Perasaan cemburu adalah
ketidaksukaan bergabungnya orang lain pada haknya.Sesungguhnya perasaan cemburu
adalah tabiat yang alami. Merupakan fitrah yang tercipta pada diri setiap
manusia, sesuai dengan tabiat manusiawi yang dipupuk dengan nilai-nilai
keimanan. Ia berfungsi sebagai penjaga kemuliaan dan kehormatan manusia. Akan
tetapi, perasaan cemburu tersebut haruslah sesuai dengan aturan agama yang
mengutamakan kesabaran, ilmu, keadilan, kebijaksanaan, kejujuran, ketenangan
dan kelembutan dalam semua perkara.
Menurut ‘Abdullah bin Syaddad, ada dua jenis ghirah. Pertama, ghirah yang dengannya seseorang dapat memperbaiki keadaan keluarga. Kedua, ghirah yang dapat menyebabkannya masuk neraka. Ditinjau dari nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, cemburu ada dua macam. Dalam sebuah hadits disebutkan : bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada jenis cemburu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapula yang dibeni-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada keraguan, sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasi keraguan.”
Disebutkan di dalam hadits,
“Saad bin Ubadah radhiallahu ‘anhu berkata, Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama dengan isteriku, niscaya akan kutebas ia dengan pedang,” ucapan itu akhirnya sampai kepada Rasulullah. Lalu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian merasa heran terhadap kecemburuan Saad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku.”
Ditinjau dari sisi yang lain, cemburu ada dua macam. Pertama, ghirah lil mahbub (cemburu membela orang yang dicintai). Kedua, ghirah ‘alal mahbub (cemburu membela agar jangan sampai ada orang lain yang juga mencintai orang yang dicintainya.
Ghirah lil mahbub adalah pembelaan seseorang terhadap orang yang dicintai, disertai dengan emosi demi membelanya, ketika hak dan kehormatan orang yang dicintai diabaikan atau dihinakan. Dengan adanya penghinaan tersebut, ia marah demi yang dicintainya, kemudian membelanya dan berusaha melawan orang yang menghina tadi. Inilah cemburu sang pencinta yang sebenarnya. Dan ini pula ghirah para Rasul ‘alaihi salam dan pengikutnya terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jenis ghirah inilah yang semestinya dimiliki seorang muslim, untuk membela Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam dan agama-Nya. Adapun ghirah ‘alal mahbub adalah kecemburuan terhadap orang lain yang ikut mencintai orang yang dicintainya. Jenis ghirah inilah yang hendak kita kupas pada pembahasan ini.
BEBERAPA CONTOH KECEMBURUAN
SEBAGIAN ISTERI NABI SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Disebutkan dalam sebuah riwayat, Anas radhiallahu ‘anhu berkata:
“Suatu ketika Nabi di rumah salah seorang isteri beliau. Tiba-tiba isteri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, isteri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata: “Ibu kalian sedang cemburu,” lalu Nabi menahan pelayan tersebut, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik isteri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemilik mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah isteri yang sedang bersama beliau.”
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa isteri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang memecahkan mangkuk adalah ‘Aisyah Ummul Mukminin, sedangkan yang mengirim makanan adalah Zainab binti Jahsy.”
Dalam hadits yang lain diriwayatkan:
“Dari Aisyah: “Aku tidak cemburu kepada seorang wanita terhadap Rasulullah sebesar cemburuku kepada Khadijah, sebab beliau selalu menyebut namanya dan memujinya.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘Aisyah berkata: “Tatkala pada suatu malam yang Nabi berada di sampingku, beliau mengira aku sudah tidur, maka beliau keluar. Lalu aku (pun) pergi mengikutinya. (Aku menduga beliau pergi ke salah satu isterinya dan aku mengikutinya sehingga beliau sampai di baqi’). Beliau belok, aku pun belok. Beliau berjalan cepat, akhirnya aku mendahuluinya. Lalu beliau bersabda: “Kenapa kamu, hai Aisyah, dadamu berdetak kencang?” Lalu aku mengabarkan kepada beliau kejadian yang sesungguhnya, beliau bersabda: “Apakah kamu mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan menzhalimimu?”.
