ سَاُخْبِرُكَ عَنْ اَشْرَاطِهَا. اِذَا وَلَدَتِ اْلاَمَةُ رَبَّهَا وَ اِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ اْلاِبِلِ اْلبُهْمُ فِى اْلبُنْيَانِ فِى خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ اِلاَّ اللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ ص {اِنَّ اللهَ عِنْدَه عِلْمُ السَّاعَةِ} ثُمَّ اَدْبَرَ. فَقَالَ: رُدُّوْهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا. فَقَالَ: هذَا جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ. البخارى
*Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Pada suatu hari Rasulullah SAW berada di tengah-tengah shahabatnya, lalu ada seorang laki-laki datang seraya bertanya, “Apakah iman itu ?”. Beliau bersabda, “Iman adalah kamu percaya kepada Allah, malaikat-Nya, bertemu dengan-Nya, (iman kepada) rasul-rasul-Nya, dan kamu percaya kepada hari berbangkit”. Ia bertanya lagi, “Apakah Islam itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Islam itu adalah kamu menyembah Allah dan tidak mensekutukan-Nya, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat yang difardlukan dan puasa Ramadlan”. Ia bertanya lagi, “Apakah ihsan itu ?”. Beliau SAW bersabda, “Ihsan ialah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat kamu”. Ia bertanya lagi, “Kapankah datangnya qiyamat ?”.  Beliau SAW bersabda, “Yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya ?. Namun aku beritahukan kepadamu tentang tanda-tandanya. Yaitu : apabila budak perempuan melahirkan tuannya, dan para penggembala unta yang miskin bermewah-mewah dan bermegah-megah dengan bangunan rumahnya. Dalam lima hal tidak ada yang mengetahui kecuali hanya Allah”. Kemudian Nabi SAW membaca ayat yang artinya (Sesungguhnya Allah, di sisi-Nya lah pengetahuan tentang hari qiyamat). Kemudian oang yang bertanya itu berpaling. Lalu beliau bersabda, “Suruhlah ia kembali lagi”. Namun para shahabat tidak melihatnya lagi, lalu beliau bersabda, “Itu tadi adalah Jibril, datang untuk mengajar manusia tentang agama mereka”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 18]
*Rasulullah saw mengingatkan bahwa Allah selalu hadir dalam seluruh aktifitas hidup kita. Kehadiran Allah itulah yang akan menumbuhkan pengawasan melekat kepada setiap pribadi muslim. Pengawasan melekat yang muncul karena iman kepada Allah dan hari akhir itu akan menjaga setiap muslim untuk tidak melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya termasuk larangan berdusta.
Apalagi Allah sendiri berfirman: “Nahnu aqrabu ilaihi min hablil-warid” (Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya.) A
*Andai semua orang tidak berdusta, maka berbagai persoalan korupsi, kolusi, dan nepotisme akan segera bisa kita tuntasan. Andai tidak ada dusta, sengketa pemilu, pilkada, pilpres dan sejenisnya tidak perlu terjadi. Kita terlalu banyak membuang energi, yang seharusnya bisa dipergunakan untuk mempercepat pembangunan negeri.
*Dalam hadis yang sama Rasulullah saw mengingatkan:
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَاِنَّ الصّدْقَ يَهْدِى اِلىَ اْلبِرّ وَ اِنَّ اْلبِرَّ يَهْدِى اِلىَ اْلجَنَّةِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَ يَتَحَرَّى الصّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدّيْقًا. وَ اِيَّاكُمْ وَ اْلكَذِبَ فَاِنَّ اْلكَذِبَ يَهْدِى اِلىَ اْلفُجُوْرِ وَ اِنَّ اْلفُجُوْرَ يَهْدِى اِلىَ النَّارِ. وَ مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَ يَتَحَرَّى اْلكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا. مسلم
*Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seseorang itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2013]
*Sumber kebaikan yang akan membawa kepada keberhasilan dunia akherat adalah jujur. Sedang pangkal kejahatan adalah dusta. Maka demi kejayaan bangsa ini, mari kita  bangun komitmen bersama untuk meninggalkan dusta dan memegang teguh nilai-nilai kejujuran.
Di atas landasan kejujuran inilah keadilan kita tegakkan, kemakmuran dan kesejehteraan kita upayakan. Bukan tidak mungkin Allah akan menganugerahkan kepada bangsa ini sebuah negeri yang tata titi tentrem kerta raharja gemah ripah loh jinawi di bawah naungan dan ampunan Ilahi. Semoga Allah memudahkan hati kita untuk memilih yang baik dan meninggalkan yang jelek, aamiin.

Kerugian Umat Akibat Perselisihan

Penyakit berat yang menguasai ummat manusia akan merobek-robek kekuatannya, menjadikannya bergolong-golong dan berpartai-partai, yang masing-masing bekerja menurut kemauannya sendiri-sendiri, setiap orang yang mempunyai pendapat, bangga dengan pendapatnya, masing-masing partai bangga dengan apa yang ada pada partainya, hingga jatuhlah ke lembah kemusyrikan, tetapi tidak menyadarinya.

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. [QS. Ar-Ruum : 31-32]
Allah SWT telah menegaskan,
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيب
Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya). [QS. Asy-Syuuraa : 13]
Ketika manusia mengabaikan perintah Allah, “Tegakkanlah agama dan jaganlah kamu berpecah-belah”, maka iblis memanfaatkan kesempatan itu, dan mengadu domba agar terjadi perseteruan diantara mereka dengan berbagai cara.
Setiap perbedaan faham, perbedaan pendapat, perbedaan golongan, dianggapnya musuh yang harus dijatuhkan, dihalalkan kehormatannya dan kalau perlu dihalalkan darahnya. Padahal Rasulullah SAW telah bersabda,
اِيَّاكُمْ وَ الظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ اْلحَدِيْثِ، وَ لاَ تَحَسَّسُوْا، وَ لاَ تَجَسَّسُوْا، وَ لاَ تَنَافَسُوْا، وَ لاَ تَحَاسَدُوْا، وَ لاَ تَبَاغَضُوْا، وَ كُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ اِخْوَانًا. اَلْمُسْلِمُ اَخُو اْلمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَ لاَ يَخْذُلُهُ، وَ لاَ يَحْقِرُهُ. اَلتَّقْوَى ههُنَا (وَ يُشِيْرُ اِلَى صَدْرِهِ). بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرّ اَنْ يَحْقِرَ اَخَاهُ اْلمُسْلِمَ. كُلُّ اْلمُسْلِمِ عَلَى اْلمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَ عِرْضُهُ وَ مَالُهُ. البخارى عن ابى هريرة
Jauhkanlah dirimu dari buruk sangka, karena buruk sangka itu sedusta-dusta omongan (hati), janganlah kamu mencari-cari aib, janganlah kamu mengintai-intai, janganlah kamu bersaing (yang tidak sehat), janganlah kamu dengki-mendengki, janganlah kamu benci-membenci. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Tidak boleh menganiaya, tidak boleh membiarkannya (tidak tolong-menolong), dan tidak boleh menghinanya. Taqwa itu di sini (sambil beliau mengisyaratkan/menunjuk ke dadanya). Seorang muslim cukup menjadi jahat karena dia menghina saudaranya sesama muslim. Tiap seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah haram darahnya, haram kehormatannya dan haram hartanya. [HR. Bukhari dari Abu Hurairah]
Perbedaan faham/pendapat tentang sesuatu hal, bisa terjadi, bahkan pada zaman Rasulullah SAW pun juga terjadi peredaan faham/pendapat diantara para shahabat beliau, tetapi tidak mengurangi rasa hormat, dan persaudaraan tetap mantap diantara mereka. Diantara mereka tidak merasa yang satu lebih daripada yang lain, dan mereka menjadikan syaithan sebagai musuh yang harus diusir jauh, agar tidak merusak hati dalam persaudaraan.
Rasulullah SAW bersabda ,
اِنَّ اِبْلِيْسَ قَدْ يَئِسَ اَنْ يَعْبُدَهُ الصَّالِحُوْنَ وَ لَكِنْ يَسْعَى بَيْنَهُمْ فِى التَّخْرِيْشِ. البخارى
Sesungguhnya iblis telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang shalih, tetapi ia tetap berusaha mengadu domba (menimbulkan permusuhan) diantara mereka. [HR. Bukhari]
Inilah yang harus diwaspadai. Kalau kita lengah dari hal ini, akan terseret dalam perangkap iblis dengan semangat perseteruan seperti yang kita lihat dalam tayangan televisi beberapa hari belakangan ini, perseteruan antara cicak dan buaya, sampai meluas kemana-mana.
Kita perhatikan, yang terlihat dalam perseteruan itu adalah para pengemban amanat pemerintahan, yang mestinya memegang teguh sumpah pemuda yang menjadi embrio proklamasi kemerdekaan negara kita. Kalau tidak segera disadari bahwa mereka itu terseret pada  perilaku iblis la’natullah, maka hal ini akan menjadi embrio hancurnya kesatuan dan persatuan bangsa dan negara kita, na’udzu billaahi min dzaalik.
Iblis memang sangat pandai menipu manusia sehingga bisa merubah pandangan perbuatan yang jahat/ma’shiyat tampak di mata manusia menjadi baik.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, [QS. Al-Hijr : 39]
Iblis tidak pandang bulu, sekalipun para pembesar-pembesar yang mengemban amanat bangsa itupun dapat tertipu juga, sehingga terjadi perseteruan yang sengit, diantara mereka saling melemparkan tuduhan kesalahan. Semoga mereka segera sadar, melepaskan diri dari cengkeraman iblis la’natullah, dan semoga Allah segera memberikan penyelesaian yang seadil-adilnya, yang benar ditampakkan kebenarannya, dan yang salah ditempakkan kesalahannya, agar rakyat negeri ini tidak bingung melihat kemelut yang terjadi.

Perselisihan Bukan karena Perbedaan Pendapat,TETAPI karena Kedengkian...

Keberhasilan Rasulullah SAW menembus medan dakwah Yatsrib (sekarang Madinah) mengundang kedengkian Ahli Kitab. Seharusnya kedatangan beliau sebagai utusan Allah disambut dengan bahagia, karena sudah lama diberitakan oleh kitab suci mereka. Merekapun telah lama menantikan kedatangan nabi terakhir, tetapi ketika nabi terakhir yang diutus bukan dari golongan mereka, muncullah kedengkian mereka dan tidak mau menerimanya. Kedengkian telah menjauhkan mereka dari hidayah, dan kedengkian itu pula yang telah menyebabkan perselihan yang berkepanjangan. Alah SWT berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. [QS Ali Imran : 19]
Perselisihan yang disebabkan karena kedengkian itu juga dapat dijumpai dalam QS Al-Baqarah : 213
كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.
dan QS. Al-Jaatsiyah : 17
وَآتَيْنَاهُمْ بَيِّنَاتٍ مِنَ الأمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ
Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); Maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian yang ada di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya.
Dalam Qur’an surat Ali Imran : 120 Allah mensifatkan orang yang mendengki itu sebagai orang yang bersedih hati ketika orang lain memperoleh kebaikan dan orang yang bergembira ketika orang lain mendapat bencana.
إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
Maka wajar kalau Rasulullah SAW menuntunkan ummat Islam untuk turut mengucapkan selamat atas keberhasilan saudaranya dan turut berempati kepada saudaranya yang sedang mendapatkan mushibah. Mestinya tertanam di dalam diri setiap orang Islam keyakinan bahwa keberhasilannya adalah keberhasilan saya, karena dia dan aku adalah saudara bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan. Kegagalannya adalah kegagalan saya, karena dia dan aku adalah saudara bagaikan satu tubuh yang bila satu bagian sakit, maka bagian yang lain ikut merasakan sakit.
Dalam sejarah tercatat adanya satu kelompok ekspedisi yang diutus oleh Rasulullah SAW ke suatu tempat. Rasulullah SAW berpesan kepada mereka untuk shalat ‘Ashar di lokasi tujuan. Namun karena sulitnya medan mereka tidak bisa sampai lokasi tersebut di waktu ‘Ashar. Sebagian anggota ekspedisi shalat ‘Ashar di perjalanan, sedang sebagian yang lain shalat ‘Ashar di lokasi tujuan. Meskipun berbeda pendapat mereka tidak berselisih. Setelah berita itu sampai kepada Rasulullah SAW, beliau tidak menyalahkan satu kelompok dan membenarkan kelompok lain. Perbedaan pendapat tidak menyebabkan mereka berselisih.
Selama hidup berulang kali terjadi perbedaan pendapat antara ‘Umar bin Khaththab dengan Abu Bakar. Karakter mereka berbeda, beberapa kebiasaanpun berbeda. Tetapi perbedaan itu tidak menghalangi ‘Umar untuk menjadi orang yang pertama membai’at Abu Bakar sebagai khalifah. Tidak ada kedengkian di hati mereka. Mereka faham bahwa kedengkian akan menghanguskan amal mereka bagaikan api yang membakar kayu hinggga habis. Bahkan bila dicampur kebencian, maka kedengkian itu akan mencukur agama mereka hingga gundul.
عَنِ الزُّبَيْرِ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: دَبَّ اِلَيْكُمْ دَاءُ اْلاُمَمِ قَبْلَكُمْ. اَلْحَسَدُ وَ اْلبَغْضَاءُ. وَ اْلبَغْضَاءُ هِيَ اْلحَالِقَةُ. اَمَّا اِنّى لاَ اَقُوْلُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَ لكِنْ تَحْلِقُ الدّيْنَ
Dari Zubair RA, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Akan menjalar kepadamu penyakitnya ummat-ummat sebelummu, yaitu dengki dan kebencian yang sangat. Dan kebencian yang sangat itu adalah pencukur. Adapun saya tidak mengatakan mencukur rambut, tetapi mencukur agama”. [HR. Al-Bazzar]

menikah

Menikah adalah saat dimana
gerbang kesucian mulai
dibentangkan

Menikah adalah saat dimana
ketidaksempurnaan bukan lagi
masalah yang mesti
diperdebatkan
...

Menikah adalah saat dimana
nyuci, nyemir, masang bohlam
nyambung kabel, nyiram
kembang, nguras bak mandi,
masak, belanja kentang, ganti
popok tak lagi dikerjakan
sendiri ,,

Menikah adalah saat dimana akar
dirajut dari benang benang
pemikiran bersama

Menikah adalah saat dimana
syariat direngkuh sebagai tolak
ukur perbuatan

Menikah adalah saat dimana
ketulusan diikatkan sebagai
senyum kasih sayang

Menikah adalah saat dimana
kesendirian dicampakkan sebagai
sebuah kebersamaan

Menikah adalah saat dimana
kegelisahan beralih pada
ketenangan

Menikah adalah saat dimana
kesetiaan adalah harga mati yang
tak bisa dilelang…

Menikah adalah saat dimana
bunga bunga bersemi pada
taman taman iman ..

Menikah adalah saat dimana
kemarau basah oleh sapaan air
hujan

Menikah adalah saat dimana hati
yang membatu lembut oleh kasih
sayang

Menikah adalah sebuah pilihan
antara jalan Tuhan dan Jalan
Setan

Menikah adalah sebuah
pertimbangan antara hidayah
dan kesesatan

Menikah adalah saat dimana suka
dan duka saling berdatangan

Menikah adalah saat dimana tawa
dan air mata saling berdendang

Menikah adalah saat dimana ikan
dan karang bersatu dalam lautan

Menikah adalah saat dimana dua
hati menyatu dalam ketauhidan

Menikah adalah saat dimana
syahwat tidak lagi bertebaran
dijalan jalan dosa

Menikah adalah saat dimana
ketakwaan menjadi teluk
perhentian

Menikah adalah saat dimana
kehangatan menyatu dalam
pekatnya malam

Menikah adalah saat dimana cinta
pada Allah dan Rasul-Nya
dititipkan

Menikah adalah saat dimana dua
hati berganti peran pada
kedewasaan

Menikah adalah saat dimana dua
jasad menambah kekuatan
dakwah peradaban

Menikah adalah saat dimana
kecantikan adalah sebuah ujian

Menikah adalah saat dimana
kecerewetan diperindah oleh
aksesoris kesabaran

Menikah adalah saat dimana
bunga bunga mulai menyemi
indah

Menikah adalah saat dimana
bidadari2 dunia turun ditelaga
telaga kesejukan

Menikah adalah saat dimana
pemahaman pemahaman mulai
disemikan

Menikah adalah saat dimana amal
amal mulai ditumbuhkan

Menikah adalah saat dimana
keadilan mulai ditegakkan

Menikah adalah saat dimana
kecemburuan adalah rona pelangi
pada awan

Menikah adalah saat dimana
syahadat menjadi saksi utama
penerimaan

Menikah adalah saat dimana
aktivitas dibangun atas dasar
ketaatan

Menikah adalah saat dimana
perbedaan ciptakan kemesraan

Menikah adalah saat dimana
istana tahajud dibangun pada
pucuk pucuk malam

Menikah adalah saat dimana
belaian bak kumbang yang
meneteskan madu madu
kehidupan

Menikah adalah saat dimana
kecupan bak mentari yang
segarkan dedaunan dari kemarau
panjang

Menikah adalah saat dimana
goresan bayang bayang yg
kulukis pada mimpi mimpi malam
berubah menjadi kenyataan

Menikah adalah saat dimana jiwa
jiwa yang lelah seharian bisa
disegarkan

Menikah adalah saat dimana
hilangnya energi kehidupan bisa
dipulihkan

Menikah adalah saat dimana kapal
yang mengarungi bahtera
kehidupan menemukan
pelabuhan

Menikah adalah saat dimana Allah
melipatgandakan kekuatan, rizki
dan kasih sayang

Menikah adalah saat dimana
kebersamaan selalu menjadi
kenyataan

Menikah adalah saat
permasalahan permasalahan
hidup tidak lagi dipecahkan
seorang diri

Menikah adalah saat saat
terindah tuk ciptakan surga
dunia akherat

Menikah adalah jalan mulia tuk
menjayakan islam dan muslimin

Menikah adalah saat dimana
kecemburuan bagai bunga bunga
indah nan harum sebagai
penyemangat dalam beribadah

Menikah adalah saat dimana
Alquran dan sunnah harus
diamalkan dalam kehidupan

Menikah adalah saat saat
terindah dimana keduanya saling
berfastabikul khairat

Menikah adalah saat dimana
kekuatan iman dan ihsan berlipat
ganda

Menikah adalah saat dimana
amalan amalan sunnah menjadi
adat yang senantiasa hidup
dalam bait bait kebersamaan

Menikah adalah saat dimana
sakinah, mawaddah warahmah
menjadi suatu hal yang muda
direalisasikan dalam kehidupan

Menikah adalah saat dimana
angin angin syurga mulai
berhembus ke relung jiwa

Menikah adalah saat dimana
cahaya cahaya syurga selalu
menyinari arah kehidupan

Menikah adalah saat dimana ridha
Allah menjadi motivasi utama dan
pertama dalam mengarungi
bahtera rumah tangga

Menikah adalah saat dimana
semua kesusahan hidup adalah
bagian dari kenikmatan yang
harus diterima dan dihadapi
dengan penuh ikhlas dan
kesabaran

Menikah adalah satu jalan untuk
menutup mata dari hal hal yang
haram dipandang

Menikah adalah saat2
mendebarkan yang begitu indah

Menikah adalah saat dimana sifat
dan sikap tercela harus
disingkirkan

Menikah adalah suatu kenikmatan
yang tiada bandingnya didunia
ini

Menikah adalah saat dimana
kebersamaan akan menghiasi
segala kesepian

Senin, 06 Juni 2011

Penyakit Zaman Akhir

Istilah wahan diungkapkan oleh Nabi saw-tatkala menjelaskan kondisi umat manusia di masa akan datang. Penyakit wahan ini menjadi penyebab utama segala keburukan dan keterpurukan umat Islam sehingga karenanya mereka menjadi bulan-bulanan musuh-musuh islam. Bahkan lebih tragis lagi, Nabi saw mengibaratkan mereka laksana makanan yang menjadi rebutan orang-orang rakus yang kelaparan.
Dari Tsauban radliyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah saw bersabda, "Akan datang suatu masa, di mana bangsa-bangsa akan mengeroyok kalian seperti orang-orang rakus memperebutkan makanan di atas meja.
Ada seorang yang bertanya, 'Apakah karena pada saat itu jumlah kami sedikit?'
Rasulullah saw menjawab: 'Tidak, bahkan kamu pada saat itu mayoritas, akan tetapi kamu seperti buih di atas permukaan air laut. Sesungguhnya Allah telah mencabut rasa takut dari musuh-musuh kalian, dan telah mencampakkan penyakit al wahan pada hati kalian'.
Seorang sahabat bertanya: 'Ya Rasulallah, apa penyakit al wahan itu?.'
Rasulullah saw-menjawab: 'Al Wahan adalah penyakit cinta dunia dan takut mati' ". (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)
Sebab-sebab Wahan
Penyakit wahan timbul karena merasuknya cinta kepada dunia ke dalam hati manusia, seperti cinta berlebih kepada harta, benda, tahta, wanita, dan lainnya. Dari kecintaan dunia yang sangat berlebih nantinya akan melahirkan mental pengecut yang takut mati.
Cinta dunia dan takut mati saling berkait, laksana satu paket. Keduanya menjadi penyebab kehinaan dalam agama di hadapan musuh. Semoga Allah melindungi kita darinya.
Akibat dari penyakit wahan akan menumbuhkan keengganan berjuang dan berjihad untuk mempertahankan iman dan memperjuangkan agama. Padahal meninggalkan jihad merupakan sebab keterpurukan umat ini. Rasulullah saw bersabda:
"Jika kalian berdagang dengan sistem 'inah (salah satu bentuk riba), kalian ridha dengan peternakan, kalian ridha dengan pertanian dan kalian meninggalkan jihad maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian." (HR. Ahmad, Abu Daud dan yang lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam al Silsilah, No. 11)
hadits ini menyimpulkan bahwa dalam hadits terdapat celaan dan ancaman bagi orang yang sibuk dengan pertanian dan peternakannya di saat musim jihad. Dari situ dapat disimpulkan bahwa di antara dimaksud dengan Dien (yang menjadi solusi dengan kembali padanya) dalam hadits ini adalah Jihad. Karena shalat, zakat, puasa, haji dan dzikir tidak akan mampu mengangkat umat ini dari kehinaan. Semua ibadah ini memang merupakan bagian dari Ad-Dien dan mempunyai peran penting, dalam melenyapkan kehinaan ini.
Manusia pada dasarnya ingin kaya, pangkat tinggi, memiliki pangaruh yang besar, terkenal di mana-mana, dan mempunyai istri yang cantik. Manakala seseorang telah mencapai keinginannya sementara aturan-aturan Allah tidak dipergunakan dalam mengatur dan mengendalikan kekayaan dunianya, maka inilah yang disebut materialistis, alias cinta dunia.
Faham materilisme ini sama sekali tidak dibolehkan dalam ajaran Islam, bahkan adalah merupakan musuh Islam yang tergolong utama. Faham ini merupakan warisan dari Iblis la'natullahi'alaihi, yang memang kehadiran dan keberadaanya di dalam diri hanya untuk menggoda agar manusia rusak, sehingga (pada akhirnya kelak) menjadi penghuni neraka bersama Iblis.
Kepada Iblis Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya: "Apakah yang menghalangimu sujud kepada Adam?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripada Adam. Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah ?" (QS.Al-A'raaf: 12).
Setidaknya ada empat hal yang menyebabkan timbulnya penyakit wahan di masyarakat muslim, yakni:
1. Kaum muslimin banyak yang belum memahami karakteristik ajaran Islam itu sendiri. Akibatnya, dengan mudah mereka menerima faham-faham yang tidak sesuai ajaran Islam. Mereka hanya menerima hal-hal yang sesuai dengan tuntutan hawa nafsunya. Sedangkan hal-hal yang jelas berdasarkan prinsip-prinsip ajaran Islam dilihat dan disikapinya sebagai suatu beban dan menyusahkan kehidupan. Mereka merasa ragu dan telah phobi terhadap Islam.
2. Pengaruh racun berpikir yang disuntikan sejak lama oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin. Proses pencekokan tersebut berlangsung dengan demikian halus dan terorganisir, sehingga umat Islam menjadi lemah dan terpecah-pecah. Hal itu sesungguhnya amat kita lihat dan rasakan.
3. Kekuasaan militer, politik dan pemerintahan yang tidak berada di tangan kaum muslim sehingga urusan umat Islam diserahkan kepada orang-orang kafir lagi fujur, fasik dan munafik. Mereka mengangkangi kaum muslimin dalam berbagai bidang.
4. Untuk mewujudkan cita-citanya musuh-musuh Islam (Yahudi dan Nasrani) merancang taktik strategi untuk menghadapi umat Islam. Mereka memanfaatkan kekayaan, ilmu pangetahuan, dan teknologi yang mereka miliki untuk menghadapi dan memperdaya umat Islam. Sehingga situasi dan kondisi dunia lslam benar-benar dalam keadaan lemah, terbelakang, terpecah-pecah, dan malah sesama umat Islam itu sendiri saling beradu dan bermusuhan.
Membasmi Penyakit Wahan
Penyakit wahan ini bisa diatasi dengan jalan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kembali kepada tuntunan ajaran Islam.Mereka yang merasa bahwa penyakit ini telah menghinggapi dirinya hendaklah melakukan langkah-langkah berikut :
1. Meningkatkan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hari akhir, sampai pada derajat yakin. Dengan keyakinan ini penyakit cinta dunia atau takut mati akan hilang.
"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid:20)
2. Selalu mengkaji dan memahami ajaran Islam, terutama bidang akidah, yang merupakan inti ajaran Islam.
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang Hak) melainkan Allah." (QS.Mubammad: 19)
3. Menghayati perspektif Islam terhadap konsep kebahagiaan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Islam tidak mengharamkan dunia dan perhiasannya, akan tetapi menjadikannya sebagai alat untuk mencapai kehidupan dan kebahagjaan akhirat.
4. Meningkatkan dan memantapkan ibadah dan pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dengan demikian maka sifat qana'ahnya muncul dan menjadi citra diri dan kehidupannya. Rasa syukurnya semakin meningkat, dan tawadhu (rendah hati) akan menjadi benteng dan sekaligus penghias dirinya.
"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl:96).
5. Berjihad di jalan Allah dengan segenap kemampuannya yang ada. Karena orang yang berjihad telah menjual diri dan hartanya kepada Allah dengan surga. Dan ini adalah sebesar-besar ketundukan kepada-Nya dan sebesar-besar pengorbanan untuk-Nya. Maka tepat sekali jika Allah menjamin hidayah bagi orang yang benar dalam jihadnya.
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Furqaan :52)

(QS. Al Hadid:20)

"Ketahuilah, bhw sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan & suatu yg melalaikan, perhiasan & bermegah2 antara kamu serta berbangga2 tentang banyaknya harta & anak, seperti hujan yg tanam2nya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering & kamu lihat warnanya kuning kemudian mjd hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yg keras & ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tdk lain hanyalah kesenangan yg menipu." (QS. Al Hadid:20)

detok

Untuk menjadi sehat cukup dengan mengatur gaya hidup dan pola makan sehari-hari. Olahraga, pola makan dan tidur teratur akan membuat kondisi tubuh melakukan penyerapan zat-zat makanan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna/racun (detoxin) sesuai jadwalnya.



Detoxin atau Detoxifikasi (Detox) adalah proses pembuangan zat-zat yang tidak berguna (racun) di dalam tubuh kita. Detox alami terjadi pada waktu kita tidur dimalam hari, berikut ini adalah jadwal detox yang dilakukan tubuh kita.

Jadwal detox badan:

Malam hari pk 21.00 – 23.00 : adalah pembuangan zat-zat tidak berguna/beracun(de-toxin) dibagian system antibody (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik (lebih baik lagi bila sudah tidur) . Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negative untuk kesehatan.

Malam hari pk 23.00 – dini hari 01.00 : saat proses de-toxin dibagian hati, harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.

Dini hari 01.00 – 03.00 : proses de-toxin dibagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur pulas.

Dini hari 03.00 – 05.00 : de-toxin dibagian paru-paru, sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selam durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernapasan, maka tidak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.. Bagi perokok pembersihan berlangsung dengan tidak sempurna.

Pagi pk 05.00 – 07.00 : de-toxin di bagian usus besar, harus buang air besar.

Pagi pk 07.00 – 09.00 : waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 06.30… Makan pagi sebelum pk 07..30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap mengubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9-10 daripada tidak makan sama sekali.

Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat yang tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itulah, Tidurlah Nyenyak dan Jangan Begadang.

Minggu, 05 Juni 2011

Jangan pernah lelah untuk berDOA...teruslah berdoa...

Jika seorang muslim berdoa pada Allah agar diberi rizki dan diberi keturunan,
akan tetapi doanya tak kunjung pula terkabulkan, apakah seperti itu adalah buah
dari tidak diterimanya amalan?
...Ada berbagai faktor yang menyebabkan doa tak kunjung dikabulkan. Doa tersebut
tidak terkabul boleh jadi karena jeleknya amalan, maksiat dan kejelekan yang
seseorang perbuat. Boleh jadi juga sebabnya adalah karena makan makanan yang
haram. Juga bisa jadi karena ia berdoa biasa dalam keadaan hati yang lalai.
Boleh jadi pula karena sebab lainnya sebagaimana yang Nabi ·shallallahu
‘alaihi wa sallam ·sebutkan dalam hadits,
ºما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ
وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا
أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ
وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ.
قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُº02º
“·Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak
mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah
akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan do’anya, [2] Allah
akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan
darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu
kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas
berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.·”(HR.Ahmad)
Boleh jadi tidak terkabulnya doa seorang hamba karena maksiat yang ia
perbuat, karena hatinya yang lalai saat memanjatkan doa, atau karena memakan
yang haram. Atau boleh jadi pula doa seseorang tak kunjung terkabul karena Allah
·Ta’ala· memilih yang terbaik untuknya dengan Allah mengganti apa yang ia
minta dengan yang lebih bermanfaat di surga dan akhirat kelak. Atau bahkan Allah
menggantinya dengan sesuatu di akhirat dan di surga yang kekal. Bisa jadi pula
Allah mengganti permintaan hamba tadi dengan ·maslahat· lainnya dengan
Allah menghindarkan darinya berbagai keburukan. Bisa jadi Allah menghindarkan
darinya kejelekan tanpa ia sadari. Itulah karena doa yang ia panjatkan pada
Allah. Inilah yang terbaik sesuai dengan hikmah Allah. Allah bisa jadi
mengabulkan doanya dengan memberikannya anak, rumah atau istri. Boleh jadi pula
Allah palingkan dari kejelekan dengan sebab doa dan mengganti dengan yang lebih
manfaat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.
Dalil bahwa do’a dengan hati yang lalai sebab do’a sulit terkabul,
ادْعُوا
اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ
يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“·Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan
ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.·”(HR.Tirmidzi)

bukankah Allah tidak akan membebani seseorang diluar kesanggupannya?

Terkadang sulit untuk kita mencari jawaban mengapa suatu musibah justru terjadi pada diri kita sendiri. Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan orang yang bergembira itu? Kenapa bukan orang yang selalu bahagia itu?
Tapi tidakkah kita sadari bahwa kita hanya melihat dari sudut pandang mata kita. Bagaimana dengan Allah yang Maha Melihat dan Maha Bijaksana.

Tidak kita sadari semua, bahwa sudut pandang kita begitu sempit dan sangat sempit. Allah melihat dari segala sudut yang tidak akan pernah dapat dijangkau oleh manusia. Bukankah kitapun manusia, milik Dia Yang Maha Kuasa.
Berhakkah sebenarnya kita protes? Padahal kita adalah milik-Nya.
Sebuah pertanyaan yang tentu kita tau jawabannya.
Berusahalah merenung dengan pertanyaan-pertanyaan itu.  Berusahalah untuk mencari jawaban positif dari pertanyaan-pertanyaan itu.

Jama"ah Fesbukiyah...

Suatu ketika, ada seorang melaporkan kepada Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Abu Darda’ radliallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Fakir itu lebih aku cintai dari pada kaya dan sakit lebih aku sukai dari pada sehat.” Setelah mendengar laporan ini, Hasan mengatakan, “Semoga Allah mengampuni Abu Darda’, adapun yang benar, saya katakan:
من اتكل على حسن اختيار الله له لم يتمن غير الحالة التي اختار الله له
Barangsiapa yang bersandar kepada pilihan terbaik yang Allah berikan untuknya, dia tidak akan berangan-angan selain keadaan yang pilihkan untuknya.(Kanzul Ummal, Ali bin Hisamuddin al-Hindi)
Entahlah, seakan-akan manusia terus berusaha melawan kodratnya.  Hingga ia tenggelam dengan permasalahanya sendiri yang tiada habisnya.
Lalu lupakah kita tentang hakikat sebenarnya kita diciptakan?
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون
” Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adzariyat :56)

Jadi ketika pena diangkat dan catatan takdir telah kering, haruskah kita protes?
Menjalani dengan penuh tawakal dan berusaha menunaikan kewajiban, mungkin adalah obatnya. Daripada berkubang dengan kesedihan yang kita masih belum tau apakah hikmahnya.
بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
” Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah:112)
Jika Engkau seorang yang bertauhid, untuk apa bersedih, untuk apa mengeluh, untuk sesuatu yang sebenarnya akan engkau jalani.

Jama'ah Fesbukiyah...
Percayalah, bukankah Allah tidak akan membebani seseorang diluar kesanggupannya?
Pertanyaan ini adalah hal yang harus engkau renungi. Agar engkau yakin, semua pasti bisa engkau lewati dengan baik. Karena percayalah selalu,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
” Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5 – 6)

Jadi, untuk apa kita bersedih lagi.
Tersenyumlah untuk dunia yang akan engakau jalani.
Itulah satu cara untuk mengurangi kesedihan kita , yang insya Allah akan berlalu dan akan diselingi kebahagiaan kembali.
Percayalah Allah sayang pada kita..

Kamis, 02 Juni 2011

positif thinking is the best

BAGI YANG MASIH MENGHARAPKAN PUJIAN dari MANUSIA.

Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan urusannya pada hari Kiamat adalah orang yang mati syahid, lalu dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan ia dapatkan, diapun mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapatkann...ya?” Dia menjawab. “Aku berperang dijalan-Mu sehingga aku mati syahid.” Allah berkata lagi, “Engkau berdusta, ENGKAU BERPERANG AGAR DIKATAKAN SEBAGAI PEMBERANI dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan kedalam neraka.

Dan orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, juga orang yang membaca alQur’an, dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan didapatkannya, dia pun mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Ia menjawab “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya, aku pun membaca AlQur’an dijalan-Mu,” Allah berkata lagi kepadanya, “Engkau berdusta, engkau belajar agar dikatakan sebagai orang alim! DAN MEMBACA ALQUR’AN AGAR DIKATAKAN SEBAGAI QARI! Dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan kedalam neraka.

Dan orang yang diberikan keluasan dengan limpahan harta dia didatangkan dan diperkenalkan kepadanya nikmat yang akan didapatkannya, diapun mengetahuinya, Allah bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau lakukan sehingga engkau mendapatkannya?” Dia menjawab, “Tidaklah aku meninggalkan satu jalanpun yang dicintai oleh-Mu untuk berinfaq kecuali aku berinfaq dijalan tersebut.” Allah berkata lagi kepadanya, “Engkau berdusta, ENGKAU MELAKUKANNYA AGAR DIKATAKAN SEBAGAI ORANG DERMAWAN! Dan hal itu telah dikatakan.” Lalu datanglah perintah agar mukanya diseret sehingga dilemparkan kedalam neraka. [Riwayat Muslim ]

Seorang Suami dibolehkan berdusta kepada istrinya jika..........

Suami dibolehkan berdusta kepada istrinya jika ada kemaslahatannya selama tidak menjatuhkan hak sang istri

Syari’at sangat memperhatikan keutuhan rumah tangga, sangat memperhatikan terjalinnya kasih sayang diantara dua sejoli, sampai-sampai syari’at membolehkan seorang suami berdusta kepada istrinya atau sebaliknya –selama masih dalam batasan-batasan yang dibolehkan- demi untuk menjaga ikatan kasih sayang diantara mereka berdua.

Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam bersabda

لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِي ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِي الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ

“Tidaklah halal dusta kecuali pada tiga perkara, seorang suami berbohong kepada istrinya untuk membuat istrinya ridho, berdusta tatkala perang, dan berdusta untuk mendamaikan (memperbaiki hubungan) diantara manusia” [HR At-Thirmidzi)(Untuk membuat istrinya ridho)]

Dan aku tidak pernah mendengar dibolehkan berdusta dari perkataan manusia kecuali pada tiga perkara, perang, mendamaikan diantara orang-orang (yang bertikai), dan perkataan seorang lelaki kepada istrinya dan perkataan seorang wanita kepada suaminya” [H.R Muslim ]

Para ulama berbeda pendapat tentang makna dusta yang dibolehkan. Ada yang berpendapat bahwa dusta tersebut adalah dusta yang hakiki, karena dusta yang diharamkan adalah yang memberi mudhorot bagi kaum muslimin adapun dusta yang dibolehkan adalah yang ada maslahatnya bagi kaum muslimin, dan penyebutan tiga perkara di atas adalah hanya sebagai permisalan saja.

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan dusta yang diperbolehkan adalah tauriyah/ta’riidh (mengucapkan kalimat yang benar dan bukan dusta namun dengan tujuan agar sang pendengar memahami makna yang lain) dan bukanlah dusta yang hakiki.

Akan tetapi bolehnya dusta antara suami dan istri ada batasannya yaitu dengan syarat tidak boleh sampai tingkat menjatuhkan hak salah seorang dari keduanya.

“Adapun penipuan (kedustaan) untuk menghalangi hak suami atau hak istri atau agar suami mengambil apa yang bukan haknya atau sang istri mengambil apa yang bukan haknya maka hal ini adalah haram berdasarkan ijmak (kesepakatan para ulama).

Namun dibolehkannya dusta antara suami istri maksudnya adalah demi menjaga kasih sayang diantara mereka.

“Adapun seorang suami berdusta kepada istrinya dan demikian juga seorang istri berdusta kepada suaminya, maksudnya adalah dalam rangka menampakan rasa kasih sayang atau untuk menjanjikan sesuatu yang tidak lazim untuk ditunaikan dan yang semisalnya”

Misalnya seorang suami tatkala memakan masakan istrinya kemudian dia mendapati masakannya kurang lezat, dan biasanya seorang istri jika melihat suaminya makannya kurang selera maka ia akan bertanya, “Makanannya kurang enak?”, maka dalam kondisi seperti ini maka dibolehkan bagi sang suami untuk berdusta agar tidak menjadikan sang istri bersedih dan marah sehingga rengganglah cinta kasih diantara keduanya. Hendaknya sang suami berkata, “Maasya Allah masakannya lezaaat…”. Namun, ang jadi masalah jika kemudian sang istri berkata, “Kalau begitu aku akan memasakkan bagimu setiap hari masakan ini ???!!!!”. Oleh karena itu suami harus pandai mengungkapkan kata-kata seperti misalnya ia berkata, “Masakannya lezat sekali tapi kalau bisa tambahkan ini dan itu…, atau ia berkata namun variasi makanan lebih baik agar tidak bosan…”

Akan tetapi yang perlu diingat janganlah sampai suami menjadikan dusta kepada istrinya merupakan pekerjaannya sehari-hari, akan tetapi hendaknya ia berdusta tatkala benar-benar dibutuhkan dan jelas kemaslahatannya. Karena jika sang istri sampai mengetahui bahwa ia telah dibohongi oleh suaminya apalagi sampai berulang-ulang maka ia akan tidak percaya pada perkataan-perkataan suaminya dikemudian hari, dan bisa jadi ia akan jadi penuh terliputi dengan sikap buruk sangka

@sebuah artikel kiriman Sahabat Ku, Mirza Faqih,
Edited by Abu B Rieswanda , kamis 2 juni, 2011
Source : Al-qur"an & Hadist, Majalah Al-ukhuwah, Tabloid Muslimah, Majalah Islamiah. Dll
Agar tidak banyak berulang, saya izinkan kepada semua yang ingin memanfaatkan artikel ini untuk disebarkan untuk tujuan dakwah. Semoga Alloh memberkahi kehidupan kita semua dalam naungan ridho Nya.

Rabu, 01 Juni 2011

º∙ Semua kebaikan dari Allah∙º

Kadang kita salah paham. Yang kita harap-harap adalah kebaikan dari orang
lain, sampai-sampai hati pun bergantung padanya. Mestinya kita tahu bahwa
seluruh kebaikan dan keberkahan asalnya dari Allah. Allah ·Ta’ala·
...
berfirman,
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي
الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ
تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ
”·Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang
yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan orang yang Engkau kehendaki. ∙Di tangan Engkaulah segala
kebajikan∙. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu·”
(QS. Ali Imron: 26).

Di tangan Allah-lah segala kebaikan”
adalah segala kebaikan tersebut atas kuasa Allah. Tiada seorang pun yang dapat
mendatangkannya kecuali atas kuasa-Nya. Karena Allah-lah yang Maha Kuasa atas
segala sesuatu.
Dalam sebuah do’a istiftah yang diajarkan oleh Nabi ·shallallahu ‘alaihi
wa sallam· disebutkan,
وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ

“·Seluruh kebaikan di tangan-Mu.·” (HR. Muslim no. 771)

MEMAAFKAN ITU TAK SEBERAT MEMINDAH SAMUDERA.

seorang yang melampiaskan dendam semata-mata untuk kepentingan nafsunya,
maka
hal itu hanya akan mewariskan kehinaan di dalam dirinya. ∙Apabila dia
...memaafkan, maka Allah justru akan memberikan kemuliaan kepadanya∙.
Keutamaan ini telah diberitakan oleh rasulullah ·shallallahu ‘alaihi wa
sallam ·melalui sabdanya,
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ
إِلاَّ عِزًّا
·“Kemuliaan hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada seorang hamba yang
bersikap pemaaf·.”(HR.Muslim)
(Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap memaafkan
itu (tentu) lebih disukai dan lebih bermanfaat bagi dirinya daripada kemuliaan
yang diperoleh dari tindakan pelampiasan dendam. Kemuliaan yang diperoleh dari
pelampiasan dendam adalah kemuliaan lahiriah semata, namun mewariskan kehinaan
batin. (Sedangkan) sikap memaafkan (terkadang) merupakan kehinaan di dalam
batin, namun mewariskan kemuliaan lahir dan batin.