Selasa, 22 Februari 2011

SEINDAH CINTA IBU

Bila aku mencintai Ibu, itu semata-mata karena dari rahimnya yang suci aku terlahir. Alasan itu sudah cukup bagiku untuk mencintainya sepenuh jiwa. Jika kemudian cintaku berkembang dan terus bermekaran, itu karena Ibu selalu menitipkan kasihnya padaku tanpa pernah ada keinginan untuk mengambilnya kembali. Sungguh aku merasa mendapat kemuliaan tak terkira berkesempatan menjaga cinta itu agar terus bersemi di bilik hati.
Ibu memang teramat istimewa bagiku. Dia adalah matahari yang tak pernah lelah menghangatkan bumi. Dia juga bulan yang selalu setia memantulkan cahaya cinta sang matahari dalam pekatnya malam. Bahkan Ibu adalah angin pembawa kesejukan bagi nuraniku. Dan adalah Ibu, sosok wanita yang selalu kukagumi sepenuh hati karena ketegaran dan ketulusan cintanya.
“Kamu nggak malu Tres,”
“Malu kenapa,Bu?”
“Kamu nggak malu jalan bareng sama Ibu seperti ini?”
“Bahkan Tresna bangga, Bu,” jawabku sambil membantu Ibu naik ke dalam angkot. Lalu aku duduk di sisinya. Aku merasakan tatapan aneh dari orang-orang yang ada di dalam angkot kepada Ibu. Tapi aku tidak peduli karena aku tahu, ketulusan hati Ibu yang tidak pernah marah sedikit pun kepada orang-orang yang memandangnya aneh, sebelah mata, atau bahkan ngomongin terang-terangan. Jadi aku pun sama sekali tidak merasa terganggu.
“Justru Tresna selalu sangat menginginkan kesempatan seperti ini, Bu, berjalan-jalan berdua dengan Ibu, memperkenalkan Ibu dengan teman-teman Tresna. Hal ini sangat membuat Tresna bahagia,” sambungku kemudian.
Selalu senyuman yang kemudian mengembang di bibir yang legam dan berkerut itu. Dan aku, tidak akan pernah tahan untuk tidak membalasnya dengan ciuman terhangat. Hanya saja sayang, sekarang kami di angkot, tentu saja hal itu tidak aku lakukan.
Bukan salah Allah jika Ibu diciptakan dengan kaki yang begitu ringkih, bengkok dan teramat kecil. Bukan maksud Allah menjadikan Ibu sebagai bahan tertawaan anak-anak kecil karena ia hanya mampu ngesot untuk mencapai suatu tempat.
Yah, Ibu, karena kecacatannya itu, tidak bisa berjalan secara normal.Bukan juga kehendak Ibu bila dalam keadaan seperti ini kami mengalami kehidupan yang sulit. Menjadi pembatik di tempat Ibu Sungkowo adalah cara Ibu untuk mendapatkan penghasilan untuk membesarkan dan menyekolahkanku. Tidak jarang aku juga membantu Ibu membatik, atau ngleraki. Namun sejak aku kuliah di Tata Busana IKIP dan bisa menjahit, aku lebih senang menerima jahitan untuk meringankan beban biaya kuliahku. Sebenarnya aku tidak begitu berminat kuliah karena aku kasihan pada Ibu. Lagipula aku sadar akan kemampuanku yang sedikit di bawah rata-rata. Aku tidak punya banyak waktu untuk belajar, apalagi untuk ikut bimbingan belajar atau les privat seperti teman-teman yang lainnya. Tidak ada uang. Makanya aku cukup nrimo menjadi pembatik seperti Ibu. Tapi Ibu memaksa.
“Ibu ndak pengen melihat kamu tidak punya bekal untuk hidupmu nanti, Nduk. Ibu sudah bekerja keras, siang-malam, agar Ibu bisa nabung untuk biaya kuliahmu. Ibu harus laksanakan amanah almarhum bapakmu untuk membekalimu ilmu.”
“Tapi ilmu kan nggak hanya didapat di bangku kuliah saja tho, Bu.”
“Ibu ngerti. Tapi selagi bisa, berusahalah, Nduk. Ibu ingin agar kerja keras Ibu ini bisa panjang manfaatnya, bukan cuma buat kamu saja, tapi juga buat masyarakat. Paling tidak nanti Ibu bisa menunjukkan sama Gusti Allah bahwa dengan kedua kaki Ibu yang cacat pun Ibu bisa menjaga titipan-Nya dengan baik. Ibu yakin bahwa Gusti Allah tidak main-main menitipkan kamu ke Ibu. Ibu bahagia banget mendapat kepercayaan ini. bahkan Ibu nggak peduli menjadi bahan tertawaan orang-orang sekampung saat hamil kamu. Apalagi ketika hamil dua bulan, bapakmu yang selama ini jadi sandaran hidup Ibu dipundut Gusti Allah, Ibu semakin dilecehkan masyarakat. Tapi Ibu punya keyakinan, sekalipun tanpa bapakmu, Ibu akan bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Ibu yakin Gusti Allah nggak pernah salah ketika menetapkan keadaan Ibu seperti ini. Gusti Allah ora sare, dan akan selalu mengawasi Ibu. Makane Nduk, sekarang Ibu harap kamu ambil kesempatan kuliahmu selagi Ibu mampu. Ibu akan terus bantu kamu. Hanya itu yang bisa Ibu lakukan buat kamu.”
Aku menghela napas panjang. Ah, kata-kata bijak yang diucapkan Ibu saat aku lulus SMU, tiga tahun yang lalu itulah yang menjadi pemompa semangatku selama ini. Dan itu terus akan terekam dalam hatiku sampai kapan pun. Dan dengan niat untuk berbakti pada Ibu akhirnya aku ikut UMPTN, dengan pilihan IKIP jurusan Tata Busana. Aku tidak mau berspekulasi mengambil jurusan yang terlalu tinggi. Aku tahu kemampuanku, juga kemampuan keuangan Ibu. Aku tidak ingin membuat Ibu bersedih karena kegagalanku. Aku rela melakukan apa saja untuk Ibu.
Dulu aku berkelahi dengan teman-temanku karena mereka mengejek dan menghina Ibu. Aku bela Ibu habis-habisan, tapi mereka menertawakan Ibu terus-terusan. Perih hatiku saat itu. Dan hanya nasihat Ibulah yang bisa menyembuhkan luka itu.
“Kamu nggak perlu marah pada mereka, Tres. Ibu bisa maklum mengapa mereka mentertawakan Ibu. Lagipula Ibu juga nggak malu. Justru Ibu bangga diciptakan dalam bentuk yang istimewa seperti ini. Setiap saat Ibu bisa tersadarkan akan kebesaran Gusti Allah. Kalau Ibu ikhlas menerimanya, maka Gusti Allah pun akan ikhlas menerima Ibu nanti. Kalau Ibu tersenyum saat menerima ejekan dan hinaan ini, maka Gusti Allah juga akan tersenyum kepada Ibu.”
Aku terdiam sejenak. Ah… Ibu….
Lamunanku dibuyarkan oleh tepukan Ibu. “Kita turun sini aja, Tres. Udah sampai.”
Aku turun duluan untuk membantu Ibu turun dari angkot. Jalan setapak menuju ke pasar yang kami lalui tidak terlalu ramai.
“Kita belanja kain sidomukti dan parangrusak pesenan Bu Padmo dan Bu Singgih dulu. Setelah itu kita nyari bahan baju.”
“Bahan baju buat siapa, Bu?”
“Ya buat kamu. Nanti kamu jahit sendiri, ya. Selama ini kan kamu lebih sering menerima pemberian dari Bu Sungkowo daripada dari ibumu sendiri.”
“Siapa bilang? Pemberian Ibu kepada Tresna nggak bisa dibandingkan dengan pemberian orang lain. Bahkan Ibu terlalu banyak memberi dan berkorban buat Tresna. Dan itu lebih dari cukup bagi Tresna, Bu.”
“Tapi kamu mau kan Ibu belikan bahan ini,” tanya Ibu sambil memilih bahan chiffon warna dasar biru dengan motif kembang-kembang kecil.
Aku mengangguk. Setelah belanjanya selesai, aku dan Ibu memutuskan untuk segera pulang.
Masih di bawah tatapan-tatapan aneh, penasaran dan juga kekaguman, aku dan Ibu terus berjalan berdua beriringan melewati los-los pasar. Namun tiba-tiba dari arah seberang aku mendengar letusan diikuti hiruk-pikuk suara orang-orang berteriak.
“Kebakaran…! Kebakaran…! Lari…!”
Aku panik menghadapi situasi seperti ini. Orang-orang berlarian, berebutan ingin cepat-cepat keluar dari pasar. Aku berpikir bagaimana caranya bisa membawa Ibu keluar dari pasar dengan cepat. Akhirnya aku putuskan untuk menggendong Ibu. Hanya itu cara yang paling memungkinkan yang bisa aku lakukan.
“Bu, Tresna akan menggendong Ibu!”
Dan dalam sekejap Ibu sudah ada di punggungku. Sekuat tenaga aku berlari menghindari kobaran api yang semakin membesar. Namun karena membawa beban berat, lariku tidak bisa cepat. Aku sangat kelelahan, terhimpit dalam desakan massa, aku tidak bisa leluasa bergerak. Tiba-tiba ada seorang laki-laki menabrakku dan aku terjerembab bersama Ibu. Aku berusaha berdiri, tapi tidak bisa. Kulihat Ibu pingsan terinjak-injak orang. Aku menangis, berteriak minta tolong. Namun tak seorang pun peduli. Dan DUARR…! Sebuah ledakan memperbesar kebakaran itu. Api menjilat-jilat di depanku. Hawa panasnya menyapu wajahku. Sekuat tenaga aku berusaha menggapai tubuh ibu. Namun serta merta ada tangan kokoh menyeretku menghindar dari jilatan api. Aku meronta. Yang kumau hanyalah Ibu. Aku berteriak-teriak memanggil-manggil Ibu. Tapi aku tidak melihat bayangannya lagi. Akhirnya aku hanya bisa menangis. Kupandangi jilatan api yang melahap pasar dan isinya. masih banyak orang yang ada di dalam yang tidak sempat menyelamatkan diri. Dan salah satunya adalah ibuku… Aku terisak, tersedu menyadari hal itu.
Hampir satu jam, kebakaran itu baru bisa diatasi. Asap masih mengepul di sebagian sudut pasar. Jerit tangis dan hiruk-pikuk orang berbaur dengan hingar-bingar suara ambulan dan mobil pemadam kebakaran. Pelan aku mulai beranjak dari tempat duduk. Kususut air mata yang sedari tadi menganak sungai di pipi. Aku melangkah terseok-seok menyeruak di antara kerumunan orang yang berusaha mengidentifikasi jenazah sanak saudara mereka. Jejeran tubuh yang sudah gosong itu rata-rata sudah sangat sulit dikenali. Aku sebenarnya agak ngeri. Begitu cepat tragedi itu terjadi di depanku, melenyapkan pasar, memutus keriuhan menjadi jerit tangis, mencabut nyawa-nyawa para pembeli dan penjual tanpa ada tawar-menawar lagi.
Aku amati mereka. Kucari sosok yang berkaki bengkok dan kecil. Aku menahan napas, hatiku berdebar-debar dan jantungku terus berpacu.
Semoga tak kutemukan, batinku. Begitu samapai pada ujung barisan, hatiku terlonjak. Ibu tidak termasuk dalam jajaran korban yang gosong itu. Harapan untuk bisa menemukan Ibu dalam keadaaan selamat kembali muncul.
Gontai langkahku kuseret menuju Rumah Sakit Dharma Pertiwi. Kata petugas kesehatan, korban yang luka dievakuasi ke sana. Jarak rumah sakit yang hanya satu setengah kilometer terasa sangat jauh. Langkahku sebenarnya tersa sangat berat.
Namun aku butuh kepastian tentang orang yang teramat kucintai itu. Orang yang selama ini selalu berhasil memompakan semangatnya kepadaku.
“Korban luka bakar semua sudah dibawa ke bangsal tiga lantai satu, Mbak,” begitu terang perawat yang kutemuai di pintu UGD, sesampaiku di rumah sakit.
“Ada pasien dengan kaki kecil dan bengkok, Suster?”
“Ada, kebetulan tadi saya yang menanganinya. Lukanya sangat parah. Mari saya antar.”
Aku mengikuti langkah perawat yang masih seumuran denganku itu ke bangsal tiga lantai satu. Ternyata di sana sudah penuh dengan orang
“Di sebelah sana, tempat tidur baris ketiga dari jendela.”
“Apakah lukanya sangat parah, Suster?” keheranan aku melihat tubuh Ibu yang sudah dibalut semua dengan perban putih. Semuanya, kecuali lubang hidung.
“Yah… memang sanagt parah.”
”Tapi… masih bisa hidup kan, Suster…?”
Perawat itu mengangguk. Tapi kemungkinan dia akan mengalami cacat di wajah dan gangguan penglihatan.”
“Maksud suster… buta?”
Kembali perawat itu mengangguk. Aku tersedu. Lengkap sudah penderitaanmu, Bu. Puaslah mereka yang ingin mentertawakanmu. Ya Allah… beginikah cara-Mu menyayangi ibuku…? Seandainya penderitaan ini bisa kuganti, bairlah ya Allah, aku yang menanggungnya asal Kau bahagiakan ibuku. Kembali tangisan kepedihan mengguncangku. Hatiku teriris, miris dan perih. Aku tidak akan bisa tahan melihat penderitaan Ibu.
Kutunggui Ibu sepanjang hari ini. Kutatap putih perban yang melilit seluruh wajah dan tubuhnya. Aku ingin jika nanti Ibu siuman ia tahu bahwa putri satu-satunya ada di sisinya. Dalam shalat asharku tadi aku berdoa khusus untuk Ibu. Aku minta agar aku diberi kesempatan untuk membahagiakananya. Aku ingin Ibu melihatku lulus kuliah, memakai toga dan diwisuda. Tiba-tiba aku melihat gerakan lemah pada jemari ibu. Ibu sudah sadar! sorakku dalam hati. Kusentuh jemari Ibu pelan. Kubisikkan kalimat-kalimat penyemangat.
“Ini Tresna, Bu…”
kembali gerakan lemah jemarinya muncul. Hatiku girang. Berulangkali ucapan hamdalah mengalir dari bibirku.
“Ibu ada di rumah sakit. Ibu kena luka bakar dalam kebakaran di pasar tadi pagi. maafkan Tresna yang tidak sempat menyelamatkan Ibu. Semua terjadi begitu cepat…”
Tak ada reaksi. Tapi aku bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di hati Ibu. Ibu sedang benar-benar sedih. Kulihat perban penutup matanya basah oleh airmata ibu. Hatiku yang memang sudah runtuh sejak melihat keadaan Ibu, kini makin hancur.
“Ibu jangan menangis…” kuelus lalu kucium jemarinya.”Ibu, Tresna sudah belajar menjadi tegar seperti Ibu. Tresna sudah berusaha untuk tidak menjadi cengeng. Tapi Ibu jangan menangis seperti ini. Kalau ibu menangis… Tresna… hik…hik….
Tangisku benar-benar meledak. Dadaku berguncang menahan kesedihan yang mendera. Kutelungkupkan wajahku pada tempat tidur Ibu. Kenangan-kenangan manis saat bersama-sama Ibu berkelebat memerihkan hatiku. Betapa ingin aku memeluknya.
Akhirnya aku hanya bisa menelumgkupkan wajahku di kasur Ibu. Aku takut membayangkan hidup seorang diri tanpa bimbingan kasih Ibu. Aku tak peduli walau ibuku tidak senormal wanita-wanita lain. Apa pun keadaannya, tak akan ada yang sanggup menggantikannya, cintanya, ketulusannya, nasihat-nasihatnya, juga senyumnya. Di balik ringkih tubuhnya, ibuku adalah seorang wanita yang kuat. Kuat dalam arti yang sebenarnya. Air mata yang tadi kutahan terus berjatuhan satu-satu.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahuku dan sebuah suara memanggil namaku. Suara itu… aku sangat mengenalnya. Perlahan kuangkat wajahku, dan kuperhatikan tubuh berbalut perban putih di depanku. Masih diam.
“Tresna, kenapa kamu menangis di situ, Nduk…? Ibu di sini, Cah Ayu…”
Aku menoleh. Kaget setengah mati. Dis amping kiriku ada sesosok yang sangat kukenal. IBU! Benar dia ibuku. Jadi yang kutunggui dan kutangisi sepanjang hari ini siapa?
“Maaf, Mbak, orang yang terbaring itu bukan ibu Mbak. namanya Fitri, usianya 30 tahun. Dia anak saya,” seorang ibu-ibu setengah baya memahami keterjutanku. Seorang perawat yang tadi mengantarkanku pun mengangguk pelan.
Akhirnya penuh rasa syukur aku menghambur ke pelukan Ibu yang telah hadir di sisiku.
“Bu, Tresna nggak mau ditinggal sendirian. Tresna belum bisa… Tresna terlalu sayang pada Ibu…!”
Aku melanjutkan tangisku yang sudah terlanjur meledak. Ibu menyambutku sambil tersenyum. Ya… senyuman khas Ibu. Senyuman yang tidak dimiliki oleh orang lain…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar