Senin, 13 Februari 2012

Big Match KPSI vs PSSI 4-0

MEMAHAMI pertarungan KPSI (Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia) versus PSSI (Persatuan Sepak Bola Indonesia) tentu tidak mudah bagi kalangan grass roots (akar rumput). Lantas?
Wong cilik sulit memahami politik dan atau kebijakan tingkat tinggi sepak bola nasional. Mungkin mereka menganggapnya sebagai dua kesebelasan elite yang bertarung keras dan sangat seru di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Nggak ruwet-ruwet, nggak membingungkan.
Pendekatan atau cara pandang seperti ini mungkin saja tidak pas dan absurd, tapi mungkin lebih jelas dan konkret bagi wong cilik yang mendambakan persatuan, perdamaian, dan kemajuan.
Anggap saja, andaikata salah, ini hanya obrolan di warung kopi pinggir jalan.
Bagaimana big match dua tim elite itu sejauh ini?
Babak pertama telah berlalu. Skor babak pertama 4 – 0 untuk kemenangan “skuad” KPSI. Siapa pencetak golnya?
Gol pertama dicetak oleh striker Ir La Nyalla Mahmud Mattalitti ketika melepas tendangan kanon dari Surabaya. Tepatnya di Hotel Utami, 11 Desember 2011 di Surabaya. Ketika Ketum Pengprov PSSI Jatim itu berhasil mengajak puluhan perwakilan klub di Jatim untuk memulai gerakan besar perubahan.
Gol kedua diciptakan oleh penyerang lubang Mutiara Hitam Persipura, menyambut assist manis CAS (Court of Arbitration of Sport = Badan Arbitrase Olahraga Internasional) – yang memenangkan gugatan Persipura terhadap PSSI dalam putusan selanya
Persipura boleh mengikuti laga playoff AFC Champions League versus The Reds Adelaide United (Australia). Leg 1 di kandang Adelaide FC, Hindmarsh Stadium, Adelaide, Kamis 16 Februari 2012.
Gol ketiga “wasit” Menegpora Andi Mallarangeng memberikan tendangan penalty buat KPSI dan gol (karena akhirnya PSSI mengakui eksistensi Indonesia Super League yang dikelola PT Liga Indonesia).
Gol keempat tercipta akibat blunder lini pertahanan PSSI, dalam hal ini PT Liga Prima Indonesia Sportindo (LPIS) yang menyebabkan Arema FC terpecah. Akibatnya laga Arema FC versus Bontang FC batal digelar Sabtu 11 Februari 2012.
* * *
Kini, duel akbar telah memasuki pertengahan babak II. Menuju menit-menit krusial paruh kedua Februari sampai Maret 2012. Apakah KLB bisa tergelar dan hasilnya diakui AFC dan FIFA atau tidak? Apakah Ketua Umum PSSI yang anyar bisa diterima oleh semua pihak? Kalau hasil KLB diakui dan diterima semua pihak, maka hat-trick pun tercipta. Skor berubah menjadi 7 – 0 untuk kemenangan KPSI.
Tapi, jika KLB yang dirancang KPSI batal digelar, maka skor langsung berubah menjadi 5 – 4. Draw, karena skuad PSSI memberondongkan gol-gol quat-trick-nya.
Empat gol itu diborong oleh striker Djohar Arifin Husin, hasil assist Menegpora Andi Mallarangeng.
1.Merangkul ISL kemudian menggabungkannya dengan IPL, gol (skenario damai seperti yang diharapkan Menegpora terlaksana). 2.Melewati center back Toni Apriliani, mementahkan kerja keras KPSI, gol lagi.
3.Memperoleh dukungan yang makin kuat dari AFC dan FIFA, gol lagi.
4.Memperberat hukuman terhadap Ir La Nyalla Mahmud Mattalitti, Toni Apriliani, Roberto Rouw, dan Erwin Dwi Budiawan. Ini bisa diibaratkan gol dengan tendangan salto.



5. Gol penentu kemenangan dicetak oleh striker lainnya, Bob Hippy, karena ternyata mayoritas klub professional dan amatir di Indonesia memberikan through pass yang akurat, dan kaki kanan Bob Hippy mengunjamkan tendangan keras menjebol pojok kiri atas gawang KPSI.

* * * *
Perumpamaan ini mungkin dinilai mengada-ada. Digathuk-gathukno (dikait-kaitkan) secara sembrono. Tapi, beginilah cara termudah yang bisa dicerna wong cilik.

Yang pasti, wong-wong cilik sulit memprediksikan akhir laga nanti. Kurun medio Fabruari sampai medio Maret menjadi fase krusial yang amat seru dan mendebarkan.
Wong cilik hanya bisa mengatakan, siapa yang lebih tangguh staminanya, lebih berpengalaman, lebih tenang dan cerdik, lebih kuat dukungan dari dalam stadion dan luar stadionlah yang kemungkinan besar menang dan juara.
Yang sangat diharapkan oleh wong cilik, semoga siapa pun pemenangnya nanti diterima dengan sportif dan sikap satria. Agar ratusan klub Indonesia segera fokus mengejar ketertinggalan. Kerja, kerja, dan kerja membenahi begitu banyak kelemahan mulai dari pembinaan pemain di tingkat SSB (Sekolah Sepak Bola) sampai tingkat strata II dan I yang menjadi sumber seleksi pemain nasional masa depan.
Jangan sampai kisah legenda Ken Arok (saling bunuh untuk menjadi penguasa berikutnya dengan keris maut buatan Empu Gandring di abad XIII) terjadi di “kerajaan” sepak bola Indonesia sekarang.
Para penguasa klub di seluruh Nusantara diharapkan melakukan lanhkah-langkah dan komentar yang terbijak dan terbaik. Demi kejayaan sepak bola Indonesia generasi masa kini dan generasi mendatang. Semoga. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar