Jumat, 08 Juli 2011

Harta hanyalah titipan ilahi.

Hartamu hanyalah titipan ilahi.·

Allah ·Ta’ala· berfirman,


آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا
مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ


“·Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari °hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya°. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar·.” (QS. Al Hadiid: 7)


Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta tersebut milik Allah. Kita tidaklah memiliki apa-apa
melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan hartanya pada jalan Allah sebagaimana halnya seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak.


Hal ini menunjukkan bahwa harta kita bukanlah miliki kita pada hakikatnya. Kita hanyalah bertindak
sebagai wakil atau pengganti dari pemilik harta tersebut yang sebenarnya. Oleh
karena itu, manfaatkanlah kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk
memanfaatkan harta tersebut di jalan yang benar sebelum harta tersebut hilang
dan berpindah pada orang-orang setelah kita.


Harta hanyalah titipan ilahi. Semua harta Allah izinkan untuk kita manfaatkan di jalan-Nya dalam hal kebaikan dan bukan dalam kejelekan. Jika harta ini pun Allah ambil, maka itu memang milik-Nya. Tidak boleh ada yang protes, tidak boleh ada yang mengeluh, tidak boleh ada yang merasa tidak suka karena manusia memang orang yang fakir yang tidak memiliki harta apa-apa pada hakikatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar