Rabu, 26 Januari 2011

Calon Menantu*


Di sebuah desa yang tenteram dan damai, tinggallah seorang alim dan ahli ibadah. Sa’id, demikian orang memanggilnya. Ia memiliki seorang putri cantik yang taat beribadah, lemah lembut perangainya dan luhur budi pekertinya. Tak mengherankan jika banyak jejaka-jejaka yang ingin menyuntingnya dan para orang tua yang ingin mengambilnya menantu. Tak terkecuali Hisyam, salah seorang penguasa di desa itu yang kaya raya, berniat melamar putri Sa’id untuk dijodohkan dengan putranya.
         Maka diutuslah seseorang untuk menyampaikan maksud Hisyam itu kepada Sa’id. Menanggapi utusan tersebut Sa’id hanya mengatakan,
         “Sampaikan pada tuan Hisyam bahwa aku menolak lamaran ini”.
         Utusan itu bertanya, “Apa sebabnya?”
         “Karena aku tidak berkenan dengan akhlaq dan kefahaman agama putra tuan Hisyam. Dia bukanlah orang yang terpuji perilakunya” jawab Sa’id.
         Sang utusan lalu mencoba merayu, “Mengapa kau menolak lamaran seorang pejabat penting di desa ini? Apakah kau tidak menginginkan kekayaan, kekuasaan dan kedudukan yang terhormat?”
         Dengan enteng Sa’id menjawab, “Jangan kau iming-imingi aku dengan harta dan kekuasaan, yang semua itu bagi Alloh nilainya tidak lebih dari satu sayap nyamuk”.
Sang utusan tidak menyerah dan terus merayu, bahkan ia setengah mengancam, ”Tuan Sa’id, tolong pertimbangkan lagi keputusanmu. Aku  khawatir tuan Hisyam akan murka bila kau menolak keinginannya”.
         Sa’id dengan tenang menjawab, “Allah akan melindungi orang-orang yang beriman”.
         Utusan Hisyam kehabisan akal untuk merayu Sa’id. Ia pun pulang dengan tangan hampa. Sementara itu Sa’id melangkah pergi untuk melaksanakan tugasnya  memberikan pelajaran Al Qur’an dan Sunnah kepada murid-muridnya yang sudah menunggu di masjid.
         Sebelum Sa’id memulai pengajiannya, ia memperhatikan muridnya satu persatu untuk memastikan bahwa seluruh muridnya sudah hadir. Hingga pandangan Sa’id tertuju ada Abu, muridnya yang sudah selama tiga hari tidak mengikuti pengajian. Lalu Sa’id menanyakannya,
         “Kemana saja selama ini kau, Abu?”
         “Istriku meninggal dunia” jawab Abu dengan lirih.
         Sa’id terkejut mendengar jawaban Abu, “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…mengapa kau tidak memberi tahu kami sehingga kami bisa berta’ziah?
         Abu menjelaskan, “Guru, sebelumnya aku mohon maaf. Sengaja aku tidak memberi tahu guru, karena aku tidak mau mengganggu tugas guru mengajar murid-murid guru. Dan menurutku, murid-murid guru lebih utama dan lebih berhak untuk diperhatikan daripada diriku”.
         Sa’id tertegun mendengar penjelasan Abu yang begitu luhur jiwanya dalam menghadapi cobaan dari Allah. Ia tertarik dengan kepribadian Abu yang diliputi keimanan dan ketaqwaan. Lalu ia bertanya,
         “Apakah kau tidak ingin menikah lagi?”
         “Tidak, Guru…” jawab Abu singkat.
         “Mengapa? Bukankah seorang lelaki yang tidur sendiri, tanpa didampingi istri, akan mudah diganggu setan?”.
         “Betul, Guru. Tetapi orang tua mana yang sudi menikahkan putrinya denganku. Aku orang miskin dan tak punya kekayaan kecuali tiga dirham ini” jawab Abu merendah.
         “Aku akan  memberikan jalan keluar atas masalahmu” kata Sa’id tanpa ragu-ragu.
         “Guru, aku tidak ingin merepotkanmu. Tetapi aku juga tidak kuasa menampik niat baik guru. Jazakallahu khoiro, semoga Allah membalas yang lebih baik atas kebaikan budi guru”.
         Dalam perjalanan pulang usai pengajian, tak henti-hentinya Abu merenungkan kehendak Allah yang sedang ditetapkan untuknya.
         “Aku hanyalah lelaki fakir yang tidak mampu berbuat apa-apa, harta pun aku tak punya. Mungkin guru akan membantuku dengan sedikit harta agar aku segera menikah dengan wanita yang sesuai dengan keadaan diriku, atau mungkin saja guru bersedia mencarikan seorang wanita fakir yang bersedia menikah denganku. Segala Puji bagiMu Ya Allah, Dzat yang telah menggerakkan hati Sa’id guruku, untuk membantu kesulitanku”.
         Sementara itu setelah Sa’id mengakhiri pengajian hari itu, ia kembali ke rumah menjumpai putrinya yang sedang membaca surat Al Baqarah ayat 201 yang berbunyi, “Dan diantara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan akhirat. Jauhkan kami dari siksa neraka” Sang putri menghentikan bacaanya pada ayat tersebut dan bertanya pada ayahnya,
         “Ayah, kita sama-sama tahu bahwa kebaikan akhirat adalah surga. Lalu apakah yang dimaksud dengan kebaikan dunia itu?”
Sa’id tersenyum lebar mendengar pertanyaan putrinya. Lalu ia menjawab,
         “Anakku, kebaikan dunia adalah, selama hidup di dunia ini kita bisa taat beribadah kepada Allah dan RasulNya. Dan sebagai kaum wanita bisa menjadi istri yang shalihah dan taat pada suaminya yang juga shalih. Putriku, insyaAllah tak lama lagi Allah akan menganugerahkan padamu seorang suami yang shalih. Bersiaplah untuk menerimanya”.
         Beberapa hari kemudian saat Abu sedang menyiapkan makanan untuk berbuka puasa, ia mendengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang,
         “Tok..tok..tok..Assalamu’alikum….”
         “Wa’alaikumussalam..Siapa itu?”
         Suara dari luar menjawab, “Aku Sa’id, gurumu..”
         Lalu Abu bergegas membukakan pintu dengan sedikit malu dan khawatir kalau-kalau Sa’id belum menemukan seorang wanita pun yang mau menikah dengannya. Saat Abu membuka pintu, ternyata Sa’id datang bersama putrinya yang cantik mengenakan baju pengantin diiringi gadis-gadis pengiring membawakan bingkisan makanan dan buah-buahan. Abu terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia kelihatan gugup..
         “Mm..maaf Guru, bb..benarkah semua ini? Mengapa jadi ss..secepat ini?”
         Sa’id menjawab, “Bukankah telah aku katakan, bahwa seseorang yang tidur sendiri tanpa didampingi istri akan mudah diganggu setan?”
         Sementara Abu masih belum percaya dengan apa yang dialaminya, Sa’id melangkah mendekatinya lalu menjabat tangannnya. Hadirin yang ada di situ menyaksikan dengan khidmat. Sa’id menyebut nama Allah, memujiNya dan bershalawat pada Rasulullah SAW, lalu ia berkata pada hadirin, “Persaksikanlah wahai kaum muslimin, bahwa aku mengawinkan putriku dengan seorang lelaki bernama Abu dengan mas kawin tiga dirham tunai….”
         Kemudian Sa’id berdoa untuk keduanya agar mendapatkan ridho dari Allah. Setelah itu ia duduk memberikan nasehat, “Siapa saja yang menikahi seseorang semata-mata karena hartanya, maka Allah tidak akan menambahkannya kecuali kefakiran. Dan siapa saja yang menikahi seseorang semata-mata karena kecantikannya, maka Allah tidak akan menambahkannya kecuali kehinaan. Siapa saja yang menikahi seseorang karena agamanya, maka Allah akan memberikan kebarokahan pada keduanya”.
         “Wahai Abu, ia kini telah sah menjadi istrimu. Semoga Allah melimpahkan barokahNya pada kalian berdua”.
         Setelah beramah tamah Sa’id bersama hadirin beranjak pergi meninggalkan Abu bersama istrinya. Pengantin putri akhirnya tinggal di rumah suaminya. Hampir seminggu Abu menikmati keindahan surga dunia bersama istrinya.
         Demikianlah orang-orang yang beriman tidak akan mendapatkan keseimbangan dan arti kehidupan di dunia, kecuali dengan berharap keridhoan Allah dan Rasulullah SAW****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar