Sabtu, 08 Januari 2011

Tauhid??

Saking pentingnya bab Tauhid dalam rangka “mengimani” Allah sehingga para ulama menyusun “rumus” yang dijadikan maraji’ (rujukan) untuk mengenal bab tauhid, umumnya umat Islam (kalau di Indonesia misalnya warga NU) menganut manhaj aqidah “Asy’ariyah” yang dipelopori oleh Abu Hasan al-Asyari dan Abu Manshur al-Maturidi, di dalam mengenal Allah mereka melalui pendekatan shifat 20 (wujud, qidam, baqa..dst) sedangkan kita sebagai golongan ahli Sunnah (QH) lebih cenderung pada 3 konsep Tauhid yang dirumuskan oleh Syaikh Ibn Taimiyah; Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ wa Shifat.

3 konsep Tauhid tsb di dalam jokam senantiasa disebut saat syahadat khotbah jum’at yg kedua; wa asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah, fi Rububiyyatihi, wa Ilahiyyatihi wa asma’ihi wa shifatih.

Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah, mengimani Allah sebagai Rabb, yaitu; hanya Dialah (Allah) Tuhan sang pencipta, pemilik penguasa sekaligus pemelihara seluruh alam semesta, Dialah pemberi rezeki bagi setiap yang bernyawa, Dialah juga mengatur setiap perkara, dsb

Umumnya Manusia bahkan yang kafirpun mengimani keberadaan Allah (tentu dengan sebutan dan konsep yang berbeda-beda) sebagai Tuhan pencipta dan pemelihara alam semesta, hal ini sebagaimana yang difirmankanNya;

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka; Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Tentu sekali mereka akan menjawab; Allah, maka bagaimanakahh mereka dipalingkan dari jalan yang benar”. QS. Al-Ankabut : 61

Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka; Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air pada bumi sesudah matinya?Tentu mereka akan menjawab:Allah,katakanlah,segala puji bagi Allah ,tetapi kebanyakkan mereka tidaklah memahaminya”. QS. al-Ankabut : 63
Dan masih ada lagi pada surah al-Mukminun ayat 84 sehingga 89

Itulah jawaban orang-orang kafir dan Musyrik, menunjukkan bahwa sesungguhnya mereka mengakui atas Tauhid Rububiyyah Allah, ada fenomena yang menarik yang menjadi bukti nyata bahwa ternyata orang yang tidak percaya pada Tuhan (freethinker) juga sering marah kepada Tuhan (berarti mereka sebenarnya percaya “ada”nya Tuhan, sebagaimana yang ditulis dalam Tempo interaktif terbitan hari ini (Senin, 03 Januari 2011);

Menurut studi dalam Journal of Personality and Social Psychology edisi Januari, hampir dua dari tiga orang dilaporkan pernah marah kepada Tuhan. Mereka mayoritas marah karena menilai Tuhan bertanggung jawab atas kejadian-kejadian buruk dalam kehidupan mereka.Orang-orang yang dikabarkan lebih religius sulit marah kepada Tuhan saat hal-hal buruk menimpa mereka.

"Orang-orang yang lebih religius jarang marah. Mereka mungkin hanya berpikir Tuhan menyebabkan kejadian buruk, tetapi mereka menilai ada hikmah di balik kejadian buruk itu. Mereka mengatakan, 'Tuhan menguji saya agar saya lebih kuat lagi'," ujar Julie Exline, seorang psikolog dan profesor di Case Wester Reserve University in Cleveland yang juga menulis studi tersebut.

Studi yang dilakukan Exline menganalisis hasil lima studi sebelumnya yang menilai hubungan manusia dengan Tuhan, terutama saat-saat seseorang mengalami krisis pribadi atau sedang kecewa. Yang menarik dari studi tersebut, orang-orang yang tidak percaya Tuhan atau mempertanyakan keberadaan Tuhan, dikabarkan lebih marah kepada Tuhan ketimbang orang-orang yang percaya dengan Tuhan.
Itulah hakikatnya, akan tetapi sekalipun mereka mepercayai Tuhan, di sisi lain mereka telah mengingkari pada satu lagi bahagian tauhid yang lain, iaitu Tauhid Uluhiyah, apakah Tauhid Uluhiyah itu ?

Tauhid Ilahiyah/Uluhiyah

Tauhid Ilahiyah, mengimani Allah sebagai Ilah, yaitu; hanya Dialah (Allah) Tuhan berhak disembah, tempat meminta pertolongan dari segala kesulitan, tempat kita meratap dan berdoa sesuai dengan ayat yang kita baca dalam surah al-Fatihah;

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in; hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami mohon pertolongan. QS al-Fatihah : 4

Saking pentingnya pemahaman bab Tauhid Ilahiyah ini sehingga Rasulullah s.a.w menanamkannya kepada muridnya yang masih caberawit (kanak-kanak), yakni Ibnu Abbas r.a, beliau bersabda;

Wahai bocah, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka kamu akan menjumpaiNya di hadapanmu, ketika kamu meminta maka mintalah kepada Allah, dan ketika kamu mohon pertolongan maka memohonlah kepada Allah...dts.HR at-Tirmidzi

Mengapa begitu pentingnya Tauhid Ilahiyah ini untuk kita fahami ? jawabnya; sebab banyak para “penyembah Allah” yakni mereka yang menetapi agama samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam, dimana inti ajarannya adalah mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukannnya), namun kenyataannya dalam ibadah mereka banyak tercampur dengan kemusyrikan, bukan terhadap kedudukan Allah sebgai Rabb (Tuhan pencipta) akan tetapi yang mereka sekutukan adalah kedudukan Allah sebagai Ilah (Tuhan yang disembah).

Note : Alhamdulillah dalam nasehat Abah akhir2 ini telah "dimasukkan" bab Tauhid.

Di dalam nasehat Abah senantiasa diingatkan agar kita semua menghidup-hidupkan nasehat, baik yg didapuk jadi kiai ataupun rukyah, hendaklah memiliki mental; bisa memberi dan menerima nasehat, dan dalam ketaathan diberi batasan yaitu taat bil ma’ruf (selama tidak maksiat) hal ini penting sekali agar kita tidak terjerumus pada perbuatan taqlid buta yang mengarah pada kemusyrikan, sbgmn yg dipegang-teguh oleh sebagian dari orang2 NU dg prinsip; suwargo neroko nderek Gus Dur; ke surga atau ke neraka yang penting ikut Gus Dur. Subhanallah !

Adiy bin Hatim sebagai mantan Nasrani pernah “membantah” ayat yang sedang dibaca oleh Rasulullah s.a.w :
Mereka (Nasrani) menjadikan para Pendeta dan Rahib mereka sebagai persamaan Tuhan selain Allah. dst. QS. At-Taubah : 31

Adiy berkata wahai Rasulullah kami (orang Nasrani tidak) pernah menyembah mereka (Pendeta dan Rahib), kemudian beliau bertanya; bukankah ketika para Pendeta dan Rahib mengharaman perkara yang dihalalkan oleh Allah mereka turut mengharamkannya, dan ketika para Pendeta dan Rahib menghalalkan perkara yang diharamkan oleh Allah mereka turut menghalalkannya ? aku (Adiy) menjawab; ya, beliau bersabda; itulah penyembahan mereka Nasrani kepada para Pendeta dan Rahib. Tafsir at-Thabari : 12925

Kesimpulannya; Taat adalah kewajiban bagi setiap kita, namun taat dengan tanpa mempertimbangkan maksiat dan tidaknya, adalah “taqlid”, sedangkan “taqlid” jika sudah masuk dalam bab halal-haram itu termasuk syirik, dan syirik adalah dosa yang tidak terampuni.

Ya Allah kami mohon perlindungan kepadaMu dari perbuatan menyekutukanMu dengan sesuatu, yang kami ketahui (sadari) dan kami mohon ampun kepadaMu dari sesuatu(kemusyrikan) yang kami tidak ketahui (sadari)nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar