Kamis, 27 Mei 2010

1001 Cara Utk Selalu Dpt Bersyukur Kpd Allah?

Sudah menjadi sifat manusia untuk selalu mengeluh dan kurang bersyukur. Apapun yang menimpa dirinya selalu mengeluh, merasa masih kurang dan kurang bersyukur. Misalnya pada waktu musim hujan . Hujan yang turun terus menerus, manusia mengeluh, ”Kok hujan terus-terusan , menyebabkab banjir dimana-mana”. Pada waktu musim kemarau pun mengeluh, ”Kok panas sekali, mata air mengering, susah dapat air, kapan hujan turun”. Ketika matahari bersinar kemudian turun hujan pada saat bersamaan manusia pun masih berkomentar ”Wah ini udan kethek ( bhs jawa : hujan kera), hujan turun kok ketika panas”. Itulah sekelumit gambaran betapa sifat manusia yang suka mengeluh dan kurang bersyukur.

Mengingat hal tersebut pentinglah kiranya kita selalu mengingatkan diri kita untuk selalu dapat bersyukur kepada Allah SWT.

Dalam Q.S !4 (ibrahim) : 7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Berdasarkan firman Allah di atasn jelaslah bahwa Allah akan memberikan 2 hal : reward dan Punisment sehubungan dengan syukur ini. Reward berupa tambahan nikmat dan punisment berupa adzab yang sangat pedih (semoga kita terhindar dari hal ini).

Mengingat dari dua hal di atas, kita sebagai hamba Allah sudah selayaknyalah untuk pandai-pandai mensyukuri nikmat Allah. Ada beberapa hal yang sering menjadi pertanyaan dalam benak kita seputar masalah syukur ini, diantaranya adalah : bagaimana supaya kita selalu dapat bersyukur ? bagaimana cara mengungkapkan syukur itu? Mari kita coba mengurai hal tersebut.

Supaya kita selalu ingat untuk bersyukur, ada beberapa cara sbb:

1.berpikir positip

selalu berusaha melihat sisi positif dari setiap kejadian dan kemudian mensyukurinya. Yakinlah bahwa selalu ada rahmat Allah dari setiap kejadian. Inilah yang membedakan antara orang yang beriman dan yang tidak. Seburuk-buruknya peristiwa yang menimpa kita, maka kita harus bertawakkal dan yakin pasti ada manfaat di balik itu. Allah tidak akan membebankan sesuatu kepada umatNya diluar kemempuan manusia.

Alangkah baiknya kita belajar dari kisah berikut:

Siapa yang tidak kenal Gito Rollies, penyanyi yang lincah dan energik, beberapa tahun silam. Sangat berbeda dengan kondisi nya sekarang, untuk berjalan saja harus dengan bantuan tongkat bahkan nyawapun sempat berada diujung tenggorokan. Justru saat ini ia begitu merasakan , betapa sehat itu nikmat.

Awalnya ia merasakan pegal linu dan sakit luar biasa di pinggang. Ia berusaha melakukan pemijatan dan minum obat-obatan tapi tak juga bisa meredakan serangan rasa sakit. Jamu juga dicobanyadan ramuan anti pegal linu tapi itu hanya menghilangkan rasa linunya sebentar saja, tetapi segera kambuh kembali. Dokter membantu dengan menyuntikkan obat penghilang rasa sakit, namun rasa sakit itu kembali datang beberapa hari kemudian.

Setelah harus bolak-balik berobat ke singapura, akhirnya diketahui bahwa ia menderita kanker kelenjar getah bening. Kakinya tak lagi mampu digerakkan , menjadi lumpuh tiba-tiba. Akhirnya , selain harus menderita sakit yang luar biasa, ia pun seperti anak kecil yang senantiasa harus bergantung kepada orang lain. Dengan bijak ia mengambil hikamahnya, ”kenyataan ini , membuat saya bersyukur dan sadar, bahwa kita tidak berarti apa-apa tanpa bantuan orang lain”.

Dalam hitungan pekan , berat badannya turun hingga 10 kg. Wajahnya pucat dan rambutnya rontok, ibu jari dan kaki kehitam-hitaman pada ujungnya. Sariawan dan ambien juga turut menggerogoti. ”tak hanya sakit, tapi menderita” begitu katanya.

Alhamdulillah, hingga seberat itu ujian yang menimpanya , Gito tetap menyikapinya dengan positip. ”saya tetap berusaha mengambil hikmahnya. Mungkin iini karena ini kehidupan saya dulu yang salah” ujarnya.

Di sisi pendanaan , tentu tak mudah baginya untuk menyediakan dana hampir 1 milyar. Hingga ketika ia berniat menjual rumahnya di kawasan bintaro, ia berusaha berpikir positip, ”mungkin tuhan ingin kami hidup dirumah yang lebih kecil”.

Hampir setahun ia harus menjalani ujian berat ini, justru semakin mendekatnya kepada sang pencipta. Bahkan dirasakan satu berkah yang luar biasa telah ia dapatkan, ketika selama itu ia mendapatkan limpahan kasih sayang sang istri, yang setia mendampinginya. ”Dialah yang setia mendampingi dan memberi dorongan menghadapi masa terberat dalam hidup saya hingga sekarang,” kenangnya tentang Michellevan der Rest, istri tercintanya.

Akhirnya, Gito berpesan betapa nikmat sehat itu adalah anugrah luar biasa, wajib disyukuri sekaligus dijaga dengan pilihan hidup sehat. ”Jadi tidak harus sakit dulu baru kita sadar, betapa nikmat sehat luar biasa.” (sumber : KCM : 2006)

2. Paradigma Masih Untung

Falasafah ini sering kita dengar dalam kebiasaan masyarakat jawa. Tetapi saya yakin masyarakat suku lain juga mengenal falsafah ini walaupun dengan istilah yang berbeda. Paradigma masih untung ini bukanlah sekedar untuk menghibur diri sendiri akan tetapi sikap ini didasari bahwa Allah SWT senantiasa melindungi dan memberi rahmat kepada kita, betapapun kecilnya. Ini akan mengubah penolakan menjadi penerimaan, kekeruhan menjadi kejernihan. Kadang kalo kita baru tertimpa sebuah musibah , kita merasa dunia tidak adil kepada kita, tapi kalau kita cepat-cepat mengambil falsafah ini perasaan ketidak adilan, sedih, galau dll perlahan akan hilang dan berganti kepada rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Paradigma ini mungkin bisa berlaku pada kasus berikut. Seperti kita ketahui beberapa waktu yang lalu di sejumlah daerah di Indonesia mengalami musibah banjir besar. Banjir tidak hanya terjadi di pemukiman sekitar bantaran kali tetapi juga di daerah perumahan yang jauh dari kali, bahkan tak sedikit perumahan mewah yang terkena juga. Banyak saudara-saudara kita yang rumahnya terendam air. Tapi ia masih untung bisa menyelamatkan harta bendanya ke lantai 2 rumahnya. Bagi yang tidak bisa menyelamatkan harta bendanya karena tidak mempunyai lantai loteng toh masih bisa merasa untung, paling nggak rumahnya tidak terbawa arus banjir. Kalau air sudah surut toh rumahnya masih bisa dibersihkan dan ditempati lagi. Sementara untuk yang rumahnya dan segala harta bendanya terbawa arus banjir juga masih bisa merasa untung, paling nggak nyawa masih bisa diselamatkan. Harta benda masih bisa dicari tapi kalau nyawa tidak ada duanya, itulah rahmat Allah SWT yang paling harus disyukuri.

Demikian dan seterusnya , kita harus berusaha menerapkan paradigma masih untung bila kita merasa dalam keadaan tidak menyenangkan, kesusahan , tertekan, terpojok ,merasa tersisih dan lain sebagainya. Sehingga perlahan-lahan kita akan bangkit dari keterpurukan, keterpojokkan dll dan akan merasa sangat bersyukur ternyata Allah SWT masih melimpahkan rahmatNya kepada kita.

3. Janganlah ”Take for granted”. Menerima sesuatu seolah seperti yang biasa, tanpa rasa syukur.

Kita sering kali tak dapat menemukan hal-hal yang patut disyukuri karena kita sering merasa bahwa sesuatu itu sudah semestinya terjadi. Padahal segala sesuatu itu tidak terjadi begitu saja tanpa rahmat Allah SWT. Mungkin kita tidak merasa mendapat hal yang istimewa, punya rumah mewah, yang ada kolam renangnya, villa yang indah di tempat yang sejuk, mobil mewah, tabungan yang banyak tersimpan dimana-mana, investasi properti yang bertebaran di seantero pelosok negri, menjadi pejabat penting yang disegani dan lain sebagainya yang serba hebat. Tapi bukanlah kita masih sehat ? seluruh anggota keluarga kita sehat, anak , istri , orang tua dll sehat tak kurang suatu apa? Bukanlah jantung kita masih berdetak? Nafas kita pun tak pernah berhenti ? bukankah seluruh organ kita masih berfungsi dengan noramal ? mata kita masih bisa melihat ? telinga kita masih bisa mendengar ? ginjal kita masih berfungsi dengan baik? Bukan kah kita masih bisa menikmati makanan yang lezat?

Apakah semua itu terjadi dengan sendirinya ? tanpa ada campur tangan dari Allah SWT? siapa yang mengontrol detak jantung kita selagi kita tidur? Siapa yang mengontrol kerja ginjal , paru-paru, hati dan organ –organ lain dari mulai kita tidur , terjaga sampai tidur lagi? Coba kita bayangkan bila salah satu organ tubuh kita tidak bekerja dengan semestinya: misalnya ginjal kita mengalami gagal ginjal terminal. Orang yang sudah mengalami gagal ginjal terminal hanya mempunyai tiga pilihan ; meninggal dengan pelan-pelan (walaupun ini semua juga dengan kehendak Allah SWT), melakukan cuci darah, atau melakukan transplantasi (cangkok ginjal).yang pertama tidak akan kita bahas. Kalau cuci darah, sekarang ini biaya untuk sekali cuci darah adalah Rp. 600.000 padahal cuci darah dilakukan seminggu 2-3 kali. Bisa dibayangkan betapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam sebulan ? setahun? Padahal cuci darah harus dilakukan seumur hidup. Kalau tidak mau melakukan cuci darah terus menerus penderita gagal ginjal harus melakukan cangkok ginjal. Biaya operasi cangkok ginjal sekitar 300-500 juta dan pasca operasi harus melakukan kontrol rutin yang membutuhkan biaya sekitar 12 juta per bulan selama setahun.

Dengan melihat hal diatas betapa bersyukurnya kita mempunyai tubuh yang sehat dengan organ-organ tubuh yang bekerja semestinya. Syukur kita kepada Allah tentu saja tidak hanya dengan lisan mengucap Hamdallah tetapi juga harus disertai perbuatan dengan cara menjaga kesehatan kita.

Source : http://soeroto.multiply.com/journal/item/8/Carilah_1001_Cara_Untuk_Selalu_Dapat_Bersyukur_Kepada_Allah

Bersyukur pada Alloh tdk mengenaL dimensi Ruang & Wkt?

Ajaran Islam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT dalam segala keadaan baik senang maupun susah. Kondisi ini merupakan sesuatu yang mengherankan bagi non Muslim. Suatu ciri khas bagi kaum Muslimin yang membedakannya dari orang-orang kafir dan munafikin.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan Ahmad disebutkan : ”Sungguh sangat dikagumi ikhwal orang mukmin itu; semua hal yang menimpa mereka, mereka terima dengan baik. Itu hanya dimiliki orang Mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan ia gembira dan bersyukur dan ketika ditimpa kesusahan ia bersabar, dan itu baik baginya”.
Hadis ini kita kemukakan karena erat kaitannya dengan kondisi yang dialami sebagian besar bangsa Indonesia setelah kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) baru-baru ini.
Hidup miskin atau kaya adalah Sunnatullah, sesuatu yang sudah menjadi ketetapan Allah, supaya manusia dapat saling membantu dalam kehidupannya.
Namun suatu kebijakan yang menyebabkan semakin banyak orang menjadi miskin, adalah termasuk disebabkan ulah tangan manusia itu sendiri.
Indonesia kaya energi, pangan, sumber minyak, tapi tidak mempunyai mesin pengolah minyak sehingga harus mengimpor dan mengalami defisit. Apalagi dilanda gejolak kenaikan harga minyak secara global. Rakyat Indonesia hingga saat ini belum bisa menikmati hasil alamnya, hasil buminya seperti diamanatkan UUD-nya, yaitu dieksploitasi untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Kita tidak memperpanjang kalam tentang hal itu dalam tulisan ini karena yang ingin ditekankan bagaimanapun buruknya hal yang kita alami jangan sampai merusak keimanan kita kepada Allah SWT.
Seperti disebut Umar bin Khattab RA, musibah yang terburuk adalah rusaknya keimanan kita.
Firman Allah SWT dalam QS. Al Hajj ayat 11 yang artinya : ”Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah di ”tepi” atau tidak dengan penuh keyakinan. Maka jika ia memperoleh kebajikan dia merasa puas dan jika dia ditimpa suatu cobaan, ia engkar kepada Allah. Rugilah ia di dunia dan di akhirat, itulah kerugian yang nyata”.

Jangan Lupakan Nikmat Lainnya

Seseorang gembira ketika menerima nikmat adalah sangat alamiah. Tetapi ketika ditimpa kesusahan sebagai suatu cobaan jangan sampai kita melupakan nikmat-nikmat lainnya.Nikmat-nikmat yang kita tidak dapat menghitungnya. Nikmat kesehatan, nikmat ilmu, nikmat kepandaian berdagang, dan lain sebagainya.
Memang mudah mengucapkannya, namun kesabaran menghadapi kesulitan saat ini, memerlukan istiqomah keimanan.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan Anas disebutkan ”Kadal faqru an yakuna kufra”, orang fakir mungkin saja menjadi kafir/atheis, atau sangat dekat kepada kekafiran atas nikmat Allah, karena rasa dengki kepada orang-orang berharta, menghilangkan rasa ridha atas qadha dan qadar Allah, menyalahkan Al-Khaliq rerhadap sedikitnya rezeki yang diterimanya.
Al-Manawi dalam Faidhul Qadir ketika mensyarahkan hadis ini mengutip Imam Ghazali yang menyebutkan, meskipun ia atau si fakir itu tidak betul-betul kafir sedikit-dikitnya ia cenderung mengarah kesana. Sebagai contoh menurut penulis, apa yang terjadi di Indonesia, banyak orang miskin pindah agama karena dibujuk dengan material, oleh karena itu mudarat yang ditimbulkan kekafiran/kemiskinan itulah Rasulullah SAW berdoa dalam salah satu hadis diriwayatkan An Nasa’i dan Ibnu Hibban dalam kitab sahih mereka ”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran dan kekafiran”. Menurut Al-Manawi, hadis ini ”memperkuat” hadis sebelumnya.
Qanaah Tapi Tidak Pasrah

Semua upaya yang kita lakukan dalam mengatasi dan menanggulangi saat-saat sulit ihendaknya diiringi pula dengan doa kehadirat Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS. Annisa 23 : ”Mintalah/berdoalah kepada Allah SWT agar Allah melimpahkan kurnianya”.
Kita tetap mengharapkan karunia Allah dalam situasi apapun. Seperti juga disebutkan Al-Manawi dengan berdoa kepada Allah akan memeprkuat rasa pengabdian, rasa ubudiah, ketauhidan kita kepada-Nya.
Dalam kesulitan kita harus qonaah, mensyukuri sekecil apapun rezeki yang kita terima. Tidak dengki terhadap orang yang lebih beruntung dari kita, sebab kekayaan yang mereka miliki, juga suatu cobaan dari Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam QS. Thoha 131 yang artinya ”Janganlah engkau sibukkan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia. Kesenangan itu menjadi ujian bagi mereka. Kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. Ayat ini tidak dimaksudkan agar kaum muslimin malas atau pasrah saja dalam mencari rezeki. Namun jangan terpesona terhadap melimpahnya harta yang mungkin diperoleh dari jalan yang tidak halal. Atau mereka yang berharta, tapi lupa terhadap adanya hak orang lain, hak fakir miskin dalam bentuk infak, zakat, sedekah pada hartanya itu.
Para pakar tafsir mengemukakan,Allah SWT tetap memberi rezeki sesuai dengan bagian masing-masing. Dan ada pahala lebih besar bagi yang menunggu di Yaumil Akhir nanti, Itulah yang disebutkan dipenghujung ayat tadi, ”Warizqu rabbika khairun waabqa”.
”Kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal”.

Rabu, 26 Mei 2010

MakNa cinta..??

CINTA adalah sebahagian daripada fitrah manusia. Cinta memang sudah ada dalam diri kita. Bersyukurlah orang yang diberi cinta dan mampu menyingkap rasa cinta dengan tepat dan menurut syariah.Bercinta tidak salah jika diniatkan untuk menuju alam perkawinan yang diredai Alloh. Nabi Muhammad SAW meninggalkan resipi cinta yang diriwayatkan Abdullah bin Mas'ud: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian mampu serta berkeinginan untuk bernikah. Kerana sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa di antara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, kerana puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, dan Tirmidzi) Apabila kita sudah membetulkan niat, maka kita mesti menjadikan diri kita ‘salihah’ supaya orang yang salih akan datang menemui kita atau ditemukan Alloh. Kita wajib ingat bahawa jodoh adalah ketentuan Allah, manusia hanya boleh merancang tetapi Allah yang menentukan. Kita cuma dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam.Firman Alloh yang bermaksud: “Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan iaitu wanita, anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alloh tempat kembali yang baik.” (Surah al-Imran, ayat 14)Cinta paling tinggi martabatnya adalah cinta kerana Allah, kita bertemu dan berpisah kerana Alloh. Pakar psikologi, Prof Madya Dr Mat Saat Baki, pernah menulis: “Cinta itu berkembang. Kita tidak jatuh cinta. Cinta pandang pertama adalah satu mitos. Sebenarnya perasaan cinta itu berkembang dari semasa ke semasa. Lebih lama kita memahami, mengenali seseorang itu, akan lebih dalam perasaan cinta. Namun, menurut beberapa kajian dan perkongsian pengalaman, ternyata cinta pertama tidak diperlukan sebagai asas kebahagiaan tetapi boleh membantu untuk mencapai kebahagiaan.”Tetapi jika tidak berhati-hati, cinta boleh membutakan mata hati kita. Seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ahmad)Sabda Rasulullah lagi yang bermaksud: “Hendaklah kita benar-benar memejamkan mata dan memelihara kemaluan, atau nanti Allah benar-benar akan menutup rapat matamu.” (Hadis riwayat Tabrani)Cinta yang selalu menjadi dugaan dan membawa padah ialah cinta yang cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin menggelorakan hawa nafsu, makin berkurang rasa malu dan akhirnya terlanjur. Inilah paling merbahaya. Dari sinilah bermulanya fenomena cinta terlarang, seks tanpa nikah yang merosakkan generasi dan mencemar keturunan.Alloh berfirman yang bermaksud: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Surah Al Isra', ayat 32)Islam tidak melarang atau mengekang manusia daripada rasa cinta tetapi mengarahkan cinta berjalan di atas landasan yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita mahupun lelaki. Jika kita jatuh cinta, perlu berhati-hati kerana seperti minum air laut, semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang tumbuh selepas akad nikah.Cara untuk mengendalikan rasa cinta adalah dengan menjaga pandangan, tidak berkhalwat atau berdua-duaan dalam bentuk apapun dan tidak saling bersentuhan apatah lagi bercium dan berpelukan, memang jelas haramnya.Seperti sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Janganlah seorang lelaki dan wanita berkhalwat (berduaan di tempat sepi), sebab syaitan menemaninya, janganlah salah seorang daripada kalian berkhalwat dengan wanita, kecuali disertai dengan mahramnya.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)Jika bimbang keterlanjuran cinta, alihkan rasa cinta itu kepada Alloh dengan membanyakkan membaca solawat, zikir, istighfar dan solat sehingga kita tidak diperdayakan oleh nafsu.

P-C-R-N Dalam Pandangan Islam..

a. Islam Mengakui Rasa Cinta

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”(QS. Ali Imran :14).

Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.

b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.

Bahkan lebih ‘keren’nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan ‘pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

c. Pacaran Bukan Cinta
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Cinta dalam Pandangan Islam..

Alhamdulillah segala puji hanya milik Alloh Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada nabi dan RasulNya Muhammad sallallahu ‘alaiwasalam.

Terima kasih kepada moderator yg telah memberikan kesempatan pada saya untuk bergabung dg kajian muslimah pada hari ini

Sebelumnya saya mohon maaf jika materi yg akan disampaikan kali ini ada yg sudah pernah membaca/mendapatkannya. Namun saya berharap semoga kita semua tetap bisa mengambil hikmah dari materi kali ini. Terutama untuk diri saya pribadi.

Untuk tema materi kali ini saya ingin menyampaikan tentang “ Cinta Dalam Pandangan Islam”, diambil dari buku karangan Abdullah Nasih Ulwan

Arti Cinta:

Cinta adalah persaan jiwa, getaran hati, pancaran naluri. Dan terpautnya hati org yg mencintai pada pihak yg dicintainya, dg semangat yg menggelora dan wajah yg selalu menampilkan keceriaan.

Cinta dlm pengertian spt ini mrpk persaaan mendasar dalam diri mns, yg tdk bisa terlepas dan merupakan sesuatu yg essensial. Dlm banyak hal, cinta muncul utk mengontrol keinginan ke arah yg lebih baik dan positif. Hal ini dpt terjadi jk org yg mencintai menjadikan cintanya sbg sarana utk meraih hasil yg baik dan mulia guna meraih kehidupan sbgmn kehidupan org2 pilihan dan suci serta org2 yg bertaqwa dan selalu berbuat baik.

Apakah Islam mengakui cinta?

Krn Islam adalah agama yg fitrah, maka Islam mengakui ttg hal ini. Hal yg sangat mendasar dalam diri manusia. Namun Islam membagi beberapa tingkatan ttg cinta. Dan tingkatan2 cinta ini akan selalu ada dalam kehidupan ini sampai saatnya bumi dan seisinya dihancurkan oleh Allah.

Adapun dasar ttg tingkatan cinta dalam Islam, adalah firman Allah pada QS. 9 (At Taubah): 24).

“Jika bapak2, anak2, saudara2, pasangan2, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yg kalian usahakan, perniagaan yg kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah2 tempat tinggal yg kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Alloh, Rasul-Nya dan (daripada) jihad di jalanNYa, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan siksaNya. Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang2 yg fasik”

Cinta pada tingkat tertitinggi adalah cinta kepada Alloh, rasulNya dan jihad dijalanNya.

Cinta tingkat menengah adalah cinta kepada ortu, anak, keluarga, pasangan dan saudara.

Adapun cinta yg paling rendah adalah cinta yg lebih mengutamakan harta, keluarga, daripada cinta kepada Alloh, RasulNya dan jihad dijalanNYa.

Hikmah dari Cinta:

1. Cinta adalah proses ujian yg keras dan pahit dalam kehidupan manusia. Apakah cinta itu dalam perjalanannya akan menghantarkannya kepada jalan yg mulia atau menghempaskannya kepada jalan yg hina.

2. Jika tidak ada cinta maka di dunia ini tidak akan ada inovasi, pembangunan dan peradaban.

3. Keberadaan cinta merupakan faktor dominan dalam melestarikan eksistensi manusia dan interaksinya dengan sesama manusia.

:: Ketika cinta diarahkan kpd kebaikan, mk cinta dapat membawa keutuhan, perdamaian, kebaikan pada kehidupan bermasyarakat.

:: Cinta yg ditumbuhkan oleh factor keimanan, maka akan menghasilkan berbagai hal yg mengagumkan. Dapat mengubah sejarah, menegakkan puncak kejayaan dan kemuliaan dunia. Sebagai contoh adalah kehidupan generasi muslim pada masa dahulu.

Dan masih banyak lagi hikmah yg lain dari adanya rasa cinta pada diri manusia.

Fenomena yg timbul dari tingkatan2 cinta yg ada akan menimbulkan efek yg berbeda

Pada fenomena tingkatan cinta yg tertinggi, maka akan membuat seseorg dalam hidupnya untuk selalu mendahulukan cinta kepada Alloh , RasulNya dan jihad dijalannya. Dalam kehidupannya sehari2 tidak ada orientasi selain kepada Alloh. Dia akan selalu merasa yakin bahwa segala sesuatu yg telah Alloh tetapkan adalah yg terbaik bagi manusia Bahwa Alloh lebih mengetahui daripada makhluknya. Kemudian, bagi seseorg yg sudah merasakan nikmatnya iman, maka dia akan selalu meneladani kepribadian Rasulluh, mencintai Rasululluh, kmdn dia juga akan mencintai jihad dijalanNya. Akan berjuang dengan segala apa yg dia miliki.

Firman Allah pada Qs. 28:68.

“Rabbmu menciptakan apa yg Dia kehendaki dan memilih (seorg Rasul diantara hambaNYa). Sekali2 tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Alloh dan MahaTinggi dari apa yg mereka persekutukan (denganNya)

Qs. 33: 36

“Tidaklah patut bagi seorg mukmin baik laki2 maupun perempuan jika Alloh dan RasulNya telah menetapkan bagi mereka suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yg lain dalam urusan mereka…”

Qs.2:140

“Apakah kalian yang lebih mengetahui ataukah Allah?…”

Qs. 2 : 282

“…dan Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu”

Adapun dampak yg disebabkan oleh cinta tingkat menengah dalam membentuk karakter individu, keluarga, dan masyarakat telah amat nyata. Jika tidak Alloh ciptakan cinta pada suami –istri maka tidak akan tercipta keluarga, tidak akan lahir anak-cucu, tidak akan terjadi proses mengasuh, mendidik dan memelihara anak.Jika tdk Alloh ciptakan cinta pada anak, niscaya dalam jiwanya tidak akan ada semangat kekeluargaan, tidak akan kokoh iktakan kekeluragannnya, tidak akan mengasihi saudaranya. Jika tdk Allah tanamkan rasa cinta pada manusia maka, mk tidak akan tercipta hubungan social antar bangsa yg dibangun atas prinsip ta’aruf (saling mengenal)

Dengan demikian cinta tingkat menengah ini amat penting untuk menciptakan kemashalatan pribadi dan keluarga khususnya dan untuk merealisasikan kemaahalatan antar bangsa dan seluruh ummat manusia pada umumnya.

Firman Alloh tentang hal ini terdapat pada Qs. 49:10

“Sesungguhnya orang2 mukmin itu bersaudara…”

Qs. 49 : 13

“ Wahai manusia seseungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari jenis laki2 dan perempuandan Kami telah menjadikan kalian berbangsa2 dan bersuku2 agar kalian saling mengenal…”

Hadits riwayat Bukhari-muslim

“Barangsiapa beriman kepada Alloh dan hari akhir hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya .., hendaklah dia menghormati tamunya”

Dan masih banyak lagi ayat dan hadist yg menceritakan tentang hubungan antar manusia.

Fenomena Cinta tingkat rendah

Cinta jenis ini ada beberapa macam:

1. Mencintai thougut dan sesembahan selain Alloh, seperti menyembah manusai, batu dsb.

Qs. 2: 165

“Diantara manusia ada orang2 yg menyembah tuhan2 selain Alloh. Mereka mencintai tuhan itu sebagaimana mereka ( org2 mukmin yg mukhlis) mencintai Alloh. Adapun org2 yg beriman jauh lebih besar cintanya kepada Allah (disbanding cinta org2 kafir terhadap tuhan2 mereka)…”

2. Menjalin tali kasih kepada musuh2 Allah.

Qs. 60:1

“Hai org2 yg beriman, jgnlah kalian menjadikan musuhKU dan musuh kalian sebagai teman2 setia, yg kalian sampaikan kepada mereka (rahasia org2 mukmin) karena kasih sayang (kepada mereka), padahal sebenarnya mereka telah ingkar terhadap kebenaran (kitab dan Rasul) yg datang kepada kalian..”

3. Mengumbar syahwat dan berkubang dalam Lumpur kekejian dan kehinaan.

Qs.3:14

“Dijadikanlah indah pada (hati) manusia kecintaan kepada apa2 yg diingini, yaitu wanita2…”

4. Mencintai ayah,ibu,anak, istri, suami, keluarga, karir, tanah air melebihi cintanya kepada Allah, RasulNya dan Jihad dijalannya.

Qs.9:24.

“Jika bapak2, anak2, saudara2, pasangan2, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yg kalian usahakan, perniagaan yg kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah2 tempat tinggal yg kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Alloh, Rasul-Nya dan (daripada) jihad di jalanNYa, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan siksaNya. Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang2 yg fasik”

Nabi salallahu ‘alaihiwassalam bersabda:

“Tidak sempurna iman seseorg dari kalian hingga aku lebih dia cintai daripada bapak-ibunya, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Menuhankan hawa nafsunya,

Qs. 45:23

“ Bagaimanakah pendapatmu tentang org menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Alloh membirakannya sesat berdasarkan ilmuNya?…

Dengan demikian bagi seorang mukmin yg telah diliputi oleh manisnya iman, maka ia tidak akan rela jika dirinya diliputi oleh cinta pada tingkatan yg rendah yg akan membunuh karakter manusia dan menghancurkan kemuliaannya. Bahkan ia akan menjaga kesetiaannya hanya kepada Alloh saja. Dia akan menjaga cintanya untuk tidak akan memberikannya kepada mush2 Islam, Dia akan menjaga syahwatnya, dan tidak melakukannya dijalan yg bahtil.Dia tidak akan mencintai kekayaannya, pasangan, anak, orag tuanya, keluarganya, kedudukannya melebihi cintanya kepada Alloh, RasulNya dan jihad dijalanNya.

Pada akhirnya hanya diri kita sendiri yg akan menentukan pada tingkatan cinta yg mana kita berada. Dan hal ini hanya Alloh dan diri kita saja yg tahu. Semoga Alloh senantiasa menjaga diri kita agar tidak terjebak pada cinta tingkat rendah.

Ini saja yg biasa saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekhilafan. Kebenaran hanyalah milik Allah SWT.

– Madu Tiga -

aih senangnya dalam hati
kalo beristri dua
seperti dunia
ana yang punya

kepada istri tua
kanda sayang padamu
kepada istri muda
i say i love you

istri tua merajuk
balik ke rumah istri muda
kalo dua dua merajuk
ana kawin tiga

mesti pandai pembohong
mesti pandai temberang
tetapi jangan sampai
eh pecah temberang

Madu Tiga By : The Swinger feat Ahmad Dhani

Munajat Cinta

Malam Ini Kusendiri
Tak Ada Yang Menemani
Seperti Malam Malam
Yang Sudah Sudah

Hati Ini Selalu Sepi
Tak Ada Yang Menghiasi
Seperti Cinta Ini
Yang Slalu Pupus

Reff :

Tuhan Kirimkanlah Aku
Kekasih Yang Baik Hati
Yang Mencintai Aku
Apa Adanya...

Mawar Ini Semakin Layu
Tak Ada Yang Memiliki
Seperti Aku Ini
Semakin Pupus...

Munajat Cinta By : The Rock

Selasa, 25 Mei 2010

Bangun Tidur? tetap cantik...

Konon, saat bangun tidur, kita menunjukkan wajah terjelek kita. Rambut kucel, mata bengkak, pipi penuh bekas tertindih bantal, dan raut wajah terlihat lebih bundar. Anda tak harus bangun dengan kondisi seperti ini. Persiapannya bisa dimulai nanti malam agar Anda bisa bangun secara cantik besok pagi!


1.Cuci muka sebelum tidur
Malam adalah waktu terbaik untuk perawatan kulit. Di malam hari, ada lebih banyak darah mengalir pada permukaan kulit dan penyerapannya menjadi lebih maksimal dengan minimnya aktivitas. Ditambah lagi, jika Anda tidur tanpa mencuci muka, semua racun dan kotoran akan terus menempel di kulit sepanjang malam.

2. Tidur terlentang
Dengan tidur tengkurap, kita membebani permukaan wajah dengan berat tubuh kita. Para dokter kulit sering mengatakan mereka bisa mengetahui bagaimana seseorang tidur hanya dengan melihat kerutan di bagian tertentu wajah.

3. Pakai bantal
Tidur dengan dua bantal di bawah kepala. Biarkan pengaruh gravitasi membantu aliran darah ke bagian bawah tubuh dan menghindari cairan menggumpal di bagian tertentu. Wajah lebih segar saat bangun.

4. Hindari kabohidrat
Saat kita makan banyak kabohidrat, raut wajah menjadi kurang tegas. Agar saat bangun Anda punya tulang wajah yang indah, banyaklah makan yang berprotein tinggi, rendah gula dan rendah kabohidrat. Hindari nasi, kentang dan sagu

5. Bantal sutra
Agar rambut Anda tidak mengembang dan kasar di pagi hari, tidurlah dengan sarung bantal satin. Jika tidak punya, Anda bisa membungkus rambut Anda dengan selendang satin. Jenis bahan ini lebih lembut dari katun, sehingga mengurangi gesekan pada rambut.

6. Tidur bak balerina
Agar bangun dengan rambut bergelombang alami, kepang rambut Anda sebelum tidur, dan lihat hasilnya di pagi hari. Selamat tinggal rambut kucel!

Menjaga hati ..

maafkan aku ..
aku harus menjauh darimu
aku harus mengacuhkanmu
meski hati ini sakit karena aku mencintaimu

maafkan aku ..
aku harus menjaga hati ini
dari semua hal yang dapat
menjadikan hati ini kotor ..
tercemar.. dari semua hal tentangmu

aku tidaklah mau menjadi
hambaNya yang terkutuk karena
mencintaimu ..
aku ingin hati ini bersih..
bening sebening cahaya syurgaNya

aku ingin yang akan menyanding ku nanti
kelak akan merasa bangga .. bahagia ..
dengan hati yang ku jaga ini
lalu mencintai dan menyanyangiku hingga
malaikat pencabut nyawa datang menghampiri
dan mengambil nyawaku

Ya Alloh Ya Robb
Ya Muqit ..
tolonglah hambaMu ini
tolong bantu aku menjaga perasaan ini
menjaga hati ini ..

karena ku ingin menjadi hambaMu
yang Engkau sayangi dan yang Engkau cintai
karena Engkaulah cinta sejati
hidup ini ..

Dasar Hukum Poligami dalam Al Qur'an?

Di antara petunjuk al Qur`an, yang memberikan petunjuk jalan yang lurus, yaitu dibolehkannya seorang laki-laki melakukan poligami hingga empat isteri. Meski demikian, bila seorang lelaki merasa khawatir tidak mampu berbuat adil, maka diharuskan baginya cukup mempunyai satu isteri saja atau memiliki budak perempuan, sebagaimana firman Allah k dalam surat an-Nisaa` ayat 3 :

“Artinya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” .

Ada beberapa alasan mengapa seorang laki-laki boleh melakukan poligami, di antaranya ialah untuk kebaikan wanita, disebabkan terhalangnya sebagian wanita dari menikah. Juga untuk kebaikan laki-laki, supaya manfaat yang ada pada dirinya bisa dioptimalkan, yang tidak mungkin optimalisasi itu terlaksana kalau hanya mempunyai satu isteri saja. Alasan lainnya, ialah untuk kebaikan ummat, yakni memperbanyak jumlah kaum Muslimin. Karena dengan banyaknya kaum Muslimin yang terlahir dari perkawinan ini, memungkinkan mereka melawan musuh untuk meninggikan kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai yang tertinggi.

Poligami merupakan syari'at Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Tidak ada yang mencelanya, kecuali orang yang telah dibutakan oleh Allah Azza wa Jalla mata hatinya dengan kekufuran. Pembatasan poligami dengan empat isteri, juga merupakan pembatasan yang datangnya dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Pembatasan jumlah ini bersifat tengah-tengah antara sedikit (monogami), yang menyebabkan terabaikannya sebagian manfaat kaum lelaki, atau banyak (lebih dari empat) yang dikhawatirkan tidak adanya kemampuan dalam menunaikan kewajiban-kewajiban rumah tangga terhadap seluruh isteri .

Pada akhir-akhir ini muncul generasi yang memiliki pemikiran sebagaimana orang-orang barat. Mereka mendapatkan pendidikan barat, baik di negeri sendiri ataupun di negeri orang kafir, dan dicekoki dengan pemikiran-pemikiran orientalis yang memusuhi Islam.

Terkadang sangat jelas kebatilannya dan juga terkadang tampaknya baik, tetapi di balik itu terdapat penyimpangan yang disembunyikan, hingga menimbulkan kerancuan dan kekacauan pemikiran di kalangan kaum Muslimin. Yang pada akhirnya pemikiran mereka berkembang hingga taraf pengingkaran terhadap syari'at. Di antara kerancuan pemikiran mereka, yaitu dalam hal poligami. Menurut mereka, poligami dianggap sebagai perbuatan zhalim, sehingga tidak benar jika diperbolehkan. Sebagian lagi ada yang secara terang-terangan menentang poligami, sebagian lagi dengan cara halus.

Para penentang poligami menyatakan adanya larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali untuk menikahi anak perempuan Abu Jahl dan mengumpulkannya dengan Fatimah binti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Dengan menyandarkan kepada larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali agar tidak mengumpulkan Fathimah dengan anak perempuan Abu Jahl, maka sebagian penentang poligami memberikan komentar dan mengatakan, sesungguhnya Rasulullah n telah melarang Ali untuk menikah dengan anak perempuan Abu Jahl dan dikumpulkan bersama Fatimah. Bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan, maka kami melarang para suami menikahi wanita lain bersama dengan anak-anak perempuan kami, dan kamipun tidak melakukan poligami, karena ini termasuk di antara perkara-perkara yang bisa menyakiti orang-tua maupun isteri-isteri kami.

firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Artinya : Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja”.

Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla membolehkan seorang laki-laki untuk menikahi wanita lebih dari satu, dan juga memerintahkan untuk menikahi satu isteri saja bila merasa khawatir tidak mampu berbuat adil. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah melarang Ali memadu Fatimah, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menikah dengan sembilan isteri, maka ucapan beliau adalah hujjah, demikian juga dengan perbuatannya. Bantahan secara detail, di antaranya terdapat di dalam hadist itu sendiri. Pendapat ini lebih utama, sedangkan yang lainnya merupakan kesimpulan dan pendapat dari para ulama.

M'nepis Kekeliruan Pandangan T'rhadap Poligami(2)

Para penentang poligami mengatakan, Islam, sebagai agama yang diturunkan untuk menegakkan keadilan, sama sekali tidak pernah memerintahkan umatnya berpoligami. QS Annisa ayat 3 kerap kali dijadikan dalih pembenar. Padahal, ulama membaca ayat tersebut tidak seragam. Setidaknya ada 3 pendapat menilai ayat tsb. Pertama, boleh tanpa syarat. Kedua, boleh dengan syarat darurat; dan Ketiga, haram lighairihi. Pendapat ketiga mengisyaratkan bahwa pada esensinya, poligami tidaklah haram. Namun, karena ekses yang ditimbulkannya luar biasa membawa kemudharatan, maka poligami menjadi haram.

Jawab
Subhanallah! Ini merupakan kedustaan besar atas agama Allah dan ayat-ayat-Nya. Bagaimana mungkin dikatakan bahwa Islam sama sekali tidak pernah memerintahkan umatnya berpoligami? Bagaimana dengan ayat yang telah disebutkan Allah Subhanhu wa Ta’ala , yaitu :

“Artinya : Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat” [An-Nisaa` : 3]

Para ulama menjelaskan tentang tafsir ayat ini, bahwasanya hukum asal berpoligami adalah boleh. Bahkan sebagian ulama mengatakan perkara ini dianjurkan bagi yang mampu.

Syaikh Mohammad Amin mengatakan dalam kitab tafsir Adwa’ul-Bayan, bahwasanya Islam membolehkan menikah dengan lebih dari satu isteri, (yaitu) dua, tiga atau empat[18]

Juga Imam Ibnu Katsir, di dalam tafsir beliau tentang ayat ini menyebutkan, nikahilah wanita yang kalian kehendaki selain dari mereka, jika kalian menghendaki dua orang, tiga orang atau empat orang [19]

Demikian juga perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Nikahilah wanita yang banyak melahirkan anak dan cinta kepada suami. Sesungguhnya aku membanggakan banyaknya kalian di hadapan umat-umat lainnya".[20]

'Abdullah bin 'Abbas juga mengatakan: "Menikahlah! Sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak isterinya".[21]

Maknanya, dengan banyaknya menikah akan memperbanyak umat, dan inilah yang menjadi tujuan pernikahan. Para ulama’ menjelaskan, boleh melakukan poligami, dengan syarat harus bersikap adil. Dalam hal ini, adil yang dimaksud adalah dalam perkara yang zhahir; bukan yang batin, seperti rasa cinta, kecondongan hati, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas.

Adapun perkataan "namun, karena ekses yang ditimbulkannya luar biasa membawa kemudharatan, maka poligami menjadi haram".

Timbul pertanyaan, apakah sesuatu yang dibolehkan oleh Allah dan banyak membawa kebaikan akan menimbulkan kemudharatan? Allah-lah Yang paling mengetahui tentang kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, dan yang paling bijaksana dalam menetapkan hukum-Nya. Maka kalau dalam berpoligami terdapat kekurangan yang disebabkan perilaku sebagian individu, maka tidaklah kemudian disama-ratakan hukumnya. Penilaian yang mengeneralisir ini, sungguh suatu penilian yang sangat keliru.

Demikian sebagian di antara pandangan keliru yang dilesatkan para musuh Islam kepada kaum Muslimin tentang poligami. Sehingga bisa jadi menumbuhkan keragu-raguan di kalangan kaum Muslimin pada umumnya. Dengan demikian, setahap demi setahap keraguan ini bisa menyebabkan penolakan terhadap syari'at Allah secara keseluruhan. Kita berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membimbing kita pada kebenaran. Tetap berpegang teguh dengan al Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Menepis K'keliruan Pandangan T'rhadap Poligami (1)

Para penentang poligami berpendapat, bahwa poligami justru akan melahirkan banyak persoalan yang mengancam keutuhan bangunan mahligai rumah tangga. Sering timbul percekcokan. Belum lagi efek domino bagi perkembangan psikologi anak yang lahir dari pernikahan poligami. Sering mereka merasa kurang diperhatikan, haus kasih sayang dan, celakanya, secara tidak langsung dididik dalam suasana yang kedap perselisihan dan percekcokan tersebut.

Jawab
Pendapat ini dapat kita bantah ini sebagai berikut:
Perselisihan yang muncul di antara para isteri merupakan sesuatu yang wajar, tumbuh dari rasa cemburu yang merupakan tabiat wanita. Untuk mengatasi hal tersebut, tergantung kepada kemampuan suami dalam mengatur urusan rumah tangganya, keadilannya terhadap isteri-isterinya, rasa tanggung jawab terhadap keluarganya, demikian juga tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Apabila ini semua sudah terpenuhi, maka akan tegaklah kehidupan keluarganya, diliputi dengan rasa kasih dan sayang di antara anggota keluarganya. Atau kalau tidak terpenuhi, akan hancurlah keluarga tersebut, baik keluarga yang berpoligami ataupun tidak. Kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga tampak seperti itu, walaupun menikah hanya dengan satu isteri (monogami). Bahkan banyak terjadi pertengkaran, hingga mengantarkan pada perceraian, dan menyebabkan anak-anak menjadi terlantar.

Memang ada benarnya, terkadang pertengkaran menimpa keluarga, orang yang melakukan poligami, tetapi hal ini terjadi karena kurang bertanggung jawabnya sang suami, dan karena ketidak-adilannya terhadap para isterinya. Ini membutuhkan jalan penyelesaian, bukan dengan cara menolak praktek poligami, yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan. Perbuatan dan perilaku individu, tidak bisa dijadikan sebagai dalil untuk menolak diperbolehkannya poligami.

Menepis Kekeliruan Pandangan Terhadap Poligami

Para penentang poligami menyatakan, tidak mungkin bagi para suami mampu berbuat adil di antara para isteri, dengan dalih firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Artinya : Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” [An-Nisaa`: 3]

Dan Allah telah berfirman :

“Artinya : Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisaa`: 129]

Jawab
Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil" dalam ayat ini adalah rasa cinta, kecondongan hati dan hubungan badan. Adapun perkara-perkara yang zhahir, seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang laki-laki yang mempunyai isteri lebih dari satu untuk berbuat adil.

Dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah: "Tidak boleh mengutamakan salah satu di antara para isteri dalam pembagian. Akan tetapi, bila dia mencintai salah satunya lebih dari yang lainnya, atau berhubungan badan lebih banyak dari yang lainnya, maka ini tidak mengapa. Dalam masalah ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan ayat-Nya :

“Artinya : (Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian)” [An-Nisaa` : 129]

“Yaitu dalam rasa cinta dan berhubungan badan".

Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menjelaskan : "Adapun rasa cinta, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mencintai 'Aisyah dibandingkan dengan yang lainnya. Dan kaum Muslimin sepakat, bahwa menyamakan rasa cinta kepada semuanya bukan suatu kewajiban, karena ini diluar kemampuan seseorang kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendakinya. Adapun adil dalam bersikap, maka demikianlah yang diperintahkan".[10]

Imam Ibnu Hajar juga berpendapat senada. Beliau berkata,"Apabila sang suami memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan tempat tinggal bagi seluruh isterinya, maka tidak mengapa baginya jika dia melebihkan sebagian lainnya dalam hal kecondongan hati atau pemberian hadiah.[11]

Dalam masalah keadilan ini, Syaikh Musthafa al Adawi memberikan dua peringatan.

[1]. Menyamakan dalam berhubungan badan meskipun ini tidak wajib akan tetapi disunnahkan untuk berbuat adil dalam hal ini, ini lebih baik, lebih sempurna dan jauh dari sikap berlebih-lebihan dalam kecondongan hati, sebagaimana yang dikemukakan oleh sejumlah Ulama’. Imam Ibnu Qudaamah dalam kitab beliau “Mughni” mengatakan : Bila memungkinkan menyamakan dalam berhubungan badan maka ini lebih baik, lebih utama dan lebih sesuai dengan makna adil[12]

Dalam kitab al Majmu’ Syarah al Muhadzab disebutkan, dianjurkan bagi suami untuk menyamakan dalam berhubungan badan, karena ini lebih sempurna dalam berbuat adil. Kalau dia tidak melakukannya, maka tidak mengapa. Karena dorongan untuk melakukan hubungan badan adalah nafsu syahwat dan rasa cinta. Dan tidak mungkin menyamakan di antara para isteri. Oleh sebab itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Artinya : Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian” [An-Nisaa`:129]

Menurut 'Abdullah bin 'Abbas, yaitu dalam hal rasa cinta dan hubungan badan. 'Aisyah sendiri menjelaskan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi di antara isteri-isteri beliau dan berbuat adil, kemudian (beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: "Ya, Allah. Inilah pembagianku pada isteri-isteriku yang aku miliki, dan janganlah Engkau cela diriku pada apa yang Engkau miliki dan tidak aku miliki," yaitu hati.[13] Dan di bagian lain dikatakan: "Akan tetapi dianjurkan untuk menyamakan di antara para isteri dalam berhungan badan, karena ini yang menjadi tujuan".

[2]. Seorang suami wajib untuk memenuhi kebutuhan biologis isterinya, tentunya sesuai dengan kemampuannya. Kalau ia tidak melakukannya, maka dia tidak akan merasa aman dari kerusakan, yang mungkin terjadi pada isterinya, bahkan terkadang dapat menyebabkan permusuhan, kebencian dan perselisihan di antara keduanya.[15]

Sifat Calon Penghuni Neraka

Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan, bahwa di antara sifat penghuni neraka adalah bodoh, dan bahwa Dia menutup pintu-pintu ilmu bagi mereka. Allah Ta'ala berfirman menjelaskan tentang penghuni neraka,

فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ * وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

Dan mereka berkata: Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala (Al-Mulk: 10-11)

Mereka mengakui bahwa ketika mereka di dunia mereka tidak mau mendengar dan tidak berpikir. Pendengaran dan berpikir ialah landasan ilmu dan dengan keduanya ilmu didapatkan. Allah Ta'ala berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A'raaf: 179).

Pada ayat ini, Allah Subhanahu wa ta'ala menjelaskan bahwa mereka tidak mendapatkan ilmu dari salah satu tiga sumber ilmu, yaitu akal, pendengaran,dan penglihatan, seperti difirmankan Allah ta'ala pada ayat yang lain,

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).(Al-Baqarah: 18).

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.(Al-Hajj: 46).

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِؤُون

Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya (Al-Ahqaf: 26).

Seperti yang Anda lihat pada ayat di atas, Allah subhanahu wa ta'ala melukiskan orang-orang yang celaka itu tidak mempunyai ilmu. Selain itu, Allah subhanahu wa ta'ala menyerupakan mereka terkadang dengan binatang ternak, terkadang dengan keledai yang mengangkut muatan, terkadang menjadikan mereka lebih sesat daripada binatang ternak, terkadang menjadikan mereka sebagai makhluk yang paling buruk di sisi-Nya, terkadang menjadikan mereka sebagai orang-orang mati yang tidak hidup, tekadang menjelaskan bahwa mereka berada dalam kegelapan kebodohan dan kesesatan, terkadang menjelaskan bahwa di hati mereka terdapat penyekat, di telinga mereka terdapat penutup, dan di mata mereka terdapat penghalang.

Ini menunjukkan jeleknya kebodohan, kecaman untuk orang-orang bodoh, dan murka Allah subhanahu wa ta'ala untuk mereka. Allah subhanahu wa ta'ala mencintai orang-orang berilmu, memuji mereka, dan menyanjung mereka seperti telah dijelaskan pada halaman sebelumnya, Allah tempat meminta pertolongan.

Mengetahui Agama termasuk tanda-tanda kebaikan

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Muawiyah radhiallahu’anhu yang berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

من يرد الله به خيراً يُفقهه في الدين

Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya paham dalam agamanya (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan, bahwa barangsiapa tidak dikondisikan Allah Ta'ala mengerti agama, maka Allah tidak menghendaki kebaikan padanya, barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah maka Dia membuatnya memahami agama, dan barangsiapa telah dikondisikan Allah memahami agamanya, berarti Allah menghendaki kebaikan padanya, jika yang dimaksud dengan pemahaman di sini yaitu ilmu yang menghasilkan amal perbuatan.. Tapi, jika yang dimaksud dengan pemahaman adalah ilmu semata, itu tidak menunjukkan bahwa orang yang telah memahami agama berarti telah dikehendaki balk oleh Allah, karena pemahaman menuntut munculnya keinginan untuk berbuat baik

Nasehat buat Calon Istri dan Istri?

Wanita mana yang mau dimadu?
Demikian ungkapan yang sering kita dengar. Memang, pada umumnya, sebagian kita tidak ingin, tidak siap, dan tidak mau untuk berbagi suami. Tidak untuk dimadu maupun menjadi madu. Sebagian kita, atau kebanyakan kita, sangat takut jika suami yang sangat kita sayangi dan cintai menikah lagi. Ketakutan ini semakin bertambah ketika kita mendengar, membaca, apalagi menyaksikan sendiri kisah-kisah nestapa dari keluarga yang menjalankan "poligami tidak sehat".

Motivasi menikah lagi
Banyak faktor yang mendorong seorang suami untuk menikah lagi. Diantara faktor tersebut adalah: istri sakit, hasrat seksual yang tinggi, istri mandul, atau karena alasan-alasan khusus misalnya banyaknya jumlah wanita, sedikitnya jumlah laki-laki, menolong wanita yang sudah tua, janda, banyak anak, ataupun alasan politik demi kemaslahatan umat.

Tidak menutup kemungkinan pula, seorang suami mempunyai keinginan untuk menikah lagi karena kepribadian sang istri yang kurang (baca: tidak) berkenan di hati sang suami. Motif yang terakhir ini tidak dapat disalahkan, seorang laki-laki mencari pendamping hidup untuk memperoleh rasa nyaman, bahagia, sakinah, mawadah, dah rahmah. Namun, yang didapatkan sang suami dalam kesehariannya bertolak belakang dari keinginannya. Ia senantiasa mendapatkan ucapan dan perbuatan yang selalu menjengkelkan dan menyakitkan hatinya. Jika ini terjadi berulang kali,dan karakter buruk istri sulit diperbaiki, tidak menutup kemungkinan, sang suami mulai berpikir menikahi wanita lain untuk mendapatkan apa yang diimpikan sebelumnya. Ia akan mencari wanita yang dianggapnya lebih baik, lebih shalih, lebih bisa membuat dia bahagia dan tenang seperti yang dia idam-idamkan.

Suami tidak setia?
Keputusan menikah lagi adalah keputusan yang besar sekali. Pilihan yang sangat berat. Pilihan ini tidak menunjukkan bahwa ia bukanlah tipe seorang suami yang setia. Justru karena kasih sayang dan cintanya yang begitu besar kepada istri dan anak-anaknya, ia lebih memilih untuk memadu istrinya ketimbang bercerai. Andaikata ia bukan tipe seorang suami yang setia, sayang dan cinta kepada istri dan anak-anak, tentunya ia tidak akan peduli dengan nasib mereka. Ia tidak akan memikirkan perasaan dan masa depan yang akan dialami oleh istri dan anak-anak nya pasca perceraian. Sebagaimana kita tahu, perceraian membawa konsekuensi yang sangat besar bagi kehidupan sang istri dan anak-anak nya.

Antisipasi agar tidak dimadu suami
Sebagian kita ada yang menolak dengan keras jika mengetahui kehendak suami untuk menikah lagi. Bahkan ada yang mengancam dan memberikan pilihan kepada suami: "pilih aku atau dia". Tak jarang pula, ada yang minta diceraikan ketimbang harus berbagi suami.

Ada pula yang mengantisipasi dengan membatasi ruang gerak suami. Sang istri menerapkan pengawasan melekat terhadap suami, setiap saat dia menghubungi sang suami. Seorang istri bertindak seolah menjadi manajer suami, ia menentukan kegiatan mana aja yang bisa diikuti oleh suami, ia juga menentukan kapan suami bisa meninggalkan rumah, kapan suami harus pulang, Semua dengan keinginan sepihak dari istri dengan ketentuan yang ketat.

Bahkan, tidak menutup kemungkinan, sang istri mengantisipasinya dengan menggalang dukungan untuk menolak keinginan sang suami, atau bahkan melakukan terror kepada calon istri kedua.

Sebenarnya bukanlah hal yang salah jika seorang wanita berupaya dan melakukan antisipasi, agar sang suami tidak menikah lagi. Yang jadi masalah jika antisipasi yang dilakukan sang istri sampai melanggar batas aturan Allah Azza wa Jalla. Apalagi jika muncul rasa benci kepada syariat Allah dan pelakunya. Ia membenci bahkan menentang syariat yang diturunkan Allah subhanahu wa ta'ala dan telah dipraktikkan oleh rasul dan sebagian sahabat.

Raih simpati agar disayang suami
Sebagaimana yang disebutkan diatas, ada kalanya seorang suami ingin menikah lagi dikarenakan kepribadian dan karakter yang kurang berkenan dari sang istri. Oleh karena itu, tidak salah jika para wanita mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan ini. Salah satunya dengan berusaha maksimal untuk senantiasa meraih simpati agar senantiasa disayang suami . Salah satu kiat nya dengan menjauhi kesalahan-kesalahan yang biasa dilakukan seorang istri.
Diantara kesalahan-kesalahan yang terkadang dilakukan seorang istri sebagai berikut:
1. Menuntut keluarga yang ideal dan sempurna
Sebelum menikah, seorang wanita membayangkan pernikahan yang begitu indah, kehidupan yang sangat romantis sebagaimana ia baca dalam novel maupun ia saksikan dalam sinetron-sinetron. Ia memiliki gambaran yang sangat ideal dari sebuah pernikahan. Kelelahan yang sangat, cape, masalah keuangan, dan segudang problematika di dalam sebuah keluarga luput dari gambaran nya. Ia hanya membayangkan yang indah-indah dan enak-enak dalam sebuah perkawinan. Akhirnya, ketika ia harus menghadapi semua itu, ia tidak siap. Ia kurang bisa menerima keadaan, hal ini terjadi berlarut-larut, ia selalu saja menuntut suaminya agar keluarga yang mereka bina sesuai dengan gambaran ideal yang senantiasa ia impikan sejak muda. Seorang wanita yang hendak menikah, alangkah baiknya jika ia melihat lembaga perkawinan dengan pemahaman yang utuh, tidak sepotong-potong, romantika keluarga beserta problematika yang ada di dalamnya.
2. Nusyus (tidak taat kepada suami)
Nusyus adalah sikap membangkang, tidak patuh dan tidak taat kepada suami. Wanita yang melakukan nusyus adalah wanita yang melawan suami, melanggar perintahnya, tidak taat kepadanya, dan tidak ridha pada kedudukan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala telah tetapkan untuknya.

Nusyus memiliki beberapa bentuk, diantaranya adalah:
1. Menolak ajakan suami ketika mengajaknya ke tempat tidur, dengan terang-terangan maupun secara samar.
2. Mengkhianati suami, misalnya dengan menjalin hubungan gelap dengan pria lain.
3. Memasukkan seseorang yang tidak disenangi suami ke dalam rumah
4. Lalai dalam melayani suami
5. Mubazir dan menghambur-hamburkan uang pada yang bukan tempatnya
6. Menyakiti suami dengan tutur kata yang buruk, mencela, dan mengejeknya
7. Keluar rumah tanpa izin suami
8. Menyebarkan dan mencela rahasia-rahasia suami.

Seorang istri shalihah akan senantiasa menempatkan ketaatan kepada suami di atas segala-galanya. Tentu saja bukan ketaatan dalam kedurhakaan kepada Allah, karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ia akan taat kapan pun, dalam situasi apapun, senang maupun susah, lapang maupun sempit, suka ataupun duka. Ketaatan istri seperti ini sangat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan cinta dan memelihara kesetiaan suami.

3. Tidak menyukai keluarga suami
Terkadang seorang istri menginginkan agar seluruh perhatian dan kasih sayang sang suami hanya tercurah pada dirinya. Tak boleh sedikit pun waktu dan perhatian diberikan kepada selainnya. Termasuk juga kepada orang tua suami. Padahal, di satu sisi, suami harus berbakti dan memuliakan orang tuanya, terlebih ibunya.

Salah satu bentuknya adalah cemburu terhadap ibu mertuanya. Ia menganggap ibu mertua sebagai pesaing utama dalam mendapatkan cinta, perhatian, dan kasih sayang suami. Terkadang, sebagian istri berani menghina dan melecehkan orang tua suami, bahkan ia tak jarang berusaha merayu suami untuk berbuat durhaka kepada orang tuanya. Terkadang istri sengaja mencari-cari kesalahan dan kelemahan orang tua dan keluarga suami, atau membesar-besarkan suatu masalah, bahkan tak segan untuk memfitnah keluarga suami.
Ada juga seorang istri yang menuntut suaminya agar lebih menyukai keluarga istri, ia berusaha menjauhkan suami dari keluarganya dengan berbagai cara.

Ikatan pernikahan bukan hanya menyatukan dua insan dalam sebuah lembaga pernikahan, namun juga 'pernikahan antar keluarga'. Kedua orang tua suami adalah orang tua istri, keluarga suami adalah keluarga istri, demikian sebaliknya. Menjalin hubungan baik dengan keluarga suami merupakan salah satu keharmonisan keluarga. Suami akan merasa tenang dan bahagia jika istrinya mampu memposisikan dirinya dalam kelurga suami. Hal ini akan menambah cinta dan kasih sayang suami.

4. Tidak menjaga penampilan
Terkadang, seorang istri berhias, berdandan, dan mengenakan pakaian yang indah hanya ketika ia keluar rumah, ketika hendak bepergian, menghadiri undangan, ke kantor, mengunjungi saudara maupun teman-temannya, pergi ke tempat perbelanjaan, atau ketika ada acara lainnya di luar rumah. Keadaan ini sungguh berbalik ketika ia di depan suaminya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya yang kotor, cukup hanya mengenakan pakaian seadanya: terkadang kotor, lusuh, dan berbau, rambutnya kusut masai, ia juga hanya mencukupkan dengan aroma dapur yang menyengat.

Jika keadaan ini terus menerus dipelihara oleh istri, jangan heran jika suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang di rumah. Semestinya, berhiasnya dia lebih ditujukan kepada suami Janganlah keindahan yang telah dianugerahkan oleh Allah diberikan kepada orang lain, padahal suami nya di rumah lebih berhak untuk itu.

5. Kurang berterima kasih
Tidak jarang, seorang suami tidak mampu memenuhi keinginan sang istri. Apa yang diberikan suami jauh dari apa yang ia harapkan. Ia tidak puas dengan apa yang diberikan suami, meskipun suaminya sudah berusaha secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keinginan-keinginan istrinya.

Istri kurang bahkan tidak memiliki rasa terima kasih kepada suaminya. Ia tidak bersyukur atas karunia Allah yang diberikan kepadanya lewat suaminya. Ia senantiasa merasa sempit dan kekurangan. Sifat qona'ah dan ridho terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya sangat jauh dari dirinya.

Seorang istri yang shalihah tentunya mampu memahami keterbatasan kemampuan suami. Ia tidak akan membebani suami dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan suami. Ia akan berterima kasih dan mensyukuri apa yang telah diberikan suami. Ia bersyukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya, dengan bersyukur, insya Allah, nikmat Allah akan bertambah.

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih."

6. Mengingkari kebaikan suami
"Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka."
Demikian disampaikan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari.

Ajaib� !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?

"Karena kekufuran mereka," jawab Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam ketika para sabahat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.
Apakah mereka mengingkari Allah?
Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya. Demikian penjelasan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!
Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita� kita saling introspeksi � apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya� maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Bertobat� satu-satunya pilihan utuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan� masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku; kejarlah ajalmu� bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?

"Tidaklah seorang isteri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): "Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami begimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami." (HR. At Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat� apa yang telah kita lakukan selama ini � jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri� jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya� tentu sudah Engkau ketahui.

Jika suatu saat, muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami; janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.

"Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu." (HR.Ahmad)

7. Mengungkit-ungkit kebaikan
Setiap orang tentunya memiliki kebaikan, tak terkecuali seorang istri. Yang jadi masalah adalah jika seorang istri menyebut kebaikan-kebaikannya di depan suami dalam rangka mengungkit-ungkit kebaikannya semata.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)." [Al Baqarah: 264]

Abu Dzar radhiyallahu 'Anhu meriwayatkan, bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Ada tiga kelompok manusia dimana Allah tidak akan berbicara dan tak akan memandang mereka pada hari kiamat. Dia tidak mensucikan mereka dan untuk mereka adzab yang pedih."
Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakannya sebanyak tiga kali." Lalu Abu Dzar bertanya, "Siapakah mereka yang rugi itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang menjulurkan kain sarungnya ke bawah mata kaki (isbal), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya dan orang yang suka bersumpah palsu ketika menjual. " [HR. Muslim]

8. Sibuk di luar rumah
Seorang istri terkadang memiliki banyak kesibukan di luar rumah. Kesibukan ini tidak ada salahnya, asalkan mendapat izin suami dan tidak sampai mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Jangan sampai aktivitas tersebut melalaikan tanggung jawab nya sebagai seorang istri. Jangan sampai amanah yang sudah dipikulnya terabaikan.

Ketika suami pulang dari mencari nafkah, ia mendapati rumah belum beres, cucian masih menumpuk, hidangan belum siap, anak-anak belum mandi, dan lain sebagainya. Jika ini terjadi terus menerus, bisa jadi suami tidak betah di rumah, ia lebih suka menghabiskan waktunya di luar atau di kantor.

9. Cemburu buta
Cemburu merupakan tabiat wanita, ia merupakan suatu ekspresi cinta. Dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan wajar bila seorang istri merasa cemburu dan memendam rasa curiga kepada suami yang jarang berada di rumah. Namun jika rasa cemburu ini berlebihan, melampaui batas, tidak mendasar, dan hanya berasal dari praduga; maka rasa cemburu ini dapat berubah menjadi cemburu yang tercela.

Cemburu yang disyariatkan adalah cemburunya istri terhadap suami karena kemaksiatan yang dilakukannya, misalnya: berzina, mengurangi hak-hak nya, menzhaliminya, atau lebih mendahulukan istri lain ketimbang dirinya. Jika terdapat tanda-tanda yang membenarkan hal ini, maka ini adalah cemburu yang terpuji. Jika hanya dugaan belaka tanpa fakta dan bukti, maka ini adalah cemburu yang tercela.

Jika kecurigaan istri berlebihan, tidak berdasar pada fakta dan bukti, cemburu buta, hal ini tentunya akan mengundang kekesalan dan kejengkelan suami. Ia tidak akan pernah merasa nyaman ketika ada di rumah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, kejengkelannya akan dilampiaskan dengan cara melakukan apa yang disangkakan istri kepada dirinya.

10. Kurang menjaga perasaan suami
Kepekaan suami maupun istri terhadap perasaan pasangannya sangat diperlukan untuk menghindari terjadinya konflik, kesalahpahaman, dan ketersinggungan. Seorang istri hendaknya senantiasa berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti perasaan suami, ia mampu menjaga lisannya dari kebiasaan mencaci, berkata keras, dan mengkritik dengan cara memojokkan. Istri selalu berusaha untuk menampakkan wajah yang ramah, menyenangkan, tidak bermuka masam, dan menyejukkan ketika dipandang suaminya.

Demikian beberapa kesalahan-kesalahan istri yang sering dilakukan oleh suami yang seyogyanya kita hindari agar suami semakin sayang pada setiap istri. Sehingga kemungkinan istri dimadu suami karena alasan kepribadian dan tabiat istri yang kurang menyenangkan semakin kecil.

Senin, 24 Mei 2010

Wanita Rentan Alami Gangguan Jiwa Ringan?

Perempuan lebih rentan mengalami gangguan jiwa ringan dibandingkan dengan laki-laki. Kerentanan tersebut antara lain disebabkan oleh faktor biologis dan budaya.

Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 menyebutkan, prevalensi penduduk berusia lebih dari 15 tahun yang mengalami gangguan mental emosional ringan pada perempuan 16 persen dan pada laki-laki 9 persen.

"Perempuan yang kerap diperlakukan sebagai makhluk tidak berdaya menginginkan kesetaraan dengan laki-laki. Namun, pola asuh tidak selalu demikian atau masih mendua," ujar Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Tun Kurniasih Bastaman di sela acara seminar tentang kesehatan jiwa yang diadakan Kementerian Kesehatan, Senin (24/5/2010). Itu pula yang menyebabkan perempuan lebih rentan bunuh diri.

Penanggung Jawab Kesehatan Jiwa pada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Indonesia, Albert Maramis, mengungkapkan, faktor biologis seperti siklus hormonal, persalinan, dan menopause ikut memengaruhi gangguan emosional pada perempuan.

Tun menambahkan, perempuan dan laki-laki mempunyai risiko yang sama untuk menderita gangguan jiwa berat. Namun, derajat keparahan gangguan kejiwaan berat itu lebih besar pada pria sehingga penderita pria lebih banyak yang harus dirawat di rumah sakit jiwa.

Secara sederhana, gangguan mental atau kejiwaan dapat dikelompokkan menjadi gangguan emosional ringan dan gangguan berat, seperti skizofrenia, manik depresif, dan psikosis.

Usir Stres dengan 9 Makanan Ini?

Olahraga teratur, mengonsumsi makanan dan minuman penambah energi saat sarapan, serta mengunyah makanan ringan di sela-sela jam makan, memang terbukti bisa menstabilkan gula darah dan menghambat stres.

Namun, banyaknya aktivitas dan buruknya cuaca terkadang juga bisa menjadi pemicu timbulnya stres. Untuk menangkal stres, berikut jenis makanan yang bisa menurunkan energi emosional Anda, seperti di kutip dari laman msn.com.

Jeruk

Sebuah penelitian di Jerman di Psychopharmacology, menemukan vitamin C bisa membantu mengurangi stres, menurunkan tekanan darah dan membuat kadar kortisol kembali ke tingkat normal. Vitamin C juga terkenal untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Ubi jalar

Ubi jalar dapat membantu mengurangi stres karena dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat yang bisa meredam stres. Makanan ini kaya vitamin, betakaroten, serat, sehingga membantu proses tubuh Anda tetap mendapat asupan karbohidrat.

Aprikot kering

Buah ini kaya magnesium yang merupakan pengusir stres, dan berkhasiat untuk merelaksasi otot dari dalam secara alami.

Almond, pistachio dan walnut

Almond kaya kandungan vitamin B dan vitamin E, yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, termasuk kenari dan pistachio yang dapat menurunkan tekanan darah.

Kalkun

Daging unggas satu ini mengandung asam amino yang disebut L-tryptophan. Asam amino ini memicu pelepasan serotonin, kimia otak yang bisa meningkatkan mood. Ini adalah alasan mereka yang mengonsumsi kalkun lebih relaks, terutama setelah makan itu. Karena, L-Tryptophan memiliki efek menenangkan.

Bayam

Kekurangan magnesium bisa menyebabkan migrain dan perasaan lelah. Satu mangkuk bayam rebus bisa menyediakan 40 persen dari kebutuhan magnesium harian Anda.

Salmon

Diet tinggi asam lemak omega-3 melindungi terhadap penyakit jantung. Sebuah studi dari Diabetes & Metabolisme menemukan bahwa omega-3 mempertahankan kortisol hormon stres tetap stabil dan adrenalin dari puncak.

Avokad

Lemak tak jenuh tunggal dan potasium dalam avokad membantu menurunkan tekanan darah. 'The National Heart, Lung, and Blood Institute' mengatakan, salah satu cara terbaik untuk menurunkan tekanan darah adalah dengan mengonsumsi cukup kalium (avokad memiliki lebih banyak kalium daripada pisang).

Sayuran hijau

Brokoli dan sayuran hijau gelap lainnya mengandung vitamin yang membantu menenangkan pikiran dan tubuh saat stres.

Active work . Active prayer .All good active

Minggu, 23 Mei 2010

PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEKERASAN RUMAH TANGGA

Setiap orang di dunia ini, tidak menginginkan menjadi korban kekerasan dalam bentuk apapun dan karena alasan apapun. Tetapi realitas sosial yang penuh dengan ragam kepentingan terkadang, dengan kesadaran atau tanpa kesadaran, memaksa orang untuk berbuat timpang dan menindas orang lain. Kekerasan-kekerasan pun terjadi dan masih terus akan terjadi selama konflik kepentingan itu masih ada dalam kehidupan ini. Semangat untuk mencari dan mewujudkan keadilan, menjadi penting untuk terus digulirkan dalam rangka menghapuskan ekses ketimpangan kehidupan, menghentikan kekerasan dan memberikan perlindungan kepada korban.

Kasus-kasus kekerasan dan penindasan yang menimpa kemanusiaan telah memotivasi banyak kalangan untuk mendakwahkan cara hidup dan pranata kehidupan yang lebih adil dan penuh kedamaian. Perbudakan manusia, penjajahan bangsa, perampasan sumber daya, kekerasan terhadap buruh dan minoritas, serta segala jenis kekerasan berbasis gender menjadi isu global yang diserukan untuk dihentikan. Sebagian sudah berhasil, seperti perbudakan manusia dan penjajahan dunia—walaupun saat ini wacana tentang perbudakan moderen (modern slavery) masih dirasakan oleh sebagian kalangan manusia seperti fenomena perdagangan manusia terutama pada perempuan dan anak- anak. Sebagian yang lain masih harus terus diperjuangkan untuk mendapatkan perhatian yang lebih layak.

Salah satu fenomena kekerasan terhadap manusia yang masih sering terjadi dan memerlukan perhatian dan penanganan serius adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Relasi suami-isteri yang timpang masih terus menimbulkan banyak korban dari kalangan perempuan dan anak-anak.

Minimnya kesadaran keadilan, cara pandang terhadap perempuan dan kesalahan dalam memahami pesan-pesan dan ajaran agama terkait hubungan suami isteri telah menyebabkan banyak orang, bahkan dari kalangan umat beragama dengan mudah melakukan kekerasan terhadap perempuan. Kehidupan rumah tangga yang diasumsikan dibangun untuk menumbuhkan keamanan dan kedamaian, justru berbalik menjadi tempat yang berpotensi terhadap tindak kekerasan.

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KDRT

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya KDRT yaitu antara lain:

Pertama dan yang utama adalah adanya ketimpangan relasi antara laki-laki dan perempuan; baik di rumah tangga, maupun dalam kehidupan publik. Ketimpangan ini, yang memaksa perempuan dan laki-laki untuk mengambil peran-peran gender tertentu, yang pada akhirnya berujung pada perilaku kekerasan. Di keluarga misalnya, kebanyakan masyarakat percaya bahwa suami adalah pemimpin bahkan penguasa keluarga. Suami juga merasa dituntut untuk mendidik istri dan mengembalikannya pada jalur yang benar, yang pada akhirnya menggunakan tindak kekerasan.

Kedua, ketergantungan istri terhadap suami secara penuh. Terutama untuk masalah ekonomi, yang membuat istri benar-benar berada di bawah kekuasaan suami.
Ketiga, keyakinan-keyakinan yang berkembang di masyarakat termasuk yang yang bersumber dari tafsir agama, bahwa perempuan boleh dipukul kalau membangkang suami, perempuan harus tunduk suami, tidak boleh keluar rumah tanpa izin suami, perempuan harus mengalah, bersabar atas segala persoalan keluarga, tentang konsep istri shalihah dll. Keyakinan tersebut telah berkembang di masyarakat secara salah kaprah dan banyak dijadikan dalih bagi kaum laki-laki untuk melakukan kekerasan terhadap pasangannya.

ISLAM MENENTANG KDRT

Islam sangat menentang kekerasan dalam bentuk apapun termasuk dalam kehidupan rumah tangga. Prinsip yang diajarkan Islam dalam membangun rumah tangga adalah mawaddah, rahmah dan adalah (kasih, sayang dan adil). Dalam al-Qur'an disebutkan " Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir" (Ar-rum: 21). Daslam ayat lain disebutkan "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri- isteri [mu], walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung [kepada yang kamu cintai], sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri [dari kecurangan], maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (An-Nisa: 129).

Allah s.w.t. juga berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. al-A’râf, 7:56).
“Wahai hamba-hamba-Ku, Aku haramkan kezaliaman terhadap diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu juga haram di antara kamu, maka janganlah kamu saling menzalimi satu sama lain”. (Hadis Qudsi, Riwayat Imam Muslim).

Text-text di atas sangat jelas menggariskan bahwa salah satu tujuan berumah tangga, adalah untuk menciptakan kehidupan yang penuh ketentraman dan bertabur kasih sayang. Keluarga sakînah anggota yang ada di dalamnya. Atau keluarga sakînah, mawaddah wa rahmah hanya bisa terbentuk apabila setiap anggota keluarga berupaya untuk saling menghormati, menyayangi, dan saling mencintai. Itulah fondasi dasar sebuah keluarga dalam Islam. Maka kekerasan dalam rumah tangga sangat dicela Islam dan sangat bertentangan dengan nilai-nailai keislaman.

FIQIH ANTI KDRT

Menjawab masalah KDRT melalui kacamata agama Islam adalah dengan implementasi hukum-hukum Islam ("Fiqih"), khususnya yang terkait dengan aturan dan ketentuan berumah tangga secara proporsional, benar dan kontekstual. Fenomena salah kaprah dalam memahami dan mengimplementasikan hukum-hukum agama yang terjadi di masyarakat perlu diluruskan, diproporsionalkan dan disosialisasikan sehingga KDRT yang dilakukan sebagian orang dengan dalih agama dapat dikurangi. Di samping itu, nilai-nilai mulia keagamaan yang anti kekerasan juga perlu terus didakwahkan. Dengan begitu, masyarakat kita yang cenderung fikih-minded juga mengamalkan fikih anti KDRT ini sebagai bagian dari keberagamaan mereka.

Berikut ini beberapa contoh hukum-hukum Islam yang sering salah dipahami dan digunakan sebagai dalih dalam beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga.

1. Hukum memukul isteri

Dalam surah An-Nisa' ayat:34 dikatakan:"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara [mereka]. Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Ayat tersebut secara eksplisit menyebutkan bahwa bagi suami yang menghadapi isteri yang nusyuz (membangkang) diperbolehkan memukulnya, setelah nasehat dan boikot ranjang tidak berhasil. Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum ini, ada yang mengatakan boleh asal tidak membekas dan tidak memukul muka. Namun beberapa ulama besar termasuk imam syafii mengatakan bagaimanapun memukul isteri itu hukumnya makruh dan sangat tercela.

Dalam tataran praktik, banyak kalangan masyarakat yang memilih pendapat pertama sehingga banyak sekali kasus-kasus pemukulan isteri yang melampau batas-batas yang telah digariskan. Kasus-kasus ini tidak sedikit yang mengatasnamakan ‘kebolehan’ dari Islam.

Pandangan ini harus dirubah dan diganti dengan pendapat kedua yang mengatakan bahwa pemukulan terhadap istri, apapun bentuknya, adalah pelanggaran terhadap ajaran kasih sayang dan anjuran keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, yang ditegaskan al-Qur’an. Pandangan ini sesuai dengan hadis Nabi SAW. yang diriwayatkan Abdullah bin Zam’ah, bahwa Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya aku tidak senang (benci) terhadap lelaki yang memukul istrinya ketika dia marah, padahal bisa saja setelah itu menggaulinya pada hari yang sama”. (Ibn ‘Arabi, juz I, hal. 420). Dalam riwayat lain Rasulullah s.a.w. mengatakan “Mereka suami yang suka memukul isteri bukanlah orang-orang yang terbaik”. (Riwayat Abu Dawud). Imam Ali bin Abi Thalib ra juag mengatakan: “Hanya orang-orang mulia yang akan memuliakan perempuan, dan hanya orang-orang hina yang menistakan perempuan”.

2. Hukum Kawin Paksa

Ada silang pendapat dalam kalangan ulama fiqih tentang hukum kawin paksa. Sebagian berpendapat boleh karena kekuasaan menikahkan bagi seorang gadis adalah terletak pada walinya atau oarng tuanya. Celakanya pendapat ini dijadikan landasan bagi kasus-kasus kawin paksa.

Pandangan itu harus kita kikis dan kita ganti dengan pendapat yang benar bahwa ajaran Islam sama sekali menentang tindakan kawin paksa dan wajib hukumnya mempertimbangkan pendapat mempelai dalam pernikahan. Pendapat ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, Malik, Abu Dawud dan an-Nasa’i, bahwa ketika seorang perempuan yang bernama Khansa binti Khidam ra merasa dipaksa dikawinkan oleh orang tuanya, Nabi mengembalikan keputusan itu kepadanya; mau diteruskan atau dibatalkan, bukan kepada orang tuanya. Bahkan dalam riwayat Abu Salamah, Nabi SAW. menyatakan kepada Khansa r.a.: “Kamu yang berhak untuk menikah dengan seseorang yang kamu kehendaki”. Khansa pun pada akhirnya kawin dengan laki-laki pilihannya Abu Lubabah bin Abd al-Mundzir r.a. Dari perkawinan ini ia dikarunia anak bernama Saib bin Abu Lubabah. (Lihat: Jamaluddin Abdullah bin Yusuf az-Zayla’i, Nashb ar-Rayah Takhrîj Ahâdîts al-Hidâyah, 2002: Dar al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, Beirut, juz III, hal. 232).

3. Hukum Hubungan Seksual Suami Isteri

Dalam sebuah hadis, dari Sahabat Abu Hurairah ra, dikatakan bahwa Nabi SAW. bersabda: “Jika suami mengajak isterinya ke tempat tidur, tetapi sang isteri menolak, sehingga suami marah sampai pagi, maka sang isteri akan dilaknat para malaikat sampai pagi”. (HR. Bukhari).

Banyak yang salah memahami hadis tersebut bahwa wajib bagi isteri untuk melayani suami dalam kondisi apapun. Isteri ibarat pelayan seksual suami sehingga ia wajib melayani suami kapanpun dan ia selalu dituntut untuk memberikan kepuasan terhadap suami, kapan dan di manapun. Sementara dirinya tidak diberi kesempatan untuk memperoleh kepuasan. Apabila isteri menolak maka sering terjadi kekerasanlah yang justru menimpa isteri.

Perilaku dan pandangan umum seperti itu perlu diluruskan dan ditegaskan bahwa itu menyalahi ajaran dasar Islam. Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa suami adalah baju bagi isteri, dan sebaliknya isteri adalah baju bagi suami (Hunna libâsun lakum wa antum libâsun lahunn, QS. Al-Baqarah, 2: 187). Ayat ini lahir dalam konteks hubungan intim antara suami dan isteri. Sehingga bisa dikatakan bahwa kebutuhan dan kepuasan seksual menurut al-Qur’an, adalah persoalan yang bersifat timbal balik. Jika ingin dipuaskan pasangannya, tentu pada saat yang sama ia harus bisa memuaskan. Suami juga harus mengerti ketika sang isteri menolak hubungan intim karena persoalan kelelahan, kesehatan atau alasan lainnya.

Teks hadis mengenai laknat di atas tidak seharusnya dipahami secara literal. Para ulama fiqh sendiri, telah menyatakan bahwa pelaknatan ini ditujukan kepada perempuan yang menolak dengan tanpa alasan apapun. Bahkan menurut Hamim Ilyas, bahwa teks hadis di atas lahir pada konteks di mana banyak perempuan yang melakukan “pantang bilah” terhadap suaminya. Yaitu tradisi para perempuan untuk tidak melayani suaminya selama menyusui, setelah melahirkan. Tradisi ini yang mendasari lahirnya pernyataan Nabi SAW. tentang laknat tersebut. Tentu saja tradisi ini sangat memberatkan suami untuk tidak berhubungan intim, apalagi kalau masa menyusui sampai mencapai dua tahun. Karena itu, Nabi SAW. menganjurkan para istri untuk tidak menolak ajakan suami pada masa pantang bilah tersebut. (Lusi Margiyani (ed.), 1999: hal. 173).

PENUTUP

Masih banyak pandangan, persepsi maupun tradisi keagamaan yang salah di masyarakat kita terkait hubungan rumah tangga, sehingga sering menimbulkan ketimpangan atau bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Adalah tanggung jawab semua kalangan untuk meluruskan pandangan-pandangan dan tradisi-tradisi yang salah tersebut. Para ulama dan guru agama selaku pendakwah ajaran agama perlu melakukan perannya dengan baik. Perangkat hukum yang melindungi kaum ibu dan perempuan juga perlu diciptakan agar kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dapat diatasi melalui jalur pengadilan. Masyarakat juga perlu diberi wawasan akan bahaya kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana mensikapi dan mencari solusinya.

Dan yang terlebih penting lagi adalah peran kaum perempuan sendiri untuk bergerak memperjuangkan hak-hak mereka dan mengupayakan perlindungan bagi mereka dari sasaran kekerasan dan ketertindasan. Kaum perempuan tidak selayaknya hanya menunggu uluran tangan orang lain dan enggan bergerak. Masih banyak kalangan perempuan yang justru terlena dengan pranata-pranata nilai keagamaan yang sebenarnya mengkerdilkannya dan bahkan masih banyak kaum wanita yang sengaja bersembunyi di balik tirani-tirani hukum dan tradisi yang sebenarnya telah mengekangnya dan merenggut kemerdekaannya.