Rabu, 23 Juni 2010

Mencapai Hati yang Istiqamah

Hati adalah sumber kebaikan dan keburukan seseorang. Bila hati penuh dengan ketaatan kepada Allah, maka perilaku seseorang akan penuh dengan kebaikan. Sebaliknya, bila hati penuh dengan syahwat dan hawa nafsu, maka yang akan muncul dalam perilaku adalah keburukan dan kemaksiatan.
Keburukan dan kemaksiatan ini bisa datang karena hati seseorang dalam keadaan lengah dari dzikir kepada Allah. Ibnul Qoyyim al-Jauziyah berkata, “Apabila hati seseorang itu lengah dari dzikir kepada Allah, maka setan dengan serta merta akan masuk ke dalam hati seseorang dan mempengaruhinya untuk berbuat keburukan. Masuknya setan ke dalam hati yang lengah ini, bahkan lebih cepat daripada masuknya angin ke dalam sebuah ruangan.”

Oleh karena itu, hati seorang mukmin harus senantiasa dijaga dari pengaruh setan ini. Yaitu, dengan senantiasa berada dalam sikap taat kepada Allah SWT. Upaya inilah yang disebut dengan Istiqamah.

Imam al-Qurtubi berkata, “Hati yang istiqamah adalah hati yang senantiasa lurus dalam ketaatan kepada Allah, baik berupa keyakinan, perkataan, maupun perbuatan.” Lebih lanjut beliau mengatakan, “Hati yang istiqamah adalah jalan menuju keberhasilan di dunia dan keselamatan dari azab akhirat. Hati yang istiqamah akan membuat seseorang dekat dengan kebaikan, rezekinya akan dilapangkan dan akan jauh dari hawa nafsu dan syahwat. Dengan hati yang istiqamah, maka malaikat akan turun untuk memberikan keteguhan dan keamanan serta ketenangan dari ketakutan terhadap adzab kubur. Hati yang istiqamah akan membuat amal diterima dan menghapus dosa.”

Ma’asyiral muslimin rakhimahullah!
Ada banyak cara untuk menggapai hati yang istiqamah ini. Di antaranya: pertama, meletakkan cinta kepada Allah SWT di atas segala-galanya. Ini adalah persoalan yang tidak mudah dan butuh perjuangan keras. Karena, dalam kehidupan sehari-hari kita sering mengalami benturan antara kepentingan Allah dan kepentingan makhluk, entah itu kepentingan orang tua, guru, teman, saudara, atau yang lainnya. Apabila dalam kenyataanya kita lebih mendahulukan kepentingan makhluk, maka itu pertanda bahwa kita belum meletakkan cinta Allah di atas segala-galanya.

Padahal, Allah SWT telah menegaskan bahwa siapa yang lebih mencintai sesuatu selain Allah, maka ia justru akan tersiksa dengan rasa cintanya itu. Siapa yang takut karena selain Allah, maka ia justru akan dikuasai oleh rasa takutnya itu. Siapa yang sibuk dengan selain Allah, maka ia akan mengalami kebosonan dan siapa yang mendahulukan yang lain daripada Allah, maka ia tidak akan mendapatkan keberkahan dari-Nya.

Kedua, membesarkan perintah dan larangan Allah. Membesarkan perintah dan larangan Allah harus dimulai dari membesarkan dan mengagungkan pemilik perintah dan larangan tersebut, yaitu Allah SWT. Allah SWT berfirman yang artinya, “Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah.” Ulama dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, “Mengapa kalian tidak takut akan kebesaran Allah.”

Membesarkan perintah Allah di antaranya adalah dengan menjaga waktu salat, melakukannya dengan khusyu, memeriksa rukun dan kesempurnaannya serta melakukannya secara berjamaah.

Ketiga, senantiasa berzikir kepada Allah. Zikir adalah wasiat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan wasiat Rasulullah kepada ummatnya. Dalam sebuah hadis qudsi Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingat-Nya dalam diri-Ku. Dan barang siapa yang mengingat-Ku dalam kesibukan, maka Aku akan mengingat-Nya dalam kesibukan yang lebih baik darinya.” (HR Bukhari).

Keempat, Mempelajari kisah orang-orang saleh terdahulu. Hal ini diharapkan agar kita bisa mengambil pelajaran dari mereka. Bagaimana kesabaran mereka ketika menghadapi ujian yang berat, kejujuran mereka dalam bersikap, dan keteguhan mereka dalam mempertahankan keimanan.

Allah SWT berfirman, “Sungguh dalam kisah-kisah mereka terdapat ibrah (pelajaran) bagi orang yang memiliki akal, ….”

Kelima, senantiasa berpikir tentang kebesaran ciptaan Allah. Allah SWT memiliki ciptaan yang indah dan besar. Dengan memikirkan ciptaannya diharapkan bisa menyadari betapa besar kekuasaan Allah terhadap ciptaan-Nya itu. Allah SWT berfirman, “Wahai manusia, telah diberikan kepada kalian beberapa permisalan, maka dengarkanlah (perhatikanlah) permisalan itu. Sesungguhnya orang-orang yang engkau seru selain Allah, mereka tidak akan mampu untuk menciptakan lalat, meskipun untuk melakukannya itu mereka berkumpul bersama�.”

Demikianlah beberapa hal yang akan mengantarkan kita kepada hati yang istiqamah. Dan mudah-mudahan saja kita bisa mendapatkannya.

Solehah

Isteri Cerdik Yang Solehah
Penyejuk Mata Penawar Hati Penajam fikiran
Di Rumah Dia Istri Di Jalanan Kawan
Di Waktu Kita Buntu
Dia Penunjuk Jalan

Isteri Cerdik Yang Solehah
Penyejuk Mata Penawar Hati Penajam fikiran
Di Rumah Dia Istri Di Jalanan Kawan
Di Waktu Kita Buntu
Dia Penunjuk Jalan

Pandangan Kita Diperteguhkan
Menjadikan Kita Tetap Pendirian
Ilmu Yang Diberi Dapat Disimpan
Kita Lupa Dia Mengingatkan

Isteri Cerdik Yang Solehah
Penyejuk Mata Penawar Hati Penajam fikiran
Di Rumah Dia Istri Di Jalanan Kawan
Di Waktu Kita Buntu
Dia Penunjuk Jalan

Nasihat Kita Dijadikan Pakaian
Silap Kita Dia Betulkan
Penghibur Diwaktu Kesunyian
Terasa Ramai Bila Bersamanya

Dia Umpama Tongkat Sibuta
Bila Tiada Satu Kehilangan
Dia Ibarat Simpanan Ilmu
Semoga Kekal Untuk Diwariskan

Isteri Cerdik Yang Solehah
Penyejuk Mata Penawar Hati Penajam fikiran
Di Rumah Dia Istri Di Jalanan Kawan
Di Waktu Kita Buntu
Dia Penunjuk Jalan

Dia Umpama Tongkat Sibuta
Bila Tiada Satu Kehilangan
Dia Ibarat Simpanan Ilmu
Semoga Kekal Untuk Diwariskan
Istri Cerdik Yang Sholehah

Dia Umpama Tongkat Sibuta
Bila Tiada Satu Kehilangan
Istri Cerdik Yang Sholehah
Dia Ibarat Simpanan Ilmu
Semoga Kekal Untuk Diwariskan

Isteri Cerdik Yang Solehah
Penyejuk Mata Penawar Hati Penajam fikiran
Di Rumah Dia Istri Di Jalanan Kawan
Di Waktu Kita Buntu
Dia Penunjuk Jalan

Isteri Cerdik Yang Solehah
Penyejuk Mata Penawar Hati Penajam fikiran
Di Rumah Dia Istri Di Jalanan Kawan
Di Waktu Kita Buntu
Dia Penunjuk Jalan
Kehidupan kita sehari-hari kita bagaikan cangkir yang setengahnya dipenuhi air, sedang separohnya lagi kosong. Kamu tidak menghukuminya bahwa ia penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya. Demikian pun manusia. Kamu tidak akan menemui mereka hidupnya penuh seluruhnya atau kosong seluruhnya. Tetapi setiap kita mepunyai bagian dari kebahagiaan dan kesedihan. Oleh sebab itu, seseorang merasa bahagia atau sedih sesuai dengan penglihatannya kepada cangkir yang ia pergunakan untuk minum. Jika ia melihat kepada separohnya yang berisi air, ia akan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Jika ia melihat kepada separohnya lagi yang kosong, ia akan merasakan kedukaan dalam hidupnya.
Jika jiwa kita terdorong untuk mengeluh, maka segera ingatkan diri bahwa hidup ini tidak sepenuhnya kosong, tapi separohnya lagi dipenuhi air. Ketika itu akan hilanglah keluh kesah dan kesedihan.
wah klo pahit manisx kehidupan khususx asmara banyak banget........
manisnya dalam asmara kalo kita baru jatuh cinta dan ngerasa dunia ini hanya milik berdua ma pasangan kita hari2 terasa indah jika kita bersamanya tapi dunia terasa hancur kalo kita berpisah apalagi sampe putus apalagi jika yg menyebabkan perpisahan itu karena adanya perselelingkuhan yg sering banget terjadi yah aq ngadepinnya dengan bersikap sabar aja dan berfikir positif klo dy tuh bukan yg terbaik buat kita dan semakin mendekatkan diri pada sang pencipta begitupun klo aq da masalah ma kluarga aq karena aq ngerasa tenang dan damai banget klo habis sholat ketika kita ada masalah........................
smua itu pross kehidupan smua pasti mengalaminya ...itulah proses kedewasaan diri di ibaratkan kaya ulat jadi kepompong kepongpong jadi kupu2 ,permasalahan yang ada pada diri kita adalah ujian untuk menuju kedewasan diri.....

Memperindah Hati

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS Asy-Syams [91]:9-10)

Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan. Banyak orang menganggap keindahan adalah pangkal dari segala puji dna harga. Tidak usah heran kalau banyak orang memburunya. Ada orang yang berani pergi beratus bahkan beribu kilometer semata-mata untuk mencari suasana pemandangan yang indah. Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmani setiap saat karena sangat ingin memiliki tubuh yang indah. Tak sedikit orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyar rupiah karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.
Akan tetapi apa yang terjadi? Tak jarang kita menyaksikan betapa terhadap orang-orang yang memiliki pakain dan penampilan yang mahal dan indah, yang datang ternyata bukan penghargaan, melainkan justru penghinaan. Ada juga orang yang memiliki rumah megah dan mewah, tetapi bukannya mendapatkan pujian, melainkan malah cibiran dan cacian. Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebailknya, menggelincirkan pemiliknya ke dalam jurang kehinaan? Jawabnya, karena sebagian besar orang terpesona hanya terhadap keindahan lahir belaka.

Padahal ketahuilah, sesungguhnya ada satu keindahan yang kalu dimiliki, meski sesederhana apapun harta yang digenggam dan serendah apapun kedudukan yang diemban, niscaya kita akan menjadi orang yang benar-benar bermutu, berharga, dan terpuji. Banyak orang mengurus keindahan lahir, padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika seseorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati. Inilah pangkal kemuliaan yang sebenarnya.

Rasulullah saw pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan, tanda jasa, dan pangkat. Akan tetapi, demi Allah sampai saat ini tidak pernah berkurang kemuliaanya. Rasulullah tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap ataupun memiliki rumah yang megah dan indah. Namun demikian, sampai detik ini sama sekail tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya. Apakah rahasiannya? Ternyata semua itu dikarenakan Rasulullah adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Rasulullah saw bersabda, “ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Kalu segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuhnya. Bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya. Segumpal daging itu bernama kalbu!“ (HR Bukhari dan Muslim).

Boleh saja kita memakai segala apa pun yang indah-indah. Namun demikian, kalau tidak memiliki hati yang indah, demi Allah tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya. Karenanya, hendaknya jangan terpedaya oleh keindahan dunia. Lihatlah, begitu banyak wanita malang yang tidak mengenal moral dan harga diri. Mereka pun tidak kalah indah dan molek wajah, tubuh, ataupun penampilannya. Kendatipun begitu, mereka tetap diberi oleh Allah aneka aksesoris duniawi yang indah dan melimpah.

Ternyata segala asesoris duniawi dan kemewahan itu bukanlah tenaga kemuliaan yang sesungguhnya, karena orang-orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah. Kunci bagi orang-orang yang ingin sukses, yang ingin benar-benar merasakan lezat dan mulianya hidup, adalah orang yang sangat memelihara serta merawat keindahan dan kesucian kalbunya.

Imam al –Ghazali menggolongkan hati ke dalam tiga golongan, yakni hati yang sehat (qalbun shahih), hati yang sakit (qalbun maridh), dan hati yang mati (qalbun mayyit).

Seseorang yang memiliki hati sehat tak ubahnya memiliki tubuh yang sehat. Ia akan befungsi optimal. Ia akan mampu memilih dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan, sehingga setiap ang akan diperbuatnya benar-benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nurani yang bersih.

Orang yang paling beruntung karena memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dengan baik. Semakin cemerlang hatinya, maka akan semakin mengenal Dia, Penguasa jagat raya alam semesta ini. Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona. Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu, namun sebaliknya akan menjadi orang yang tersungkur bersujud. Semakin tinggi pangkatnya, akan membuatnya semakin rendah hati. Kian melimpah hartanya, ia akan kian dermawan. Semua itu dikarenakan ia menyadari, bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata. Tidak dinafkahkan di jalan Allah, pasti Allah akan mengambilnya kembali jika Dia kehendaki.

Semakin bersih hati, hidupnya selalu akan diselimuti rasa syukur. Dikaruniai apa saja, kendati sedikit, ia tiadak akan habis-habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata, sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur. Persis seperti ucapan yang terlontar dari lisan Nabi Sulaiman as tatkala dirinya dianugerahi Allah berbagai kelebihan, “Haadzaa min fadhli Rabbii, liyabluwanii a-asykuru am akfuru” (QS an Naml [27]; 40). Ini termasuk karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku mampu bersyukur atau kufur atas nikmat-Nya.

Suatu saat Allah akan menimpakan ujian dan bala. Bagi orang yang hatinya bersih, semua itu tidak kalah terasa nikmatnya. Ujian dan persoalan yang menimpa justru benar-benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini. Karena, orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih, akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah, yang membuat seseorang semakin bermutu.

Dengan persoalan akan menjadikannya semakin bertambah ilmu. Dengan persoalan akan bertambah ganjaran. Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seorang hamba Allah akan bertambah naik, sehingga ia tidak akan pernah resah, kecewa, dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoaan merupakan bagian yang haru dinikmati dalam hidup ini.

Oleh karenanya, tidak usah heran orang yang hatinya bersih, ditimpa apa pun dalam hidp ini, sungguh bagaikan air di relung lautan yang dalam. Tidak akan pernah terguncang walaupun ombak badai saling menerjang. Ibarat karang yang tegar, dihantam ombak sedasyat apapun tidak akan roboh terkapar tidak ada putus asa, tidak ada keluh kesah berkepanjangan. Yang ada hanya kejernihan dan keindahan hati. Ia amat yakin dengan janji Allah, ‘Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa” (QS al-Baqarah [2]:286). Allah tidak akan membebani seseorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya. Maha Suci Allah dari perbuatan zalim kepada hamba-hamba Nya.

Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti. Badai pasti berlalu. Malam pasti bergnti menjadi siang. Tidak ada satu pun ujian yang menimpa, kecuali pasti akan ada titik akhirnya. Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap berkilau walaupun dihantam dengan apapun jua.

Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lali dari bersyukur, sementara sekalipun musibah yang menerjang, sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya. Semua itu dikarenakan ia bisa menyelami sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya, sehingga tergapailah sang mutiara hikmah.

Subhanallah, sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah kalbunya.

Tidak Ada Kesempurnaan Tanpa Cobaan

  1. Bersabar dengan ikhlas adalah kunci dari sebuah keberhasilan. Sesuatu apapun tanpa rasa sabar, cobaan apapun tdk akan terselesaikan melainkan timbul. 0852108xxxx
  2. Kenali dulu siapa yg memberimu cobaan dan bagaimana sifat-sifat-Nya niscaya kau akan sabar dan merasakan manisnya bersabar. A. SIFAUL WALIDAINI BLITAR. 08133438xxxx
  3. Selalu berbaik sangka pd Allah dan Yakin bahwa setiap pemberian Allah Swt adalah yg terbaik bagi diri kita, maka meski kita diberi cobaan, indah tetap adanya. 62811273251
  4. Jadikan di dunia ini JEMBATAN ke akherat, bukan AKHIR kehidupan (semua akan berakhir). Karena di akherat tak ada lagi COBAAN yang ada SURGA & NERAKA. 0812981xxxx
  5. Sabar itu tdk ada batasnya, semakin sering kt mengurut dada, menarik nafas panjng, dgn ingat Asma Ilahi, itu berarti kita sdg berlatih menghdapi cobaan. 08131946xxxx
  6. SETIAP DI UJI OLEH ALLAH DGN BERBAGAI COBAAN HIDUP, BERKELUH KESAHLAH DGNNYA, JANGAN SEKALI2 MENCERITAKANNYA KEPADA INSAN. 081684xxxx
  7. Mungkin kita tetap bisa bersabar dalam cobaan, tapi bisakah kita tetap bersabar untuk tetap taqwa kepada ALLAH SWT? 081810xxxx
  8. Alloh membri nafas khidupan semata2 untk di coba, sjauh mana manusia sanggup mnerima cobaan tsb, dg perbnyk ber SHOLAWAT insya ALLOH cobaan lewat.. 0812581xxxx
  9. Tanamkan dlm hati anda yg paling dalam bahwa sesungguhnya nikmat, kemulyaan, atau musibah itu merupakan suatu cobaan atau ujian dari Allah maka bersabarlah. 0812254xxxx
  10. Saat kebebasan duniawi dan kemegahan hendak diraih, curahan jiwa dan harta kembali hanyalah milik Allah Azza wa-Jalla. 08138043xxxx
  11. Tidak ada KESEMPURNAAN tanpa adanya cobaan, COBAAN merupakan jembatan dan KESABARAN adalah kendaraan menuju kepada KESEMPURNAAN hati. 08133070xxx
  12. Selalu ingat bahwasannya dibalik cobaan itu ada hikmah yg terkandung didlmnya & Alloh SWT tdk akan memberi cobaan melampau batas kemampuan hamba. 0812542xxxx
  13. SENANTIASA BERSANDAR KEPADA ALLOH DAN BERTEGUH HATI BAHWA DI BALIK COBAAN ADA KEINDAHAN YG BERLIMPAHAN. 0817501xxxx
  14. Sabar rasanya pahit, hasilnya manis. 081189xxxx
  15. Tiada cobaan yg.melebihi kemampuan kita.Sebab cobaan hanya menguji ketaatan kita kepada ALLAH ( TINGKATKAN KETAATAN NISCAYA AKAN TUMBUH KESABARAN ) 0812981xxxx
  16. Hanya nafsu yg. merusak sifat sabar. Karena cobaan milik & dari ALLAH, maka kembalikan semua persoalan kepada Nya. 0812981xxxx
  17. HIDUP INI KITA TERIMA DENGAN LAPANG DADA,KITA HADAPI DENGAN BIJAKSANA, KITA TANGGAPI DENGAN SABAR. 08155640xxxx
  18. DGN KEIKHLASAN KESABARAN DIUJI, DGN KEIKHLASAN COBAAN HIDUP DIJALANI. IKHLASKANLAH HATIMU DLM SITUASI APAPUN LILLAHI TAALA. 08151972xxxx
  19. Hanya karenaNya sgl ksulitan jd mudah, stiap yg jauh jd dkt. Juga krn Allah, kkhawatiran,ksedihan&ksulitan mjd hilang. MAKA tdk ada ksulitan bersama prtolonganNYA 08133448xxxx
  20. Nikmatilah setiap cobaan sbg media pendekatan diri kpdNYA dg lantunan zikir nan syahdu ALLAH..ALLAH..pd setiap hembusan nafas & serahkan sgl urusan kpdNYA 08133535xxxx
  21. Jika ingin meraih ridha Allah, maka ridhalah menerima cobaanNya. 08136630xxxx
  22. Jangan bersedih dan mengeluh, cobaan bukan sesuatu yang nyata, karena yang nyata hanyalah ALLAH. 0812740xxxx
  23. Berfikir dan sadarilah bhw rejeki kt, jodoh kt, hidup dan mati kita, bhkn semua yg kt miliki adlh milik Alloh, dan kepadaNya jua semua akan kembali.) 08134732xxxx
  24. Cobaan adalah sebenar-benar nikmat, tanda cinta kasih ALLAH kepada hamba yg sabar, sebagai hamba, sanggupkah qt menolak cintaNYA..berpaling dariNYA. 08133470xxxx
  25. Sabar : Kunci keimanan, orang nggak sabaran=imanya minus. Caranya dngn mengingt ALL0H setiap waktu (saat menderita apalagi saat bahagia) dtmbah puasa. 08564337xxxx
  26. Bukan hidup yg memprmainkan kita.Tp kitalah yg tak terbiasa memelihara sabar & menuai hikmah. Atau mungkin, kita salah langkah. Maka, melangkahlah bersama Allah. 0812340xxxx
  27. Sekeping hati ini, jika dihuni setitik kesabaran di dlmnya, menjadikan ia lebih luas dr samudra sekalipun. 0812340xxxx
  28. Yang sabar adalah yang sadar, bhw segala sesuatu dipunyai dan di bawah kendali Yang Maha Qohhar Jabbar. ( Azka ) 08131889xxxx
  29. COBAAN DARI ALLOH, PANDANGLAH ALLAH DGN HATIMU, KARNA ALLAH BER SAMA ORANG2 YANG SABAR. 08158466xxxx
  30. Cobaan berarti Allah msh memperhatikan kita..maka berbahagialah krnnya. Ikuti saja kemauan Allah, krn apapun yg ada pd kt adalah milik Allah jua. 081198xxxx
  31. COBAAN BRUPA MUSIBAH MMG TRS PAHIT. JALANI SAJA. KALAU HRS MENANGIS..MENANGISLAH, TP TTP BERIKHTIAR DN BERDOA.KRN SGALANYA PASTI SGRA BERLALU BERSM SANG WKT 0816111xxxx
  32. Dengan banyak mengingat mati maka kita akan merasa cobaan di dunia tidak ada apa2nya. Kuncinya perbanyak istighfar dan zikir kpd Allah. 08521827xxxx
  33. Cobaan itu dari Alloh & sekaligus gerbang Ke Ridhoan Alloh, jgn jd Hijab.Tembus gerbang dgn SABAR {Setiap Alloh Berkehendak Aku Ridho}.Alloh Ridho bila kita Ridho.. 08131648xxxx
  34. (pasrah lan sumeleh marang sakabehing pepestening Gusti Alloh) 0812345xxxx
  35. Bersbrlah engkau mnghdpi sgl derita di dunia, krn engkau takan prnh bisa sabar mnghdpi drita di akhirat. 08138520xxxx
  36. Kesabaran adalah obat yang terbaik dalam menghadapi musibah. 08193167xxxx
  37. Milik siapa sabar&cobaan? Apa dfinisi cobaan? Jika hati ini brsih, mk tujuan qt hnya pd ALLAH..DIA lah yg memiliki hdp&kjadian smesta ini. rela mnjalani takdirNYA 0812301xxxx
  38. Jk sbrmu tlh sampai pd ttk pertahanan yg trakhr, saat itu jg Allah akan menunjkkan betapa besar keluasan rahmat-Nya, InsyaAllah. 08131514xxxx
  39. MENYADARI BHW APA YG MJD KEHENDAK KITA BLM TENTU BAIK BG DIRI KITA. PASRAH & YAKIN BHW KEHENDAK ALLAH ADL YG TERBAIK. 0816163xxxx
  40. BANYAK ORANG YG DIKARUNIAKAN KENIKMATAN YANG MELIMPAH DARI ALLAH NAMUN KEBANYAKAN DIA MERASA SEMUA ITU MEREKA DAPATKAN KRN HASIL KERJA KERASNYA SAJA 08131473xxxx
  41. Kiat Sbr dlm mghdp cobaan? Cobaan bisa saja tguran dmn pd saat itu qt sedang lengah 0817485xxxx
  42. Terima dgn ikhlas apa Yg sudah ditentukan Allah, karena kt berontakpun tdk akan mengubah ketentuanNYA. 08132013xxxx

kisah pasutri?

Ini adalah sebuah kisah tentang sepasang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.



Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya mengherdik istrinya dengan sangat keras.....


Istri yang kena herdik, merasa Sakit Hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : “HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU”



Lalu Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi.


Si Istri, mencuba berenang namun nyaris tenggelam dan Alhamdulillah berhasil diselamatkan oleh suaminya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang, dia menulis di
sebuah batu : “HARI INI SUAMIKU YG BAIK, MENYELAMATKAN NYAWAKU”



Suami bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya di atas pasir dan sekarang kamu menulis di atas batu?


Isterinya sambil tersenyum menjawab " Ketika hal buruk terjadi, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin datang menghembus dan menghapuskan tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa di perbuat suamiku, aku harus memahat di atas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut
pandang yang berbeda, terkadang malah sangat menyakitkan, oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah yang lalu.


Yang terpenting dari pelajaran di atas adalah: Belajarlah untuk selalu bisa menulis di atas pasir untuk semua hal yang menyakitkan dan selalu mengukir di atas batu untuk semua kebaikan. Semoga kita semua mengerti betapa berharganya sebuah KELUARGA.


Semoga Allah SWT selalu memudahkan semua urusan kita dan menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang sabar serta selalu mendapat hidayah dan menjaga hati masing-masing. Amin...

Senyum Adalah Ibadah (menjaga Lisan?)-

Terdapat dalil-dalil yang tegas dan jelas akan wajibnya menjaga lisan agar kita menggunakannya sesuai dengan apa yang diperintahkan syari’at. Di antaranya adalah:

1. Hadits ‘Adiy bin Hatim, muttafaqun ‘alaih
Rasulullah bersabda shallallahu ‘alaihi wa sallam:

((مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلا سَيُكَلِّمُهُ اللهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ. فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلا يَرَى إِلا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلا يَرَى إِلا مَا قَدَّمَ وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلا يَرَى إِلا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ. فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ)) (متفق عليه) وزاد مسلم: ((وَلَوْ بِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ))

“Tidak ada seorang pun di antara kalian, kecuali nanti (pada hari kiamat) akan diajak bicara oleh Allah, yang antara dia dengan Allah tidak ada seorang penerjemah pun. Lalu dia melihat ke sebelah kanannya, maka dia tidak meilihat kecuali apa yang telah dilakukannya dan dia melihat ke sebelah kirinya, maka dia tidak melihat kecuali apa yang telah dilakukannya. Kemudian dia melihat ke depan maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di hadapannya. Maka takutlah terhadap neraka walaupun (hanya berinfaq) dengan sebelah/setengah kurma!” (HR. Al-Bukhariy no.6539 dan Muslim no.1016)
Dan dalam riwayat Muslim terdapat tambahan: “Walaupun hanya dengan mengucapkan perkataan yang baik!”

Dalam riwayat yang lain disebutkan:

عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم النَّارَ فَأَعْرَضَ وَأَشَاحَ ثُمَّ قَالَ: ((اِتَّقُوا النَّارَ)) ثُمَّ أَعْرَضَ وَأَشَاحَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ كَأَنَّمَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا ثُمَّ قَالَ: ((اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ, فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ))

Dari ‘Adiy bin Hatim berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang neraka lalu beliau berpaling kemudian bersabda: “Takutlah kalian terhadap neraka!” lalu beliau kembali berpaling sampai-sampai kami menyangka seakan-akan beliau melihat neraka tersebut, kemudian beliau bersabda: “Takutlah kalian terhadap neraka walaupun (hanya berinfaq) dengan sebelah kurma, maka barangsiapa yang tidak mendapatkan(nya), maka (berkatalah) dengan perkataan yang baik!” (HR. Al-Bukhariy no.1417 dan Muslim no.1016)

2. Hadits Abu Hurairah, muttafaqun ‘alaih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ))

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ucapkanlah (perkataan) yang baik atau diam!” (HR. Al-Bukhariy no.6018 dan Muslim no.47)
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,” maksudnya adalah barangsiapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna, yang dapat menyelamatkan dari ‘adzab Allah dan menyampaikan kepada keridhaan-Nya, “maka ucapkanlah (perkataan) yang baik atau diam!” karena sesungguhnya orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentulah dia merasa takut terhadap ancaman-Nya, mengharap pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Dan yang lebih penting dari itu adalah menjaga segala anggota badannya karena kelak ia akan dimintai pertanggungjawabannya di akherat atas apa yang telah dilakukannya.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

{إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلا}

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Israa`:36)
Dan juga firman-Nya:

{مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ}

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf:18)
Bahaya dan ketergelinciran lisan sangat banyak, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

((وَهَلْ يَكُبُّ النُّاسَ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلا حَصَائِدُ اَلْسِنَتِهِمْ))

“Bukankah yang menenggelamkan manusia ke neraka di atas hidung-hidung mereka tidak lain karena hasil lisan-lisan mereka?” (Shahih, HR. At-Tirmidziy no.2616 dari Mu’adz bin Jabal t, lihat Shahiihul Jaami’ 5/29-30))
Maka barangsiapa yang mengetahui dan memahami hal ini serta beriman kepada-Nya dengan sebenar-benar keimanan, maka Allah akan memelihara lisannya sehingga dia tidak akan berbicara melainkan dengan perkataan yang baik atau diam.
Berkata sebagian ‘ulama: “Kumpulan adab yang baik itu tercabang pada empat hadits, disebutkan di antaranya sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ucapkanlah (perkataan) yang baik atau diam!”
Sebagian ‘ulama menjelaskan makna hadits tersebut: Apabila seseorang hendak berbicara, maka jika apa yang hendak ia katakan itu baik, benar dan berpahala maka hendaknya dia berbicara. Jika tidak maka hendaknya ia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya haram, makruh atau bahkan yang mubah.
Berdasarkan hal ini, maka perkataan yang mubah diperintahkan untuk ditinggalkan atau dianjurkan untuk menahan diri darinya karena khawatir terjatuh kepada yang haram atau makruh dan inilah yang menimpa kebanyakan manusia. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf:18)
Para ‘ulama berbeda pendapat, apakah setiap yang diucapkan manusia itu pasti dicatat oleh malaikat sekalipun yang mubah, ataukah tidak dicatat melainkan yang berhubungan dengan perkataan yang akan membuahkan pahala dan siksa? Ibnu ‘Abbas dan lain-lain mengikuti pendapat yang kedua. Bagi yang berpendapat dengan pendapat ini maka makna ayat yang mulia tersebut menjadi bersifat khusus yakni perkataan yang berhubungan dengan balasan, baik pahala ataupun siksa.
Berkata penulis kitab Al-Ifshaah ‘an Syarhi Ma’aanish Shihaah, Ibnu Hubairah: “Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “maka ucapkanlah (perkataan) yang baik atau diam!” menunjukkan bahwa perkataan yang baik itu lebih utama daripada diam, sedangkan diam lebih utama daripada berkata yang jelek. Hal itu bisa diperhatikan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendahulukan “ucapkanlah (perkataan) yang baik” daripada “atau diam!”
Berkata yang baik dalam hadits ini meliputi: menyampaikan ajaran Allah dan Rasul-Nya, memberikan pengajaran kepada kaum muslimin, amar ma’ruf nahi munkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih dan berbicara dengan pembicaraan yang baik kepada manusia. Dan termasuk ucapan yang paling utama adalah mengatakan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau yang diharapkan bantuannya. (Lihat Syarh Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah hal.47-50)
Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i: “Makna hadits ini adalah apabila seseorang ingin berbicara maka hendaklah dipikirkan dahulu. Apabila nampak bahwasanya tidak ada bahaya padanya maka berbicaralah, sebaliknya apabila nampak padanya bahaya atau dia ragu (apakah mengandung bahaya atau tidak) maka tahanlah (diamlah).” (Syarh Shahiih Muslim 1/222)
Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar: “Makna hadits ini adalah bahwasanya seseorang apabila ingin berbicara maka pikirkanlah terlebih dahulu sebelum berbicara. Maka apabila dia mengetahui bahwasanya pembicaraannya tersebut tidak mengandung kerusakan dan tidak pula mengantarkan kepada yang haram ataupun yang makruh maka berbicaralah. Dan sekalipun perkataan yang mubah maka yang selamat adalah diam (tidak mengucapkannya) agar perkataan yang mubah tersebut tidak mengantarkan kepada yang haram dan makruh.” (Fathul Bari 13/149)
Demikian juga Al-Imam An-Nawawiy dalam Syarh Shahiih Muslim mengatakan dengan perkataan yang semakna dan kesimpulannya sebagaimana dikatakan Ibnu Rajab: “Bahwasanya Nabi memerintahkan berbicara dengan perkataan yang baik dan diam dari apa-apa yang tidak baik.” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal.126, lihat ketiga ucapan tersebut dalam Qawaa’id wa Fawaa`id minal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.137-138)

3. Hadits Abu Hurairah, riwayat Al-Bukhariy dan Muslim
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لا يُلْقِي لَهَا بَالا يَرْفَعُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ. وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لا يُلْقِي لَهَا بَالا يَهْوِي بِهَا فِيْ جَهَنَّمَ))

“Sesungguhnya seorang hamba, benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang diridhai oleh Allah, yang dia tidak menganggapnya penting, (maka) Allah mengangkatnya dengan perkataan tersebut beberapa derajat dan sesungguhnya seorang hamba, benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang dibenci Allah, yang dia tidak memikirkannya terlebih dahulu, yang dengan perkataan tersebut dia terjerumus ke dalam jahannam.” (HR. Al-Bukhariy no.6478)
Dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ)) (رواه مسلم) وفي لفظ له: ((إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ))

“Sesungguhnya seorang hamba, benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang dengannya dia masuk ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.”
Dan dalam lafazh yang lain: “Sesungguhnya seorang hamba, benar-benar mengucapkan suatu perkataan yang tidak jelas apa manfaat perkataan tersebut, (akan tetapi) dengannya dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Muslim no.2988)

4. Hadits Abu Hurairah, riwayat Muslim
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟)) قَالُوْا: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ((ذِكْرُكَ أَخَاكَ ِبمَا يَكْرَهُ)) قِيْلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ: ((إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ, وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ))

“Tahukah kalian, apa itu ghibah?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Yaitu, kamu menyebut sesuatu tentang saudaramu yang tidak disukainya.” Ditanyakan: “Bagaimana pendapat engkau, jika apa yang aku katakan memang kenyataannya ada pada saudaraku tersebut?” Beliau menjawab: “Jika memang apa yang kamu katakan ada padanya, berarti kamu telah meng-ghibahnya dan jika ternyata apa yang kamu katakan tidak ada padanya, berarti kamu telah berdusta tentang dia.” (HR. Muslim no.2589)

5. Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr, muttafaqun ‘alaih
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

((اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ))

“Seorang muslim (yang baik) adalah seseorang, yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhariy no.10 dan Muslim no.40)

Mudah-mudahan kita bisa memahami, menghafal dan mengamalkan dalil-dalil di atas dengan semata-mata mengharap ridha Allah dan sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aamiin. Wallaahu A’lam.

source http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/40.htm

Jangan Lari dari Ujian Hidup

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

dakwatuna.com – “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.”

Sabda Rasulullah saw. ini ada dalam Kitab Sunan Tirmidzi. Hadits 2320 ini dimasukkan oleh Imam Tirmidzi ke dalam Kitab “Zuhud”, Bab “Sabar Terhadap Bencana”.

Hadits Hasan Gharib ini sampai ke Imam Tirmidzi melalui jalur Anas bin Malik. Dari Anas ke Sa’id bin Sinan. Dari Sa’id bin Sinan ke Yazid bin Abu Habib. Dari Yazid ke Al-Laits. Dari Al-Laits ke Qutaibah.

Perlu Kacamata Positif

Hidup tidak selamanya mudah. Tidak sedikit kita saksikan orang menghadapi kenyataan hidup penuh dengan kesulitan. Kepedihan. Dan, memang begitulah hidup anak manusia. Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak saleh. Pahit karena sakit yang menahun. Pahit karena belum mendapat jodoh di usia yang sudah tidak muda lagi.

Sayang, tidak banyak orang memahami kegetiran itu dengan kacamata positif. Kegetiran selalu dipahami sebagai siksaan. Ketidaknyamanan hidup dimaknai sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu jatuh pada keputusasaan. Dan ketika semangat hidup meredup, banyak yang memilih lari dari kenyataan yang ada. Atau, bahkan mengacungkan telunjuk ke langit sembari berkata, “Allah tidak adil!”

Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Tentu seorang yang memiliki keimanan di dalam hatinya tidak akan berbuat seperti itu. Sebab, ia paham betul bahwa itulah konsekuensi hidup. Semua kegetiran yang terasa ya harus dihadapi dengan kesabaran. Bukan lari dari kenyataan. Sebab, ia tahu betul bahwa kegetiran hidup itu adalah cobaan dari Allah swt. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Hadits di atas mengabarkan bahwa begitulah cara Allah mencintai kita. Ia akan menguji kita. Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Bukankah itu obsesi tertinggi seorang muslim? Mardhotillah. Keridhaan Allah swt. sebagaimana yang telah didapat oleh para sahabat Rasulullah saw. Mereka ridho kepada Allah dan Allah pun ridho kepada mereka.

Yang Manis Terasa Lebih Manis

Kepahitan hidup yang dicobakan kepada kita sebenarnya hanya tiga bentuk, yaitu ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta. Orang yang memandang kepahitan hidup dengan kacamata positif, tentu akan mengambil banyak pelajaran. Cobaan yang dialaminya akan membuat otaknya berkerja lebih keras lagi dan usahanya menjadi makin gigih. Orang bilang, jika kepepet, kita biasanya lebih kreatif, lebih cerdas, lebih gigih, dan mampu melakukan sesuatu lebih dari biasanya.

Kehilangan, kegagalan, ketidakberdayaan memang pahit. Menyakitkan. Tidak menyenangkan. Tapi, justru saat tahu bahwa kehilangan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang bisa diraih begitu manis. Cita-cita yang tercapai manisnya begitu manis. Yang manis terasa lebih manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada terkecap begitu manis.

Itulah salah satu rahasia dipergilirkannya roda kehidupan bagi diri kita. Sudah menjadi ketentuan Allah ada warna-warni kehidupan. Adakalanya seorang menatap hidup dengan senyum tapi di saat yang lain ia harus menangis.

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) mendapat luka serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali ‘Imran: 140)

Begitulah kita diajarkan oleh Allah swt. untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis karena tidak pernah merasakan pahit.

Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan halus. Sensitif. Kita akan punya empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah dipergilirkan dalam situasi yang tidak enak. Ada keinginan untuk menolong. Itulah rasa cinta kepada sesama. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.

Bersama Kesukaran Selalu Ada Kemudahan

Hadits di atas juga berbicara tentang orang-orang yang salah dalam menyikapi Kesulitan hidup yang membelenggunya. Tidak dikit orang yang menutup nalar sehatnya. Setiap kegetiran yang mendera seolah irisan pisau yang memotong syaraf berpikirnya. Kenestapaan hidup dianggap sebagai stempel hidupnya yang tidak mungkin terhapuskan lagi. Anggapan inilah yang membuat siapa pun dia, tidak ingin berubah buat selama-lamanya.

Parahnya, perasaan tidak berdaya sangat menganggu stabilitas hati. Hati yang dalam kondisi jatuh di titik nadir, akan berdampat pada voltase getaran iman. Biasanya perasaan tidak berdaya membutuhkan pelampiasan. Bentuk bisa kemarahan dan berburuk sangka. Di hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi di atas, bukan hal yang mustahil seseorang akan berburuk sangka terhadap cobaan yang diberikan Allah swt. dan marah kepada Allah swt. “Allah tidak adil!” begitu gugatnya. Na’udzubillah! Orang yang seperti ini, ia bukan hanya tidak akan pernah beranjak dari kesulitan hidup, ia justru tengah membuka pintu kekafiran bagi dirinya dan kemurkaan Allah swt.

Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan mereka tidak sampai membuat mereka kafir. Mungkin seperti itu kita bisa memaknai hadits singkat Rasulullah saw. ini, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (HR. Athabrani)

Tentu seorang mukmin sejati tidak akan tergoyahkan imannya meski cobaan datang bagai hujan badai yang menerpa batu karang. Sebab, seorang mukmin sejati berkeyakinan bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Setelah hujan akan muncul pelangi. Itu janji Allah swt. yang diulang-ulang di dalam surat Alam Nasyrah ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Jadi, jangan lari dari ujian hidup!

Selasa, 22 Juni 2010

Senyuman

Kata senyum adalah kata yang indah dan menarik hati, menyenangkan, dan menggembirakan. Bagaimana seorang muslim tidak tersenyum sementar aida telah meridhoi Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Saw. Adalah nabinya? Bagaimana ia tidak tersenyum sementara baginya telah ditumbuhkan taman-taman yang menyenangkan, dan kebun yang hijau, yang padanya terdapat pohon-pohon yang indah menyegarkan, dan tetumbuhan yang penuh keindahan. Bagaimana ia tidka tersenyum sementara Allah telah mengadakan baginya bintang-bintang yang terang, lautan yang luas, tanah yang berkelok-kelok, dan planet-planet yang berputar di porosnya?

Bagaimana ia tidak tersenyum, sementara burung-burung bernyanyi, merpati berdendang, matahari bersinar, bulan bercahaya indah, pagi hari yang datang dalam terang cahaya, dan hujan yang datang dibalik awan di langit? Bagaimana ia tidka tersenyum, sementara angina sepoi bertiup, daun-daun gemerisik, burung kenari bersiul, aroma indah bertiup, air jatuh di antara bebatuan mendendangkan lagu cinta, dan menceritakan pagar keindahan?

Senin, 21 Juni 2010

Ikhlasnya Hati?

Bukan hal yang mudah untuk menjadikan keikhlasan sebagai niat disetiap apa yang ingin kita lakukan lebih-lebih jika itu berkaitan dengan ibadah, keikhlasan karena Allah SWT.

Kita mampu untuk mengatakan “ ya aku ikhlas” namun belum tentu kata itu mengalir dari lubuk hati kita yang paling dalam.

Mudah bagiku mungkin juga mudah bagimu berkorban sesuatu demi orang yang kita cintai dan mencintai kita…orang tua, suami/ istri, saudara, dan orang lain. Mereka yang banyak membantu kita walau tidak setiap waktu. Sampai-sampai kita enggan jikalau mereka terluka hatinya jika kita tidak memperhatikannya dan itu butuh keikhlasan.

Mereka adalah makhluk Allah dan pasti suatu saat akan kembali padanya. Lalu kepada siapa lagi kita akan berkorban.

Bagaimana jika dalam pikiran kita terlintas, apakah aku sudah berkorban untuk Allah? Bagaimana dengan ibadahku selama ini, adakah keikhlasan dalam hati untuk Nya? Pernahkah aku memperhatikan Nya di setiap langkahku, kehidupanku?

Jelas bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita. Memberikan kenikmatan yang tak mungkin bisa kita hitung dari sejak Allah meniupkan roh kita saat dalam kandungan hingga saat ini bahkan saat nanti.

Aku harus belajar untuk menjadikan keikhlasan sebagai niatku untuk menjalankan rutinitas hidupku. Aku perlu belajar kepada orang-orang yang berhasil melakukannya. Kepada siapakah gerangan???
Cukuplah Allah SWT tempat kembali kita meminta petunjuk dan akan butuh waktu yang tidak sedikit.

Active work . Active prayer .All good active

Topeng?

Kudapat melintas bumi, kudapat merajai hari
Kudapat melukis langit, kudapat buatmu berseri
Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku disini
Kudapat melangkah pergi
Ku dapat hal itu

Reff :
Tapi buka dulu topengmu
Buka dulu topengmu
Biar ku lihat warnamu
Kan kulihat warnamu

Kau dapat cerahkan aku, kau dapat buatku berseri
Kau dapat buatku mati, kau dapat hitamkan pelangi
Tapi kudapat melangkah pergi
Bila kau tipu aku disini
Kudapat melangkah pergi
Ku dapat hal itu

Topeng
oleh: Peterpan

Bersikap Diam?Hmmm...

Diam adalah cerminan dari rasa aman. Diam pada waktu yang tepat adalah termasuk sifat para tokoh. Begitupun bicara pada tempatnya, merupakan karakter yang mulia; "papan empan", "likulli maqalin maqamun." Bersikap diam juga suatu kebijaksannaan dan keadilan, ilmu, dan pengetahuan, bahkan ada yang menyebutnya merupakan media pendidikan yang sangat bagus dan telah teruji. Namun sedikit saja di antara manusia yang sanggup bersikap diam, "Ashshumtu hikmatun wa qalilun faa'iluhu," untuk itu Rasulullah Saw menasehati sahabat Abu Dzar RA., beliau bersabda :

عليك بطول الصمت فإنه مطردة للشياطين وعون لك علي أمردينك (رواه أحمد)

"Hendaknya engkau lebih baik diam, sebab diam itu menyingkirkan syaitan dan penolong bagimu dalam urusan agamamu." (HR. Ahmad)

Berbicara yang baik atau diam, adalah sebagian dari tanda-tanda iman yang kuat kepada Allah SWT dan hari kiamat. Rasulullah Saw bersabda:

ومن كان يؤمن با لله واليوم الآخر فلبقل خيرا أو ليصمت (متفق عليه)

"Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah berkata yang baik atau diam." (Mutafaqqun 'alaihi)

Dalam hadits tersebut Rasulullah memprioritaskan dua hal dan dijadikannya pertanda iman kepada Allah SWT dan hari kiamat. Dua hal tersebut yakni: pertama, berkata yang baik atau yang benar, yaitu perkataan yang membawa keuntungan dan pahala. Dan Kedua, diam, yang berarti menahan diri untuk tidak berbicara yang jelek, keji, kotor, porno dan semisalnya, yang hanya membawa kepada dosa dan maksiat.

Kalau diam tidak berbicara lantaran kerusakan organ-organ tertentu sebagai sarana berbicara, disebutlah "al-kharsu," atau "al-bukmu", yakni bisu. Dan diam tidak mau berbicara atau terhenti dari bicaranya dikarenakan kurang cerdas atau kelelahan fisik, disebut "al-ayyu" atau "al-'ayyak", kedua terakhir itu tidak dikehendaki dalam hadits tersebut.

Ditinjau dari segai bahasa, hadits Rasulullah terdiri dari dua komponen kalimat, yaitu syartu dan masyrut, atau syartun dan jawabuhu. Yang keduanya berkaitan erat, dan mempunyai makna yang tidak dapat dipisahkan.

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر

Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat." Dengan iman yang sempurna, iman yang bisa menyelematkan, dari siksa Allah di hari Kiamat, dan membawa kepada ridhaNya, hendaknya dia selalu berkata yang baik (fal yaqul khairan), berkata yang benar, sebagai misalnya ialah mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah, amar ma'ruf nahyi munkar, taushiyah, dan sebagainya. Dan kalau tidak mampu, lebih baik diam, karena orang yang benar-benar iman kepada Allah dengan haqqul yaqin, maka orang itu akan merasa sangat takut akan ancaman Allah sehingga ia akan selalu mengharapakan tsawabNya atau pahalaNya dengan bersungguh-sungguh menunaikan perintahNya dan meninggalkan laranganNya.

Yang lebih penting lagi ia mampu menahan semua anggota badannya dari perbuatan munkar dan menjaganya, serta sadar dan sanggup untuk menanggung akibat apa saja yang diperbuat oleh anggota badannya. Sesuai dengan firman Allah Swt:

إنّ السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولا (الاسراء :36)

"Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggungjawabanNya." (QS. Al-Isra: 36)

Firman Allah Swt yang lain:

مايلفظ من قول إلاّ لديه رقيب عتيد (ق :18)

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18)

Bersikap diam dapat menolong seseorang dalam menyelesaikan urusan agamanya. Ketika ingin memusatkan untuk sebuah pekerjaan yang membutuhkan kecermatan, ia selalu dalam sikap diam. Dan ketika ingin menjernihkan dan pikirannya, ia menghindar dari keramaian, lebih suka menyendiri di tempat sepi dan tenang. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan, lebih baik bersikap diam jika tidak perlu berbicara. Rasulullah menasehati Abu Dzar Ra., "hendaklah engkau lebih baik diam." 'Aisyah RA pernah ditanya tentang keberadaan ibadah Muhammad Saw, sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasulullah, 'Aisyah menjawab: "Adalah Rasulullah SAW bertahanuts di Gua Hira." Apa maksud bertahanuts?" Para sahabat bertanya. "Yakni beberapa malam dan bisa dihitung dengan jari tangan. Yaitu beribadah dengan cara berdiam diri, 'uzlah, menyepi, 'itikaf, menjauhkan diri dari keramaian untuk merenung, bertafakkur, bertadabbur, tentang keesaan Allah Maha Kuasanya, Maha Agungnya, dan sifat-sifat Allah lainnya sehingga mendapatkan kejernihan hati dan petunjuknya dan mendekatkan diri kepadaNya."

Berbicara dan diam laksana dua sisi dari sekeping mata uang, yang tidak mungkin dipisahkan. Keduanya adalah nikmat Allah yang amat besar yang diberikan kepada manusia. Dengan bicara, manusia menjadi makhluk yang termulia di antara makhluk-makhluk Allah yang lainnya. Allah berfirman: "(Tuhan) Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan al-Qur`an, dia menciptakan manusia, mengajarkannnya pandai berbicara." (QS. ar-Rahman: 1- 4)

Islam menjelaskan bagaimana seharusnya memanfaatkan kedua nikmat yang amat besar itu, agar manusia benar-benar bisa menggunakannnya untuk berbicara sehari-hari, yang benar "wa quuluu qaulan sadidan," sehingga menjadi jalan kebaikan. Dan kalau tidak mampu, maka lebih baik diam. Dan bagi yang mampu lantas dia diam, menolak untuk mengucapkan kebenaran, ia adalah "syetan" yang bisu. Untuk mencapai kebaikan Islam, seseorang tidak cukup dengan diamnya lisan, dan anggota tubuh yang lain dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. Namun ia harus juga diam dan meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya. Dan juga bagi agamanya Islam. Rasulullah Saw bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه مالايعنيه

"Diantara kebaikan Islam seseorang itu yaitu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi)

Kalau seseorang sudah mampu untuk memilih hanya yang bermanfaat baginya, bagi keluarga, agama, dan masyarakatnya, dan mampu juga untuk diam meninggalkan yang tak bermanfaat, ia sudah selamat dari kejahatan dan bala` yang besar. Dan keselamatan dari kejahatan itu, berarti prestasi besar dalam meraih kebaikan yang besar. Ada ulama salaf mengatakan: "Baranga siapa yang menyadari bahwa ucapan itu sebagian dari perbuatannya, dapat dipastikan ia tidak akan berbicara kecuali yang bermanfaat baginya, dan bagi yang menuntut sesuatu yang tidak bermanfaat baginya, akan mendapatkanNya sedangkan ia sendiri tidak puas dan tidak merelakannya."

Adab-Adab Berbicara Bagi Wanita Muslimah..

Wahai saudariku muslimah………

1) Berhati-hatilah dari terlalu banyak berceloteh dan terlalu banyak berbicara, Allah Ta’ala berfirman:

” لا خير في كثير من نجواهم إلا من أمر بصدقة أو معروف أو إصلاح بين الناس ” (النساء: الآية 114).

Artinya:

“Dan tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia “. (An nisa:114)

Dan ketahuilah wahai saudariku,semoga Allah ta’ala merahmatimu dan menunjukimu kepada jalan kebaikan, bahwa disana ada yang senantiasa mengamati dan mencatat perkataanmu.

عن اليمين وعن الشمال قعيد. ما يلفظ من قولٍ إلا لديه رقيب عتيد ” (ق: الآية 17-18)

Artinya:

“Seorang duduk disebelah kanan,dan yang lain duduk disebelah kiri.tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (Qaaf:17-18).

Maka jadikanlah ucapanmu itu menjadi perkataan yang ringkas, jelas yang tidak bertele-tele yang dengannya akan memperpanjang pembicaraan.

1) Bacalah Al qur’an karim dan bersemangatlah untuk menjadikan itu sebagai wirid keseharianmu, dan senantiasalah berusaha untuk menghafalkannya sesuai kesanggupanmu agar engkau bisa mendapatkan pahala yang besar dihari kiamat nanti.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما- عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” يقال لصاحب القرآن: اقرأ وارتق ورتّل كما كنت ترتّل في الدنيا فإن منزلتك عند آخر آية تقرؤها رواه أبو داود والترمذي

Dari abdullah bin ‘umar radiyallohu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, beliau bersabda:

dikatakan pada orang yang senang membaca alqur’an: bacalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca.

HR.abu daud dan attirmidzi


2) Tidaklah terpuji jika engkau selalu menyampaikan setiap apa yang engkau dengarkan, karena kebiasaan ini akan menjatuhkan dirimu kedalam kedustaan.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” كفى بالمرء كذباً أن يتحدّث بكل ما سمع “

Dari Abu hurairah radiallahu ‘anhu,sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cukuplah seseorang itu dikatakan sebagai pendusta ketika dia menyampaikan setiap apa yang dia dengarkan.”

(HR.Muslim dan Abu Dawud)


3) jauhilah dari sikap menyombongkan diri (berhias diri) dengan sesuatu yang tidak ada pada dirimu, dengan tujuan membanggakan diri dihadapan manusia.

عن عائشة – رضي الله عنها- أن امرأة قالت: يا رسول الله، أقول إن زوجي أعطاني ما لم يعطني؟ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” المتشبّع بما لم يُعط كلابس ثوبي زور “.

Dari aisyah radiyallohu ‘anha, ada seorang wanita yang mengatakan:wahai Rasulullah, aku mengatakan bahwa suamiku memberikan sesuatu kepadaku yang sebenarnya tidak diberikannya.berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam,: orang yang merasa memiliki sesuatu yang ia tidak diberi, seperti orang yang memakai dua pakaian kedustaan.” (muttafaq alaihi)


4) Sesungguhnya dzikrullah memberikan pengaruh yang kuat didalam kehidupan ruh seorang muslim, kejiwaannya, jasmaninya dan kehidupan masyarakatnya. maka bersemangatlah wahai saudariku muslimah untuk senantiasa berdzikir kepada Allah ta’ala, disetiap waktu dan keadaanmu. Allah ta’ala memuji hamba-hambanya yang mukhlis dalam firman-Nya:

” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم… ” (آل عمران: الآية 191).

Artinya:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring…” (Ali imran:191).


5) Jika engkau hendak berbicara,maka jauhilah sifat merasa kagum dengan diri sendiri, sok fasih dan terlalu memaksakan diri dalam bertutur kata, sebab ini merupakan sifat yang sangat dibenci Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, dimana Beliau bersabda:

” وإن أبغضكم إليّ وأبعدكم مني مجلساً يوم القيامة الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون “.

“sesungguhnya orang yang paling aku benci diantara kalian dan yang paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat : orang yang berlebihan dalam berbicara, sok fasih dengan ucapannya dan merasa ta’ajjub terhadap ucapannya.”

(HR.Tirmidzi,Ibnu Hibban dan yang lainnya dari hadits Abu Tsa’labah Al-Khusyani radhiallahu anhu)


6) Jauhilah dari terlalu banyak tertawa,terlalu banyak berbicara dan berceloteh.jadikanlah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, sebagai teladan bagimu, dimana beliau lebih banyak diam dan banyak berfikir beliau Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, menjauhkan diri dari terlalu banyak tertawa dan menyibukkan diri dengannya.bahkan jadikanlah setiap apa yang engkau ucapkan itu adalah perkataan yang mengandung kebaikan, dan jika tidak, maka diam itu lebih utama bagimu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam, bersabda:

” من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيراً أو ليصمت “.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,maka hendaknya dia berkata dengan perkataan yang baik,atau hendaknya dia diam.”

(muttafaq alaihi dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu)


8) jangan kalian memotong pembicaraan seseorang yang sedang berbicara atau membantahnya, atau meremehkan ucapannya. Bahkan jadilah pendengar yang baik dan itu lebih beradab bagimu, dan ketika harus membantahnya, maka jadikanlah bantahanmu dengan cara yang paling baik sebagai syi’ar kepribadianmu.

9) berhati-hatilah dari suka mengolok-olok terhadap cara berbicara orang lain, seperti orang yang terbata-bata dalam berbicara atau seseorang yang kesulitan berbicara.Alah Ta’ala berfirman:

” يا أيها الذين آمنوا لا يسخر قوم من قوم عسى أن يكونوا خيراً منهم ولا نساء من نساء عسى أن يكن خيراً منهن ” (الحجرات: الآية 11).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.”

(QS.Al-Hujurat:11)


10) jika engkau mendengarkan bacaan Alqur’an, maka berhentilah dari berbicara, apapun yang engkau bicarakan, karena itu merupakan adab terhadap kalamullah dan juga sesuai dengan perintah-Nya, didalam firman-Nya:

: ” وإذا قرىء القرآن فاستمعوا له وأنصتوا لعلكم ترحمون ” (الأعراف: الآية 204).

Artinya: “dan apabila dibacakan Alqur’an,maka dengarkanlah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian diberi rahmat”. Qs.al a’raf :204


11) bertakwalah kepada Allah wahai saudariku muslimah,bersihkanlah majelismu dari ghibah dan namimah (adu domba) sebagaimana yang Allah ‘azza wajalla perintahkan kepadamu untuk menjauhinya. bersemangatlah engkau untuk menjadikan didalam majelismu itu adalah perkataan-perkataan yang baik,dalam rangka menasehati,dan petunjuk kepada kebaikan. perkataan itu adalah sebuah perkara yang besar, berapa banyak dari perkataan seseorang yang dapat menyebabkan kemarahan dari Allah ‘azza wajalla dan menjatuhkan pelakunya kedalam jurang neraka. Didalam hadits Mu’adz radhiallahu anhu tatkala Beliau bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa aalihi wasallam: apakah kami akan disiksa dengan apa yang kami ucapkan? Maka jawab Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

” ثكلتك أمك يا معاذ. وهل يكبّ الناس في النار على وجوههم إلا حصائدُ ألسنتهم ” ( رواه الترمذي).

“engkau telah keliru wahai Mu’adz, tidaklah manusia dilemparkan ke Neraka diatas wajah-wajah mereka melainkan disebabkan oleh ucapan-ucapan mereka.”

(HR.Tirmidzi,An-Nasaai dan Ibnu Majah)


12- berhati-hatilah -semoga Allah menjagamu- dari menghadiri majelis yang buruk dan berbaur dengan para pelakunya, dan bersegeralah-semoga Allah menjagamu- menuju majelis yang penuh dengan keutamaan, kebaikan dan keberuntungan.

13- jika engkau duduk sendiri dalam suatu majelis, atau bersama dengan sebagian saudarimu, maka senantiasalah untuk berdzikir mengingat Allah ‘azza wajalla dalam setiap keadaanmu sehingga engkau kembali dalam keadaan mendapatkan kebaikan dan mendapatkan pahala. Allah ‘azza wajalla berfirman:

” الذين يذكرون الله قياماً وقعوداً وعلى جنوبهم “. (آل عمران: الآية 191)

Artinya: “(yaitu) orang – orang yang mengingat Allah sambil berdiri,atau duduk,atau dalam keadaan berbaring” (QS..ali ‘imran :191)

Minggu, 20 Juni 2010

Kiat Sukses Berteman Tanpa Konflik?

Hidup bermasyarakat memang sudah menjadi keharusan bagi siapa saja yang hidup di dunia ini. Adakah orang yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain? Tentu saja tidak ada. Berbagai macam manusia dengan aneka karakter membuat kita harus bisa menempatkan diri dengan baik. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sebagai teladan ummatnya memilik akhlak yang paling luhur. Beliau shallallahu’alaihi wasallam mengajari kita bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim bahkan dengan orang kafir sekalipun. Hal ini sebagamana diterangkan dalam firman Allah Ta’ala, yang artinya,

“Sungguh Engkau (Muhammad), seorang yang berbudi pekerti luhur.” (Qs. Al Qolam: 4)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, yang artinya, “Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Wahai saudariku, semoga Allah Ta’ala merahmatiku dan dirimu. Marilah kita simak apa yang Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jelaskan berikut ini dengan pendengaran kita. Dan marilah kita perhatikan apa yang beliau ajarkan kepada kita dengan penglihatan dan mata hati kita. Dengan mata, telinga dan hati seseorang mampu mengambil pelajaran, sehingga apa yang kita simak tersebut bisa menghujam dan tertanam dalam-dalam dalam hati, biidznillahi Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya yang pada demikian itu pasti terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qs. Qaf: 37)

Di antara kiat berinteraksi dengan sesama muslim yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah:

Memperlakukan Orang Lain Sebagaimana Ia Menyukai Hal Tersebut Diperlakukan untuk Dirinya

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka ketika maut menjemputnya hendaknya dia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, memperlakukan orang lain sebagaimana pula dirinya ingin diperlakukan demikian.” ( HR. Muslim (1844) dan Nasa’I (4191)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang hadits ini, “Hadits ini termasuk jawami’ul kalim (kata-kata yang singkat dan padat namun mengandung makna yang luas, – pen) yang ada pada diri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, termuat banyak hikmah di dalamnya. Ini adalah kaedah yang penting yang seharusnya menjadi perhatian khusus. Hendaknya manusia mengharuskan dirinya untuk tidak berbuat sesuatu kepada orang lain kecuali jika ia menyukai hal tersebut diberlakukan untuk dirinya.” (Syarh an-Nawawi ala Muslim, asy-Syamilah).

Inilah prinsip pertama yang sengaja kami tempatkan diurutan teratas, karena prinsip ini begitu agung dan mulia. Sungguh seandainya saja semua manusia menerapkan prinsip ini tentu tidak ada lagi konflik yang menerpa mereka. Karena mereka akan berpikir dan mempertimbangkan terlebih dahulu sebelum bertindak. Dan berkata di dalam hati, ” Jika aku berbuat demikian kepada saudaraku apakah aku juga rela jika dia berbuat yang sama kepada diriku?”

Jika kita tidak ingin dikhianati maka janganlah kita coba-coba mengkhiananti orang lain. Jika kita tidak ingin ditipu maka janganlah sekali-kali kita menipu orang lain, jika kita ingin orang lain tersenyum kepada kita ketika bersua maka kita pun mengharuskan diri senyum kepada orang lain, jika kita ingin orang lain menyapa dan ramah kepada kita maka hendaknya kitapun mengharuskan diri kita untuk ramah kepada orang lain dan seterusnya. Sehingga ia menjadi orang yang senantiasa mempertimbangkan dengan matang apa yang akan ia perbuat kepada orang lain.

Kami yakin tidak ada manusia yang ingin diperlakukan buruk oleh orang lain, sehingga dengan prinsip ini seharusnya tidak ada lagi pencuri, penipu, perampok, pendusta, orang yang suka mengadu-domba, orang yang suka iri dan dengki, orang yang suka membicarakan kejelekan orang lain, dan lain-lain. Namun sayangnya kebanyakan manusia adalah makhluk yang picik, mau menang sendiri, sehingga apa yang ia perbuat lebih banyak merugikan orang lain daripada memberikan manfaat kepadanya, kecuali orang yang dirahmati Allah. Semoga Allah senantiasa merahmati kita, menjaga kita dan menjauhkan kita dari akhlak yang buruk. Amin.

Berkata Baik atau Diam

Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda, ” Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata baik atau diam.” (HR. Muslim No. 222)

Dalam hadits ini Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengaitkan antara berkata baik dengan keimanan seseorang kepada Allah dan hari akhir. Hal ini dikarenakan penjagaan terhadap lisan, mempergunakannya untuk ucapan-ucapan yang baik dan diam untuk ucapan yang buruk adalah salah satu tanda dari keimanan. Sesuatu yang paling berat bagi lisan adalah menjaganya, sebagaimana hadits terkenal yang datang dari Mu’adz radhiallahu’anhu, ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Ya Rasullullah apakah kami akan disiksa karena perkataan yang kami ucapkan? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Celaka engkau wahai Mu’adz, bukankah manusia terlungkup diatas hidungnya atau diatas wajahnya di neraka disebabkan perbuatan lisannya?”[1]. Hal ini menunjukkan bahaya lidah tak bertulang, mudah mengucapkan kata namun jika tidak digunakan dalam kebaikan bisa menjadi senjata makan tuan.(Syarh al Arba’in an Nawawiyah, Syaikh Shalih Ibnu Abdil Aziz Alu Syaikh, hal. 90, Dar Jamil ar Rahman as Salafy, Jogjakarta).

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Hadits di atas memberi isyarat bahwa seseorang yang ingin berbicara sesuatu maka hendaknya dia pikir-pikir dahulu. Jika terlihat tidak ada bahaya yang ditimbulkan maka ia boleh berbicara, namun jika ada tanda-tanda bahaya atau dia ragu-ragu maka sebaiknya dia diam. Ibnu Rajab rahimahullah berkata, ” Hadits ini memerintahkan untuk berbicara dalam hal yang baik-baik dan diam untuk hal yang buruk.” (Qawaid wa Fawaid min al Arba’in an Nawawiyah, Nadzim Muhammad Sulthan, hal 137&138, Dar al Hijrah)

Syaikh Ibnu Shalih al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Makna ‘berkata baik’ dalam hadits ini, mencakup berkata baik untuk dirinya sendiri maupun berkata baik untuk orang lain. Berkata baik untuk dirinya sendiri ketika seseorang berdzikir kepada Allah, bertasbih kepada-Nya, memuji-Nya, termasuk juga membaca Al Qur’an, mengajarkan ilmu , amar ma’ruf nahi munkar maka ini semua menjadi kebaikan untuknya. Adapun berkata baik kepada orang lain itu berupa perkataan yang membuat senang teman duduknya meskipun belum tentu baik untuk dirinya sendiri”.(Syarh al Arbain an Nawawiyah, Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al Utsaimin)

Saudariku! Semoga Allah senantiasa merahmatimu, berikut ini akan kami sebutkan atsar dari para sahabat dan para tabi’in tentang kehati-hatian mereka dalam menjaga lisan:
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah yang tiada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, tidak ada di atas bumi ini yang lebih butuh untuk dipenjara lebih lama selain lisanku ini.”

Beliau radhiallahu ‘anhu juga berkata, “Wahai lisan! Katakanlah yang baik-baik niscaya engkau akan beruntung. Diamlah dari kejelekan niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesali semuanya.”

Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu berkata, “Tunaikanlah hak kedua telingamu daripada hak mulutmu. Karena dijadikan untukmu dua telinga dan satu mulut agar engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.”

Al Hasan Al Bashri berkata, “Para sahabat berkata, ‘Sesungguhnya lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya, jika dia ingin berbicara sesuatu maka dia harus menimbang-nimbang dengan hatinya kemudian baru dia putuskan (berbicara ataukah diam, pen). Adapun lisan seorang munafik berada di depan hatinya, segala sesuatu dia putuskan dengan lisannya tanpa sedikitpun menimbangnya dengan hatinya.” (Tazkiyatunnufus, Dr. Ahmad Farid, as Syamilah)

Lihatlah wahai saudariku! Betapa mereka sangat takut jika lisannya terjerumus kelembah kesia-siaan apalagi kelembah dosa. Namun betapa jauhnya diri kita dengan mereka, mulut kita ini sangat kotor dan penuh dengan tipu daya, mudah berbicara dan tiada faedahnya, suka mengadudomba dan mengumbar fitnah di mana-mana.

Ya Allah, perbaikilah amalan kami dan jauhkan mulut kami dari perbutan keji dan nista. Amin Ya Mujibassailin.

Bermuka Manis Ketika Bertemu

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski hanya dengan bermuka manis ketika bertemu dengan saudaramu.” (HR. Muslim (2626), Ahmad (5/173) dan Ibnu Hibban (524))

Syaikh Ibnu Shalih al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bermuka manis mampu mendatangkan kebahagiaan kepada siapa saja yang bersua denganmu termasuk mereka yang suka bermuka cemberut ketika bertemu. Ia mampu menghadirkan rasa kasih sayang dan cinta dan membuat hati menjadi lapang. Bahkan kelapangan hati itu tidak hanya pada dirimu tapi juga orang yang yang bertemu denganmu. Namun jika engkau bermuka muram dan merengut pastilah orang-orang akan lari darimu, mereka tidak nyaman duduk bersanding denganmu, lebih-lebih untuk bercakap-cakap denganmu (Kitabul ‘Ilmi, hal 184, Maktabah Nur al Huda).

Saudariku, inilah kemudahan dalam Islam. Allah Ta’ala memberi kemudahan bagi hambanya untuk memperoleh pahala kebaikan. Sekecil apapun kebaikan itu pasti Allah Ta’ala akan membalasnya dengan ganjaran bahkan sampai berlipat ganda.

Saudariku! Apakah kita tidak mau mendapatkan pahala yang tak terduga karena amalan yang tak seberapa? Marilah kita senyum kepada saudari-saudarai kita, bermuka manislah ketika bertemu dengan mereka, niscaya engkau akan merasakan manfaatnya. Coba bayangkan berapa kali kita bertemu dengan saudara kita dalam sehari, seberapa sering kita bermuka manis dengan mereka, sebanyak itupula pahala yang kita dapatkan..

Namun sungguh sangat merugi orang yang suka bermuka masam ketika bertemu dengan saudaranya, betapa banyak pahala yang terluput darinya..

Menebarkan salam
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu yang akan membuat kalian saling mencintai?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim N0. 54 dan Bukhari dalam Adabul Mufrad No.980)

Saudariku! Marilah kita perhatikan penjelasan Imam Nawawi berikut ini,

“Makna ‘Kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai’ adalah tidak akan sempurna iman seseorang, tidak akan membaik kondisi imannya hingga mereka saling mencintai.Adapun sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam ‘Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman’, bermakna sebagaimana zhohir dan kemutlakannya. Bahwasanya tidak akan masuk surga kecuali orang yang mati dalam keadaan beriman meskipun iman yang tidak sempurna. Inilah zhohir yang ditunjukkan oleh hadits diatas.” Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ‘Tebarkanlah salam di antara kalian’, hadits ini mengandung perintah yang agung untuk menebarkan salam kepada kaum muslimin baik yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal (Syarh an Nawawi ala Muslim, as Syamilah).

Berteman dengan Orang Shalih

Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (Qs. al-Kahfi: 28)

Allah berfirman memberitakan penyesalan orang kafir pada hari Kiamat, yang artinya, “Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur‘an ketika Al-Qur‘an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Qs. al-Furqân: 28-29)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian melihat teman bergaulnya.”[2]

Dari Abu Musa al-Asy’ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya, perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual minyak wangi dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya; dan adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau engkau menemukan bau anyir.” (HR. Bukhari No.2101 dan Muslim No.6653)

Begitu besarnya pengaruh teman terhadap eratnya jalinan persaudaraan. Teman yang shalih akan senantiasa menunaikan hak saudaranya, menjaga kehormatan saudaranya, saling menyayangi diantara mereka, saling menasehati dalam ketakwaan, tolong menolong dalam kebaikan dan saling mencintai dan membeci karena Allah. Oleh karena itu wahai saudariku, bertemanlah dengan orang shalih niscaya engkau akan beruntung.

Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

[1] Diriwayatkan oleh at Tirmidziy (10/88,87), beliau berkata: “Hadits ini hasan shahih” , Ibnu Majah (3973), Hakim (2/413) dan dishahikan oleh al Albani.
[2] Shahih, diriwayatkan Imam Abu dawud dalam Sunan-nya (4833), at Tirmidzy dalam Sunan-nya (2379) dan beliau berkata: “Hadits ini hasan” dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya (3/303,334).

Source : Artikel muslimah.or.id


The Only one : Alloh Subhanahu Wa Ta'ala

saya meminta kekuatan
dan Alloh memberiku kesulitan untuk membuatku kuat

saya meminta kebijaksanaan
dan Alloh memberiku masalah untuk memecahkan

saya meminta keberanian
dan Alloh memberi saya hambatan untuk mengatasi

saya bertanya karena cinta
dan Alloh memberiku orang bermasalah untuk membantu

saya minta bantuan
dan Alloh memberiku celah

"Mungkin saya menerima apa-apa saya ingin

tetapi saya menerima semua yang saya dibutuhkan "

Sabtu, 19 Juni 2010

Ternyata wanita lebih suka diselingkuhin drpd di-poligami. Ini yg Nyata.. Tdk hny kasus ariel pinterkelon, tp bnyk kenyataan yg lainnya. Diajak melanggar aturan agama lebih bangga daripada diajak melakukan ibadah yg sah.

*** 8 Kriteria Pria Di Benci Wanita ***

1. Pria Manja
Pria ini biasanya terlalu emosional dan selalu mengutarakan isi hatinya kepada sang kekasih. Pria semacam ini nggak percaya diri dan selalu butuh seseorang yang membuatnya yakin dalam segala hal termasuk cinta, pekerjaan, dan pertemanan .

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: Pria yang memiliki kepercayaan diri dan mandiri terlihat lebih menarik dri pada pria yang tidak percaya diri. kebanyakan wanita lebih senang menjalin hubungan dengan pria yang bisa memberikan rasa
aman dan nyaman.

Jika anda termasuk dalam tipe ini : Pilih waktu dengan tepat. Anda hanya perlu mengendalikan perasaan anda di awal hubungan. Tunda mengumbar semua perasaan atau kegelisahan anda. Bila dirasa hubungan sudah cukup dekat, anda boleh bercerita tentang apa saja pada si dia.

2. Pria yang Gampang Ditebak

Wanita enggan berhubungan dengan mudah ditebak. Nggak ada tantangan atau kejutan, reaksi si pria terhadap segala sesuatu sudah bisa diprediksi. Para pria ini biasanya selalu mengikuti aturan atau formula tertentu dan biasanya dia enggan melakukan sesuatu diluar kebiasaan. Dia jarang memberikan kejutan spontan yang bakal membuat sang kekasih makin cinta.

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: Wanita menggilai pria-pria yang tak mudah ditebak. Orang-orang yang berjiwa bebas atau bad boys lebih sering dijadikan pilihan. Walau pria semacam itu punya sifat-sifat negatif namun mereka tidak membosankan karena selalu ada pengalaman dan kejutan baru.

Jika anda termasuk dalam tipe ini : Bila anda tipikal yang mudah diprediksi, anda tidak harus mengumbar sisi ‘nakal’ untuk memenangkan hatinya. Cukup mix kebiasaan anda yang mudah diduga dengan hal di luar kebiasaan anda. Bila biasanya hanya pergi makan dan nonton, coba lakukan hal baru. Mengunjungi kota sebelah untuk sekedar cuci mata asyik juga lho. Nah, nanti kalo si dia sudah terpikat dan mulai ingin tahu, anda bisa kembali ke kebiasaan lama. Tapi sesekali berikan kejutan kecil untuknya.

3. Pria Arogan

Dia punya ego besar dan punya keinginan yang harus dituruti. Terkadang dia juga kasar, nggak melulu ke pasangannya, tapi pada siapa saja dia merasa berkuasa. Hmmm, sifat ini benar-benar buruk.

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: Wanita sering melihat cara seorang pria memperlakukan orang lain untuk mengetahui kepribadiannya. Jadi meskipun anda berlaku manis didepannya saat berkencan, si dia tetap akan memperhatikan cara anda memperlakukan orang lain.

Jika anda termasuk dalam tipe ini: Apa yang akan anda lakukan bila anda dianggap cukup arogan oleh pasangan anda? Jangan terlalu sering membicarakan diri sendiri. Untuk membuatnya terkesan, perlakukan orang lain dengan penuh rasa hormat. Gunakan kata-kata dengan nada rendah yang tidak terkesan emosional.

4. Pria Playboy

Pria tipe ini tidak segan-segan menunjukkan pada pasangan usahanya mencuri hati seorang wanita. Bila dia mengajak makan, mungkin saja dia mencoba menggoda pelayan yang seksi di resto itu. Parahnya lagi dia tak segan-segan memperlihatkan aksinya itu di depan pasangannya. Gampangnya, dia pria yang tidak memiliki rasa hormat pada wanita.

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: Tidak hanya kebiasaannya yang terlihat kampungan tapi ini juga bisa berdampak buruk untuk si wanita. Jika anda sudah mulai mata keranjang pada kencan pertama, anda langsung kehilangan kesempatan untuk menaklukkan wanita yang sedang anda dekati.

Jika anda termasuk dalam tipe ini: Jika anda tidak bisa menahan kebiasaan ini terus-terusan, setidaknya berikan kesan pertama yang baik terhadap diri anda. Hindari main mata atau lirak-lirik sebelah. Jika wanita yang anda ajak kencan tak sanggup menahan anda untuk melirik wanita lain, mungkin saja anda salah pilih.

5. Pria Pelit

Pria ini hampir tidak pernah membuang uangnya berlebihan. Bahkan untuk sekedar membeli bunga. Kalau pun mengajak berkencan dia akan menunjukkan tempat makan murah meriah.

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: kencan pertama pastinya sudah diribetkan dengan biaya kencan yang tak boleh mahal. Ditambah selalu mengingatkan anda untuk terus menabung. Wanita tidak bisa membayangkan menghabiskan hidupnya bersama pria yang menguntit tiap rupiah uangnya.

Jika anda termasuk dalam tipe ini: Cobalah untuk sedikit memanjakan wanita. Tak perlu buang uang banyak, perhatian kecil sekali-sekali tetap perlu supaya kekasih tetap senang. Agar dia merasa spesial, sekali waktu ajak ke restoran mewah dengan suasana yang romantis sebagai ganti warung tenda pinggir jalan yang tiap hari anda datangi.

6. Pria Tukang Debat

Pria jenis ini selalu mengubah percakapan menjadi bahan perdebatan. Kelakuannya, membuat si wanita seperti sedang mengikuti kelas debat atau rapat DPR. Ingat ya, berdebat terkadang bisa membuat seseorang stres.

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: Pergi berkencan seharusnya jadi pengalaman menyenangkan. Bila terus-terusan mengajak si Dia berdebat pasti bisa bikin bete dan membuatnya sedikit tertekan.

Jika anda termasuk dalam tipe ini: Cobalah untuk rileks. Nggak perlu malu untuk menentukan topik pembicaraan sebelum pergi berkencan. Kencan adalah kegiatan menyenangkan yang membuat hati rileks, jangan diubah menjadi ajang adu argumen yang nggak perlu.

7. Pria Sok Baik

Cirinya gampang, pria ini doyan menghakimi orang lain. Kadang kala dia sama sekali tidak menyentuh rokok dan minum alkohol. Dia juga nggak segan meminta orang lain untuk mengikui jejaknya bahkan dengan tambahan petuah-petuah yang membosankan.

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: Biasanya dia akan berpidato tentang banyak hal. Mulai dari menilai diri si wanita sampai berusaha mulai mencoba melarang ini itu. Pokoknya, orang yang paling baik dan benar adalah dirinya sendiri.

Jika anda termasuk dalam tipe ini: Belum jadi suami saja sudah berani melarang. Wanita paling tidak suka dikekang. Jika anda memang orang baik, tanpa kata-kata yang menggurui juga akan terlihat dalam tindakan anda sehari-hari.

8. Pria Penggosip

Pria ini senang sekali membicarakan kekurangan orang lain. Dia selalu mencari celah untuk bisa ngobrolin orang lain. Tak jarang dia melontarkan komentar kasar.

Mengapa pria seperti ini tidak menarik: Mana ada wanita yang tahan dengan pria yang gampang bicara kasar dan senang membicarakan keburukan orang lain. Membicarakan hal-hal yang negatif juga bisa membuat suasana semakin nggak nyaman.

Jika anda termasuk dalam tipe ini: Mulailah mengurangi kebiasaan membicarakan teman, kerabat atau siapa saja. Berikan kesan yang baik pada teman kencan anda. Belajarlah untuk menyimpan rahasia. Selalu gunakan diri anda sendiri sebagai cermin. Apakah anda senang rahasia dan kejelekan anda diobral.

Oke , itulah 8 kriteria pria yang dibenci cewek.sekarang apakah anda termasuk salah satunya?Ayo rubah diri anda mulai sekarang....JUst Kidding Sahabat!!
sebagai seorang suami dan bapak saya berpendapat bahwa istridan anak merupakan anugrah yang terindah KALAU bisa mendidiknya dengan baik dan tidak menentang ajaran agama kalau tidak istri, anak dan harta bisa jadi musuh yang bisa menarik mu ke neraka. jadi kalau udah jadi suami atau bapak didik istri dan anak dengan baik agar bisa jadi anugrah yang terindah baik di dunia dan di akhirat