NASIHAT BAGI WANITA DALAM MENGENDALIKAN PERASAAN CEMBURU
Sebagaimana fenomena yang kita lihat dalam kehidupan tangga pada umumnya, tampaklah bahwa sifat cemburu itu sudah menjadi tabiat setiap wanita, siapapun orangnya dan bagaimanapun kedudukannya. Akan tetapi, hendaklah perasaan cemburu ini dapat dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga.
Berikut beberapa nasihat yang perlu diperhatikan oleh para isteri untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga, sehingga tidak ternodai oleh pengaruh perasaan cemburu yang berlebihan.
TIDAK BOLEHKAH CEMBURU?
Barangkali, di antara para isteri ada yang membantah dan berkata, adalah kebodohan apabila seorang isteri tidak memiliki rasa cemburu pada suaminya, padahal cemburu ini merupakan ungkapan cintanya kepada suaminya, sekaligus sebagai bumbu penyedap yang bisa menimbulkan keharmonisan, kemesraan dan kepuasan batin dalam kehidupan rumah tangga.
Ya benar! Akan tetapi, apakah pantas seorang isteri yang berakal sehat, jika ia tenggelam dalam rasa cemburunya, sehingga menenggelamkan bahtera kehidupan rumah tangganya, mencabik-cabik jalinan cinta dan kasih sayang dalam keluarganya, bahkan ia sampai terjangkiti penyakit psikis yang kronis, perang batin yang tidak berkesudahan, dan akhirnya merusak akal sehatnya?
Memang sangat tipis, perbedaan antara yang benar dengan yang salah, antara yang sakit dengan yang sehat, antara cemburu yang penuh dengan kemesraan dengan cemburu yang membakar dan menyakitkan hati dikarenakan penyakit kejiwaan yang berat. Namun, tetap ada perbedaan antara cemburu dalam rangka membela kehormatan diri dan kelembutan karena didasari rasa cinta kepada suami, dengan cemburu yang merusak dan membinasakan. Kalau begitu, cemburulah wahai para isteri, dengan kecemburuan yang membahagiakan suamimu, dan menampakkan ketulusan cintamu kepadanya! Tetapi hindarilah kecemburuan yang merusak dan menghancurkan keluargamu. Cemburulah demi memelihara harga diri dan kehormatan suami. Dan lebih utama lagi, cemburu untuk membela agama Allah.
Isteri yang selalu memantau kegiatan suaminya, mencari-cari berita tentangnya, serta selalu menaruh curiga pada setiap aktivitas suaminya, bahkan cemburu kepada teman dan sahabatnya, maka inilah isteri yang bodoh. Dengan sifatnya tersebut, maka kehidupan rumah tangganya, rasa cinta, kepercayaan di antara keduanya akan terputus dan hancur. Dan bagi wanita yang rasa cemburunya tersulut karena suatu sebab, kemudian ia merasa hal itu tidak pada tempatnya, hendaklah ia menyadari kesalahannya, lalu melakukan perbaikan atas sikapnya tersebut. Dan yang paling penting adalah, tidak mengulangi lagi kesalahan serupa di kemudian hari.
Menurut ‘Abdullah bin Syaddad, ada dua jenis ghirah. Pertama, ghirah yang dengannya seseorang dapat memperbaiki keadaan keluarga. Kedua, ghirah yang dapat menyebabkannya masuk neraka. Ditinjau dari nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, cemburu ada dua macam. Dalam sebuah hadits disebutkan : bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ada jenis cemburu yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala, adapula yang dibeni-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada keraguan, sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasi keraguan.”
Disebutkan di dalam hadits,
“Saad bin Ubadah radhiallahu ‘anhu berkata, Sekiranya aku melihat seorang laki-laki bersama dengan isteriku, niscaya akan kutebas ia dengan pedang,” ucapan itu akhirnya sampai kepada Rasulullah. Lalu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian merasa heran terhadap kecemburuan Saad? Demi Allah, aku lebih cemburu daripadanya, dan Allah lebih cemburu daripadaku.”
Ditinjau dari sisi yang lain, cemburu ada dua macam. Pertama, ghirah lil mahbub (cemburu membela orang yang dicintai). Kedua, ghirah ‘alal mahbub (cemburu membela agar jangan sampai ada orang lain yang juga mencintai orang yang dicintainya.
Ghirah lil mahbub adalah pembelaan seseorang terhadap orang yang dicintai, disertai dengan emosi demi membelanya, ketika hak dan kehormatan orang yang dicintai diabaikan atau dihinakan. Dengan adanya penghinaan tersebut, ia marah demi yang dicintainya, kemudian membelanya dan berusaha melawan orang yang menghina tadi. Inilah cemburu sang pencinta yang sebenarnya. Dan ini pula ghirah para Rasul ‘alaihi salam dan pengikutnya terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta melanggar syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jenis ghirah inilah yang semestinya dimiliki seorang muslim, untuk membela Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasul shollallahu ‘alaihi wa sallam dan agama-Nya. Adapun ghirah ‘alal mahbub adalah kecemburuan terhadap orang lain yang ikut mencintai orang yang dicintainya. Jenis ghirah inilah yang hendak kita kupas pada pembahasan ini.
BEBERAPA CONTOH KECEMBURUAN
SEBAGIAN ISTERI NABI SHOLLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Disebutkan dalam sebuah riwayat, Anas radhiallahu ‘anhu berkata:
“Suatu ketika Nabi di rumah salah seorang isteri beliau. Tiba-tiba isteri yang lain mengirim mangkuk berisi makanan. Melihat itu, isteri yang rumahnya kedatangan Rasul memukul tangan pelayan pembawa makanan tersebut, maka jatuhlah mangkuk tersebut dan pecah. Kemudian Rasul mengumpulkan kepingan-kepingan pecahan tersebut serta makanannya, sambil berkata: “Ibu kalian sedang cemburu,” lalu Nabi menahan pelayan tersebut, kemudian beliau memberikan padanya mangkuk milik isteri yang sedang bersama beliau untuk diberikan kepada pemilik mangkuk yang pecah. Mangkuk yang pecah beliau simpan di rumah isteri yang sedang bersama beliau.”
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa isteri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam yang memecahkan mangkuk adalah ‘Aisyah Ummul Mukminin, sedangkan yang mengirim makanan adalah Zainab binti Jahsy.”
Dalam hadits yang lain diriwayatkan:
“Dari Aisyah: “Aku tidak cemburu kepada seorang wanita terhadap Rasulullah sebesar cemburuku kepada Khadijah, sebab beliau selalu menyebut namanya dan memujinya.”
Dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘Aisyah berkata: “Tatkala pada suatu malam yang Nabi berada di sampingku, beliau mengira aku sudah tidur, maka beliau keluar. Lalu aku (pun) pergi mengikutinya. (Aku menduga beliau pergi ke salah satu isterinya dan aku mengikutinya sehingga beliau sampai di baqi’). Beliau belok, aku pun belok. Beliau berjalan cepat, akhirnya aku mendahuluinya. Lalu beliau bersabda: “Kenapa kamu, hai Aisyah, dadamu berdetak kencang?” Lalu aku mengabarkan kepada beliau kejadian yang sesungguhnya, beliau bersabda: “Apakah kamu mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan menzhalimimu?”.
NASIHAT BAGI WANITA DALAM MENGENDALIKAN PERASAAN CEMBURU
Sebagaimana fenomena yang kita lihat dalam kehidupan tangga pada umumnya, tampaklah bahwa sifat cemburu itu sudah menjadi tabiat setiap wanita, siapapun orangnya dan bagaimanapun kedudukannya. Akan tetapi, hendaklah perasaan cemburu ini dapat dikendalikan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan kehidupan rumah tangga.
Berikut beberapa nasihat yang perlu diperhatikan oleh para isteri untuk menjaga keharmonisan kehidupan rumah tangga, sehingga tidak ternodai oleh pengaruh perasaan cemburu yang berlebihan.
§
Seorang
isteri hendaklah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersikap
pertengahan dalam hal cemburu terhadap suami. Sikap pertengahan dalam setiap
perkara merupakan bagian dari kesempurnaan agama dan akal seseorang. Dikatakan
oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha: “Hai
‘Aisyah, bersikaplah lemah-lembut, sebab jika Allah menginginkan kebaikan pada
sebuah keluarga, maka Dia menurunkan sifat kasih-Nya di tengah-tengah keluarga
tersebut.” Dan sepatutnya seorang isteri meringankan rasa cemburu kepada suami,
sebab bila rasa cemburu tersebut melampaui batas, bisa berubah menjadi tuduhan
tanpa dasar, serta dapat menyulut api di hatinya yang mungkin tidak akan pernah
padam, bahkan akan menimbulkan perselisihan di antara suami dan melukai hati
sang suami. Sedangkan isteri akan terus hanyut mengikuti hawa nafsunya.
§
Wanita
pencemburu, lebih melihat permasalahan dengan perasaan hatinya daripada indera
matanya. Ia lebih berbicara dengan nafsu emosinya dari pada pertimbangan akal
sehatnya. Sehingga sesuatu masalah menjadi berbalik dari yang sebenarnya.
Hendaklah hal ini disadari oleh kaum wanita, agar mereka tidak berlebihan
mengikuti perasaan, namun juga mempergunakan akal sehat dalam melihat suatu
permasalahan.
§
Dari
kisah-kisah kecemburuan sebagian isteri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa
sallam tersebut, bisa diambil pelajaran berharga, bahwa sepatutnya seorang
wanita yang sedang dilanda cemburu agar menahan dirinya, sehingga perasaan
cemburu tersebut tidak mendorongnya melakukan pelanggaran syari’at, berbuat
zhalim, ataupun mengambil sesuatu yang bukan haknya. Maka janganlah mengikuti
perasaan secara membabi buta.
§
Seorang
isteri yang bijaksana, ia tidak akan menyulut api cemburu suaminya. Misalnya,
dengan memuji laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekaguman terhadap
laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekagumman terhadap laki-laki
lain, baik pakaiannya, gaya
bicaranya, kekuatan fisiknya dan kecerdasannya. Bahkan sangat menyakitkan hati
suami, jika seorang isteri membicarakan tentang suami pertamanya atau
sebelumnya. Rata-rata laki-laki tidak menyukai itu semua. Karena tanpa
disadarinya, pujian tersebut bermuatan merendahkan “kejantanan”nya, serta
mengurangi nilai kelaki-lakiannya, meski tujuan penyebutan itu semua adalah
baik. Bahkan, walaupun suami bersumpah tidak terpengaruh oleh ungkapannya
tersebut, tetapi seorang isteri jangan melakukannya. Sebab, seorang suami berat
melupakan itu semua.
§
Ketahuilah
wahai para isteri! Bahwa yang menjadi keinginan laki-laki di lubuk hatinya
adalah jangan sampai ada orang lain dalam hati dan jiwamu. Tanamlah dalam
dirimu bahwa tidak ada lelaki yang terbaik, termulia, dan lainnya selain dia.
§
Wahai
para isteri! Jadikanlah perasaan cemburu kepada suami sebagai sarana untuk
lebih mendekatkan diri kepadanya. Jangan menjadikan ia menoleh kepada wanita
lain yang lebih cantik darimu. Berhias dirilah, jaga penampilan di hadapannya
agar engkau selalu dicintai dan disayanginya. Cintailah sepenuh hatimu,
sehingga suami tidak membutuhkan cinta selain darimu. Bahagiakan ia dengan
seluruh jiwa, perasaan dan daya tarikmu, sehingga suami tidak mau berpisah atau
menjauh darimu. Berikan padanya kesempatan istirahat yang cukup. Perdengarkan
di telinganya sebaik-baik perkataan yang engkau miliki dan yang paling ia
senangi.
§
Wahai,
para isteri! Janganlah engkau mencela kecuali pada dirimu sendiri, bila saat
suamimu datang wajahnya dalam keadaan bermuram durja. Jangan menuduh
–salah-kecuali pada dirimu sendiri, bila suamimu lebih memilih melihat orang
lain dan memalingkan wajah darimu. Dan jangan pula mengeluh bila engkau
mendapatkan suamimu lebih suka di luar daripada duduk di dekatmu. Tanyakan
kepada dirimu, mana perhatianmu kepadanya? Mana kesibukanmu untuknya? Dan mana
pilihan kata-kata manis yang engkau persembahkan kepadanya, serta senyum
memikat dan penampilan menawan yang semestinya engkau berikan kepadanya?
Sungguh engkau telah berubah di hadapannya, sehingga berubah pula sikapnya
kepadamu, lebih dari itu, engkau melemparkan tuduhan terhadapnya karena cemburu
butamu.
§
Dan
ingatlah wahai para isteri! Suamimu tidak mencari perempuan selain dirimu. Dia
mencintaimu, bekerja untukmu, hidup senantiasa bersamamu, bukan dengan yang
lainnya. Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ikutilah petunjuk-Nya
dan percayalah sepenuhnya kepada suamimu setelah percaya kepada Allah yang
senantiasa menjaga hamba-hamba-Nya yang selalu menjaga perintah-perintah-Nya,
lalu tunaikanlah yang menjadi kewajibanmu. Jauhilah perasaan was-was, karena
setan selalu berusaha untuk merusak dan mengotori hatimu.
TIDAK BOLEHKAH CEMBURU?
Barangkali, di antara para isteri ada yang membantah dan berkata, adalah kebodohan apabila seorang isteri tidak memiliki rasa cemburu pada suaminya, padahal cemburu ini merupakan ungkapan cintanya kepada suaminya, sekaligus sebagai bumbu penyedap yang bisa menimbulkan keharmonisan, kemesraan dan kepuasan batin dalam kehidupan rumah tangga.
Ya benar! Akan tetapi, apakah pantas seorang isteri yang berakal sehat, jika ia tenggelam dalam rasa cemburunya, sehingga menenggelamkan bahtera kehidupan rumah tangganya, mencabik-cabik jalinan cinta dan kasih sayang dalam keluarganya, bahkan ia sampai terjangkiti penyakit psikis yang kronis, perang batin yang tidak berkesudahan, dan akhirnya merusak akal sehatnya?
Memang sangat tipis, perbedaan antara yang benar dengan yang salah, antara yang sakit dengan yang sehat, antara cemburu yang penuh dengan kemesraan dengan cemburu yang membakar dan menyakitkan hati dikarenakan penyakit kejiwaan yang berat. Namun, tetap ada perbedaan antara cemburu dalam rangka membela kehormatan diri dan kelembutan karena didasari rasa cinta kepada suami, dengan cemburu yang merusak dan membinasakan. Kalau begitu, cemburulah wahai para isteri, dengan kecemburuan yang membahagiakan suamimu, dan menampakkan ketulusan cintamu kepadanya! Tetapi hindarilah kecemburuan yang merusak dan menghancurkan keluargamu. Cemburulah demi memelihara harga diri dan kehormatan suami. Dan lebih utama lagi, cemburu untuk membela agama Allah.
Isteri yang selalu memantau kegiatan suaminya, mencari-cari berita tentangnya, serta selalu menaruh curiga pada setiap aktivitas suaminya, bahkan cemburu kepada teman dan sahabatnya, maka inilah isteri yang bodoh. Dengan sifatnya tersebut, maka kehidupan rumah tangganya, rasa cinta, kepercayaan di antara keduanya akan terputus dan hancur. Dan bagi wanita yang rasa cemburunya tersulut karena suatu sebab, kemudian ia merasa hal itu tidak pada tempatnya, hendaklah ia menyadari kesalahannya, lalu melakukan perbaikan atas sikapnya tersebut. Dan yang paling penting adalah, tidak mengulangi lagi kesalahan serupa di kemudian hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar