Selasa, 09 Agustus 2011

Puisi II


Untuk menjadi kekasihNya
tidak cukup hanya dengan akhlak mulia
tidak cukup hanya dengan bermanfaat bagi sesama
tidak cukup sekedar berbuat baik saja
Tapi juga percaya pada KeesaanNya
Patuh pada perintah-perintahNya

Jika tidak mau puasa
bagaimana bisa menjadi kekasihNya ?

Indahnya surga
dan segala isinya
sungguh membuat
haus dan dahaga puasa
tak seberapa artinya

Saat tiba waktumu
Mengapa tak bertanya pada dirimu
Kemanakah kaki akan melangkah?
Di daratan mana kapalmu akan berlabuh?
Jangan mau jadi sampan tak berdayung
Terombang-ambing di pelayaran tak berujung
Aku sangat yakin pada dirimu teman
Tujuan hidupmu tentu telah kau tancapkan
Tegas dan pasti layaknya manusia sejati
Selamat ulang tahun teman
Doaku untuk masa depanmu

hidup di dunia hanya satu kali
jangan sia-siakan
kesempatan yang datang
jangan pernah memusuhi kegagalan
bersahabatlah dengan suka dan duka
seperti bersahabat dengan siang dan malam

Bagai terjebak di lautan dalam tak berdasar,
diombang-ambing ombak nan dahsyat
diatas ombak ada ombak lagi yang lebih dahsyat
diatasnya gumpalan awan gelap gulita
awan hitam yang tindih menindih
saat ku keluarkan tangan tak dapat kulihat
gelap gulita hitam pekat dingin tanpa cahaya

Di dasar kegelapan ini hanya satu harapku
harapku hanya pada petunjuk-Mu
harapku hanya limpahan cahaya-Mu
selamanya aku dalam gelap tanpa-Mu
hanya dengan petunjuk-Mu
bangkit dari khawatir di hatiku
hanya dengan tuntunan-Mu
lepas dari duka cita yang menyelimutiku
hanya bila berpegang pada pedoman-Mu
bahagia selamanya untukku

Lalu aku menyadari bahwa aku tidak sendirian.
Aku punya teman-teman dengan kekhawatiran yang sama
Kemudian kurasakan bila kekhawatiran kami hadapi bersama,
segalanya menjadi lebih ringan.
Saat kami bahu-membahu dan bergandengan tangan,
ternyata masa depan tidak lagi menakutkan.

kehilanganmu...
membuatku galau
dalam kekalutan kalbu;
Lenyapnya harapan
yang terlanjur terpupuk
tersuburkan dalam dadaku
adalah bak gambaran
lorong gelap masa depan;
Kini hanya bisa melihatmu
terbang bersama angin lalu
luruh bersama luruhnya asaku
mengabu bersama terbakarnya
gubuk indah yang pernah kubangun
dalam hatiku yang lalu tersedu-sedu;
Namun aku juga tahu
hidup adalah melangkah maju
bergerak menari bersama waktu
dan sudah barang tentu
aku ada disini berdiri kepala tegak
untuk sebuah keceriaan baru

birunya langit
tidak sebiru hatiku
yang menyesalimu
tapi apa itu perlu?
untuk dirimu dan diriku
karena segalanya berjalan
sesuai takdirmu dan takdirku

Don’t sweat the small stuff, jangan membesar-besarkan masalah kecil. Dia begitu eksis karena kita menganggap dia begitu eksis. Pada kenyataannya kita tidak butuh dia untuk menikmati hidup. Kita baik-baik saja dan mampu menjalani segalanya dengan baik kalau kita mau.

Biarlah waktu yang akan membantu kita melupakan semuanya. Sementara kita terus melangkah maju dan selangkah demi selangkah. Kebahagiaan ada dalam kaki-kaki yang sibuk melangkah sehingga tidak punya waktu lagi mengkhawatirkan hari esok. Jadi nikmatilah hari ini, dan teruslah melangkah maju untuk merengkuh kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar